
Hoek, hoek ...
Muntahan Andra seperti nada dering Gadis setiap harinya, duda itu sudah hampir satu minggu tidak kerja, hanya Gadis yang ke kantor, kabar kehamilannya masih ditutupi, rencana akan Andra sampaikan di pertemuan keluarga sekalian.
Teh hangat Gadis sandingkan di pangkuannya, dia sangat baik, hanya duda ini yang lemas dan tersiksa, tapi percayalah bahwa duda ini tak mengeluh, dia dengan senang hati, begitu pun Gadis.
"Dokter bilang kalau suaminya mengalami kehamilan simpatik, itu artinya ada ikatan batin yang kuat antara ayah dan anak, terus suamintya sayang sekali pada istrinya, ehehehe." Gadis usap tengkuk Andra.
Wajah duda itu masih tetap tampan, walaupun pucat, Andra terlihat sangat muda dan mempesona di mata Gadis.
"Masih meragukan perasaanku?" Andra berujar sembari membaringkan kepalanya ke pangkuan Gadis, dia baru saja meneguk dua kali teh yang Gadis buatkan. "Kalian itu aku nantikan lama, Helen. Terima kasih sudah mau sabar, maaf ya."
Gadis usap pipi yang mulai kasar karena Andra tak cukuran, dia mengangguk, semalam setelah kabar kehamilannya sampai ke rumah ini, Andra membuka masalah rumah tangga lampau duda itu, bagaimana bisa Andra hanya menikah sebentar dan pisah, padahal tak ada kekurangan yang bisa Gadis temui dari semua alasan perpisahan yang tertulis di lembar akta cerai itu.
Kenyataan menyakitkan di mana Andra harus melihat Lisa yang kala itu menjadi istri sahnya justru berhubungan intim bersama sang kakak pertama, kak Hikam. Bahkan, mereka sampai punya anak yang digugurkan, demi keutuhan keluarga dan nama baik perusahaan kala itu sedang menanjak, Andra harus menanggung keburukan, merelakan namanya dicap buruk agar Lisa tetap pada karirnya, begitu pun Hikam.
"Jangan takut aku tinggalkan, Helen. Justru, aku takut setiap waktu kau pergi, hu-" mau muntah lagi, Gadis tawari buah segarnya, Andra bergeleng. "Itu punya anakku!"
Ah, sekarang sudah bisa menahan diri ketika mual ingin memainkan buah segar melimpah ruah itu, Andra ingin nanti anaknya penuh akan asupan dari Gadis.
"Setiap saat aku terbayang mereka berhubungan di depan mataku, melihat darah segar mengalir saat anak itu gugur, padahal aku tak mengapa bila harus mengurus dan menjadikan dia anakku, toh aku dan kak Hikam itu saudara, tapi keegoisan mereka membuat semuanya hancur, aku pergi ke psikolog setiap hari karena itu, sampai kakek memintaku menikah lagi," jelas Andra.
"Dari mana kakek Nuh memilihku?"
Andra sedikit mengangkat kepalanya, memperbaiki posisi. "Karena dia sering melihatmu patah hati, samping kantor itu tempat favoritmu kalau mau putus, kan? Aku pernah melihatmu marah-marah di sana, bersama kakek, dia pun ikut menertawakanmu, dari situ ide itu ada dan aku tidak keberatan."
__ADS_1
"Lalu, kenapa mau?"
Andra lantas melirik buah segar Gadis, Plak!
"Mesum ya!"
"Ahahahahah, tidak. Dengarkan aku!" Andra menahan Gadis untuk tetap duduk, dia nyaman di posisi ini bersama sang istri, bisa sekalian mengecup perut berisi anaknya itu. "Awalnya aku hanya coba-coba, tapi saat pertama kali kakek memintamu bertemu denganku, bagiku kau lucu, kesal padaku, tapi tetap berusaha ramah, ditawari uang banyak, tak serta merta menerima, masih bisa menjaga harga diri. Dan satu lagi ..." Andra memandang dalam mata Gadis. "Kau penyayang, tabiat seorang wanita di lihat dari bagaimana dia berlaku pada orang tuanya, melihatmu perhatian pada keduanya dan sangat hormat, berusaha penuh untuk mereka, aku yakin kau akan begitu pada suamimu, dan benar ... sekesal apapun, positive vibes mu tak pernah hilang, mau aku marah, yang ada kau malah duduk, bukan pergi, aku jadi jatuh cinta setiap hari, Helen."
