
Kondisi Andra sampai pagi ini belum membaik, duda itu justru semakin pucat karena apapun yang masuk ke mulutnya langsung dia muntahkan pagi ini.
Gadis pijat tengkuk Andra, mengoleskan minyak hangat ke dada dan hidung pria itu, bahkan bauh segarnya sampai ikut panas karena efek minyat di hidung Andra.
"Kita ke dokter ya?"
"Tidak mau ketemu orang!"
"Tapi, kalau tidak diobati, kapan sembuhnya?" Gadis sudah tak tahan ini, pucuk ranumnya perih, yang bermain bukan bayi, jelas giginya ada yang menggores. "Ke dokter atau panggil dokternya ke rumah, oke?"
Andra masih menolaknya, dia tak peduli Gadis mengomel apa saja, yang dia mau saat ini hanyalah bersama Gadis, hanya itu, dia merasa lebih baik kalau Gadis ada di dekatnya, sekali Gadis pergi, Andra bisa merengek seperti balita minta mainan, bahkan berlaku saat perut Gadis sakit.
Jam kerja sudah hampir terlambat, dudanya ini belum mau ditinggal atau punya pilihan untuk kembali cuti, Andra tak mau membahasnya, membuat Gadis kelimpungan, mau tak mau dia meminta izin pada kakek Nuh, dia pakai ponsel Andra di sini, paling tidak suaminya tak dikira mangkir dalam urusan Lisa atau lainnya.
"Andra sudah baikan?"
Gadis bergeleng. "Baru saja dia muntah banyak, Bu. Mau aku bawa ke dokter, dia tidak mau, ini saja kalau aku kembali, dia pasti ngomel."
Ibu mengusap lengan Gadis, anaknya itu terlihat sangat lelah atau mungkin dia tak bisa tidur dengan baik semalam.
Diam-diam ibunya menghubungi dokter keluarga yang sudah pernah membantunya, itupun dia dapatkan nomornya dari Andra setelah anak muda itu menikah.
Tak selang lama, dokter langganan itu pun tiba, ibu antar ke kamar utama bangunan besar ini, Gadis membuka pintunya lebar, mempersilahkan, beruntung dia belum buka warung.
Sementara Andra di ranjang sudah mau marah, mengomel karena Gadis meninggalkannya bersama dokter yang membuat dia semakin mual.
"Saya beri resepnya, tapi saya sarankan Anda ke dokter kandungan, sepertinya Tuan Andra terkena kehamilan simpatik, Anda yang hamil, sedang yang mengidam itu Tuan Andra," jelas dokter itu.
Gadis dan ibu menganga lebar, mana tahu kalau bisa hamil sekarang, sumpah demi apapun Gadis tak merasakan ada yang janggal pada dirinya, tanda kehamilan yang mudah dikenali itu sama sekali tak dia rasakan.
__ADS_1
"Bu, bagaimana?"
"Besok atau nanti sore Ibu anter ke dokter kandungan, siapa tahu memang kamu hamil dan Andra ngidam, Ibu seneng banget misal itu benar, Dis. Kamu bakal jadi ibu, kebayang Ibu jadi nenek loh, Dis. Bilang sama Andra baik-baik biar dia paham, takutnya sensi begini dia bisa salah paham!"
Gadis mengangguk, dia lantas kembali ke kamar, sebenarnya dia punya alat tes kehamilan, tapi ini sudah kesekian kalinya dia buang air, pasti kurang akurat.
Gadis menepis pikirannya yang buruk, tidak mungkin Andra ngidam karena hamilnya Lisa, dudanya itu anak baik.
"Helen, lagi!"
Gadis merangkak naik, tahu apa yang dimau dudanya, tapi sebelum dia berikan, pesan dokter yang belum Andra mengerti akan Gadis ulangi lagi agar tak ada dusta.
Gadis usap pipi pucat Andra, dia tersenyum manis hingga ingin membuat Andra memakannya, tapi mana bisa dengan tubuh yang lemas seperti ini, jelas dia pasif saja tak akan kuat.
