
"Bu, mau masak apa?" Gadis tampak segar selepas mandi dan memakai baju yang tentunya sesuai pilihan Andra lewat tangan kanan pria itu. "Aku bisa bantuin ini, Andra pulang cepat katanya, tapi tidak tahu jam berapa, daritadi tidak datang-datang," imbuhnya.
Ibu mengintip ke depan, memang belum ada tanda-tanda menantunya itu tiba, padahal sudah mulai gelap.
"Sudah, kamu jangan ribut masak di sini, buat masakan saja di rumah sana, kasihan kalau nak Andra pulang, kamu masih di sini, belum buat apa-apa!"
"Aku nungguin dia kok, kalau asal masak, nanti dia tidak suka, harus tanya." Gadis teringat akan ponsel Andra yang rusak di tangan Sandro. "Aku juga mau bilang masalah hapenya itu, Sandro bisa banget rusakin, mana mahal lagi, bilang apa nanti Gadis ke Andra?"
"Tadi sudah Ibu tegur sama bapak, tapi ya bagaiman namanya rusak karena terlalu lama dan sering dipakai, semoga nak Andra tidak marah-"
Brum,
Ibu segera menepuk dan menarik tangan Gadis, itu jelas suara mobil Andra, ibu dorong Gadis ke luar rumahnya untuk menyambut kedatangan Andra.
Pria itu tidak datang sendirian, walau tadi pagi katanya mengemudi sendiri, dia bersama tangan kanannya, Gio.
Gadis sambut Andra dengan senyuman yang lebar, dia bahkan meraih tangan kanan Andra dan dia kecup.
"Tuan, saya harus menunggu di mana?" tanya Gio yang merasa tak nyaman, di depannya bisa dilihat jelas bagaimana Andra menatap sendu Gadis.
Andra berdecak, "Masuk dan tunggu aku di ruang kerja, aku urus istriku dulu!"
"Baik, Tuan."
Gio setengah berlari menuju ruang kerja, melewati pemilik rumah yang masih tercengang.
"Ndra, mau aku masakin apa?"
Kan, kalau di rumah langsung meluk, beda kalau di kantor, sok jual mahal, tidak kenal.
Andra angkat kepalanya dari bahu Gadis, pemandangan yang tak luput dari ibu, wanita itu mengintip di balik tirai kelabu yang bertepatan dengan teras rumah utama.
"Masak apa saja yang enak, tapi sebelum itu, ikut aku!" Andra gendong tanpa izin.
Gadis memekik terkejut, tubuhnya melayang seketika, hampir dia jatuh karena tidak siap.
Kamar?
Mati aku, Gadis belum menyembunyikan obat penunda kehamilan yang tadi dia beli, dia pun belum meminumnya.
Tapi, kalau Andra membawa dia ke kamar, artinya ada hal lebih yang Andra inginkan.
Bruk!
"Ndra, kamu tid-"
"Aku mau sekarang!" mengendus leher wangi Gadis.
"Tapi, kamu mau kerja itu sama Gio, ter-"
"Aku bilang mau sekarang, ya sekarang, jangan ditolak!"
Deg,
Sorot mata Andra berbeda dari sebelumnya, bahkan berbeda dari malam lalu saat menginginkan Gadis. Kali ini lebih tajam, bahkan cengkraman Andra lebih kasar.
"Ndra-"
"Layani aku, itu tugasmu, kan?" Dia buka paksa baju Gadis. "Perjanjian itu sudah jelas, jadi jangan melanggarnya!"
"Ndra, kamu kenapa?" berusaha mempertahankan diri, membahas perjanjian membuat hatinya berdenyut sakit. "Ndra, aku salah apa sampai kamu bahas itu?"
Andra bangkit, duduk di samping Gadis, wajah itu memerah, menunjukkan kalau dia tengah emosi.
Apa aku jadi janda sekarang?
Gadis pakai dan perbaiki penampilannya, dia berdiri di depan Andra, menatap penuh permohonan pada pria itu.
"Mana tasmu?" Andra mengedarkan matanya, mencari tas kerja Gadis.
"Ada di sana, kenapa?"
"Berikan dan jangan membuka apapun sebelum kamu berikan ke aku!" titahnya.
Sungguh, tubuh Gadis gemetaran hebat, dia seperti masuk ke kandang singa. Tidak terhitung bantuan dan bagaimana keluarga Andra menerimanya, tapi dia nekat membeli pil penunda itu dengan alasan yang mungkin sulit untuk Andra terima, bahkan keluarganya akan terkejut atas keberanian Gadis.
__ADS_1
"Ambil, Helen!" ulangnya sedikit meninggikan suara.
"Iya." Gadis segera berlari mengambil tas kerjanya, kali ini dia pasti mendapatkan hukuman, Andra akan marah dan tidak pernah dia ketahui marahnya seperti apa.
"Helen!"
Gadis tersentak, dia kembali dengan tangan basah, sampai membekas di tas kulit itu.
Gadis serahkan tas kerjanya, dia berani bersumpah kalau belum ada satu benda yang dia keluarkan dari tas itu, bahkan obat sialannya.
"Ndra, kam-"
"Diam, kita lihat apa yang kamu lakukan di belakangku!"
Mati aku!
Andra membongkar isi tas itu, dia keluarkan semua hingga tak bersisa, sampai tangannya mengangkat tinggi dan nafasnya memburu, bungkusan kecil bertuliskan KB.