Gadis menengadah, air matanya lancang turun, dia seka tapi terus mengalir, apa yang Andra katakan adalah benar, tak banyak pria yang bisa menghargai ketulusan wanita dan mau memandang jeli akan sifat asli wanita itu, tapi Andra melihatnya dengan detail, kalau sudah begini, masa depan tentu akan Gadis pertaruhkan bersama Andra.
Duda ini membuat dia merasakan nikmatnya menjadi anak, istri, dan sekarang mau menjadi ibu, bahkan dia tak perlu mual.
"Siap-siap, kita akan ke rumah utama, mereka harus tahu kalau akan ada cucu dariku, eheheheh ... mama pasti suka!"
"Ndra ... yakin kamu mau lama-lama ketemu mereka?"
***
Bapak dan ibu berjaga di rumah karena Sandro ujian, hanya mereka berdua yang pergi ke rumah utama, Andra memanggil supirnya karena tak mungkin dalam kondisi lemah, dia mengemudi jauh.
Kedatangannya bersama Gadis sempat membuat semua orang tercengang, pasalnya baru kali ini melihat wajah Andra pucat lagi setelah masa kelam itu.
"Bagaimana kabar, Oma?"
Ibunya menekuk kedua alis, belum berkata apa-apa, baru bersalaman, Andra sudah menyapanya dengan nama lain.
__ADS_1
"Oma siapa?"
Lisa berdiri. "Mungkin Andra membahasakan itu karena kehamilan ku, Tante. Kan, aku hamil anak-"
"Oma dari anakku dan Gadis, Ma." potong Andra, dia menarik pinggang Gadis mendekat. "Gadis sedang mengandung cucu kalian!"
Kakek Nuh dan papa langsung berhambur mendekat, mata mereka berkaca-kaca, itu artinya Andra telah sepenuhnya sembuh dari luka berdarah masa lalu itu.
"Aku akan menjadi Buyut?" kakek Nuh menangkup wajah Andra, bergantian dengan mama dan papa mengecup kening Andra, lalu memeluk Gadis.
"Iya, benar. Kakek akan menjadi Buyut, ini cicit dariku!" Andra berucap bangga. "Kandungan Gadis sudah enam minggu, ehehehe, jadi aku yang ngidam, mual muntah sepanjang hari, kecuali dekat dia." Andra usap-usap perut Gadis yang masih rata.
Mama tak kuasa menahan air matanya, dia peluk Andra yang selama ini menjauh dari keluarga, akhirnya si bontot kembali dengan jati diri yang telah lama hilang.
Gana menepuk bahu Hikam, mengajak kakak tertuanya itu memberi ucapan selamat pada Andra, adik terkecil mereka, masa lalu sudah pergi, ajaknya menyambut masa depan.
Dengan senang hati Andra balas ucapan dan dekapan selamat itu, dia tak perlu takut, ada Gadis dan anaknya yang selalu bersama.
"Selamat ya, aku doa-"
Hoek!
Belum selesai Lisa mau memberi selamat, Andra mual dan nyaris muntah di depan wanita itu, Gadis sampai tak enak, dia ikuti Andra ke wastafel dekat ruang makan, dudanya kembali mengeluarkan semua makanan yang dia suapkan.
"Gadis, ajak Andra ke kamarnya, nanti kami susul ke sana, kita ngobrol bareng!" mama paling antusias.
__ADS_1
Lisa kepalkan kedua tangannya, di sini tak ada yang meliriknya sama sekali, semua soal Gadis dan Gadis.