"Ndra ... tadi, dokter bilang kalau kamu sakit karena kehamilan simpatik, jadi ada dugaan aku hamil sekarang, dan kamu yang kebagian ngidamnya, jadi-" Gadis menjedanya, antara bahagia dan takut membuat kecewa. "-jadi, nanti aku ke dokter kandungan sama ibu ya, buat periksa beneran ada anak kita di sini atau enggak, boleh?"
Harus lewat rasa sakit yang begitu dahsyat baru dia mendapatkan hadiah besar ini, istri dan calon anaknya.
"Kamu lagi lemah, jadi kamu di rumah saja sama bapak dan Sandro, aku sama ibu, boleh ya?"
Andra mengangguk, dia tak mau air matanya dilihat Gadis, duda itu lantas memeluk Gadis dan membuat wajahnya tenggelam di belahan buah segar kesukaannya, pusing dan mual tak akan ada artinya bila kehamilan itu hadiah untuknya, itu kebahagiaan yang tak bisa dia lukiskan.
Andra turunkan wajahnya ke depan perut rata itu, pelan dan lembut dia tekan hidung juga bibirnya yang pucat.
My Baby love...
Gadis biarkan Andra terlelap, sebelum akhirnya dia bersiap-siap untuk pergi bersama ibunya ke rumah sakit langganan keluarga suaminya itu.
Gadis menuruti apa pesan Andra, semua tentang Gadis sudah di cover penuh di rumah sakit itu, tapi untuk kebenaran Gadis hamil atau tidak, Andra minta hanya pria itu yang tahu diawal diantara keluarga Andra lainnya.
__ADS_1
"Sayang... Ndra, aku berangkat sama ibu ya, bapak sama Sandro ada di bawah, kalau butuh, kamu bisa telfon mereka," ujar Gadis sembari memeluk kepala dudanya.
Ya, dia masih takut kalau benar hamil dan punya anak, maka dia akan ditinggalkan oleh Andra, tapi dia kesampingkan ini dulu, bila benar ada anak di rahimnya, anak itu harus sehat dan tak boleh tertekan.
"Helen, hati-hati."
"Iya, aku kabari kalau sampai sana, itu wadahnya kalau muntah."
Andra mengangguk, dia ulas senyum tampannya, disaat seperti ini dia lemah dan tak bisa mengantar Gadis ke dokter, tapi bila itu meringankan masa kehamilan istrinya, Andra rela sembilan bulan lemas.
***
Harap-harap cemas Gadis melihat monitor gelap itu, ibunya sudah kegirangan, tapi Gadis belum juga paham.
"Satu minggu lagi ke sini ya, ini sudah ada kantong janinnya, tapi dia masih sembunyi, ehehehe, kontrol berikutnya bisa lihat lebih jelas dedek bayinya, saya ucapkan selamat atas kehamilannya Nyonya Andra," ujar dokter berwajah lembut itu.
Ibu langsung memeluk Gadis, sementara Gadis linglung, namanya Gadis, bukan Andra.
"Hush, kan ya nama suami kamu, jadi Bu Andra sekarang!"
Ya ampun, Gadis baru menitihkan air mata, ada buah hatinya dia dalam sini, sedang tumbuh dan berjuang.
"Saya beneran lagi hamil, Dok?" dokter itu mengangguk. "Tapi, kenapa suami saya yang mual muntah?"
"Wah, enak itu, suaminya yang ngidam, namanya kehamilan simpatik, tuan Andra pasti senang kalau Anda hamil sekarang, tuan Andra dari dulu pengertian sekali sama istrinya," jelas dokter itu.
Eh, istri yang mana? Gadis kesampingkan itu dulu, yang penting setelah ini dia pulang membawa kabar bahagia bagi suaminya.
Gadis meminta ibu berjanji agar tak memberitahu bapak sebelum Andra dulu, wanita itu pun setuju, mereka tak sabar mengejutkan duda di rumah besar itu, mau sekalian jantung Andra copot.
__ADS_1