Gadis sontak bersimpuh di kaki Andra, dia tidak berani melihat wajah suaminya.
"Aku tidak tahu tujuan istriku membeli ini untuk apa, tapi aku marah padanya malam ini, aku marah," ujar Andra bersuara rendah.
"Ndra, aku bisa jelasin!"
Tidak, Andra remat obat itu, dia lempar sembarangan dan berdiri, menyingkirkan tangan Gadis.
"Ndra-"
Brak!
Andra kunci dari luar, dia tak akan membiarkan Gadis ke luar dan tidak juga masuk ke kamar itu.
***
Gio terkejut mendengar penuturan Andra, dia yakin setelah ini tidak akan mengurus masalah Arya saja, melainkan ditambah Gadis.
"Apa nona bilang alasannya, Tuan?"
"Tidak, aku tidak mau mendengarnya, apa itu penting?" balas Andra, dia pejamkan matanya berulang kali, ingin kembali ke kamar, tapi dia harus tahan semua ini.
Apa!
Andra membuka matanya perlahan, bertanya pada dirinya yang lamban memberi jawaban, rasa itu seolah mati baginya, sejak Lisa meninggalkannya bersama pria sialan itu, pria yang sekarang dia benci.
"Tuan, men-"
"Aku memang tidak mencintainya, lucu sekali kalau aku mencintainya dalam waktu singkat, kau tahu masa laluku, Gi. Itu jelas tak mudah!" potongnya.
"Tapi, maafkan saya untuk selanjutnya, Tuan." dia diam sejenak, menata kalimatnya. "Apa Tuan melakukan hubungan ranjang dengan nona sampai nona berinisiatif membeli obat itu?"
Andra mengangguk, dia bahkan melakukannya berulang kali.
"Tuan, bagaimana bisa Anda melakukan itu tanpa cinta dan sekarang mengaku tidak mencintai nona?"
"Ck, apa itu butuh cinta, bukannya di luar sana banyak yang melakukannya hanya dengan nafsu saja, aku rasa tidak masalah, kan?"
Gadis melemah mendengarkan jawaban itu, sesak dan ingin menjerit tak kuasa menahan sakit.
Pria itu hanya menjadikan dia pelampiasan, jejak masa lalu yang tak bisa Andra balas pada Lisa, kini harus Gadis yang merasakannya.
Sumpah, demi apapun ini sakit.
"Jahaaaaatttt!"
Bug, bug, bug ....
Slink,
Andra hidupkan lampu kamar utama, dia baru saja selesai dengan Gio, melangkah mendekat ke sisi ranjang, menepuk pelan pipi Gadis.
"Jahat, kamu jahat, kamu cuman manfaatin aku, kamu jahat!" ujar Gadis dengan mata terpejam, dia bahkan berada di balik selimut. "Aku mau pergi, aku tidak mau ada di sin-"
Andra bungkam bibir candu itu, dia angkat sedikit kepala Gadis, mendecapnya hingga Gadis membuka mata yang tampak sembab.
Diam dan perlahan dia mengikuti permainan suaminya, gerakan bibir Andra dan memberikan ruang bagi lidah Andra membelit lidahnya, mengabsen semua isi rongga mulut.
__ADS_1
Air matanya menetes mengikuti mimpi yang tersisa sambil mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau terbangun?" tanya Andra berbisik.
Gadis bingung mau menjawab apa, dia sedang ada di kamar dan tidur. Dia lantas memeriksa bajunya, warna baju yang berbeda dari yang dia kenakan tadi.
Bagaimana bisa?
"Hei, kenapa?" Andra takup lagi wajah Gadis, dia pertemukan kening mereka. "Aku pulang terlambat, apa marah?"
"Tid-tidak, tapi bukannya kamu pulang cep-cepat tadi?" Gadis ingat dia bersama ibunya berlari ke teras.
Andra bergeleng, "Memang ada rencana, tapi ada pekerjaan mendadak. Siapa yang jahat?"
Gadis bergeleng, dia lantas memeluk Andra, menyembunyikan wajahnya ke balik jas Andra yang masih menempel sempurna.
Dosa, dia melakukan kesalahan yang besar, mimpinya seolah menggambarkan apa yang akan terjadi bila Andra tahu dia membeli pil penunda kehamilan itu.
Bukan soal Andra marah, tapi dia tak kuasa mendengar dengungan buruk itu, Andra tak menyukainya meskipun sudah melakukan hubungan suami istri berulang kali.
"Bisa bantu aku mandi, Helen?"
"Iya, aku bantu, kamu tunggu sini ya!"
"Hem, terima kasih, Helen."
Gadis mengangguk, dia lantas turun dan bergegas menyiapkan air hangat untuk Andra.
Dia hanya bermimpi, dia masih aman bersama Andra, dia tak mendengar pernyataan menyakitkan itu.
Eh, kenapa dia sakit?
Gadis percepat persiapannya, kalau Andra mandi, dia bisa mengambil dan membuang bungkusan obat sialan itu tanpa Andra tahu sebelumnya.
"Ndra-" tidak bisa bergerak.
"Airnya sudah?"
"Iya, sudah. Kamu buruan mandi, aku tunggu di ruang ganti ya, ayo!"
"Tidak, kamu di sini, temani aku mandi, Helen!" Andra dudukkan Gadis ke wastafel, mengunci kamar mandi itu dan menyimpan kunci ke saku jasnya yang baru terlepas. "Jangan melihat apapun selain aku di sini!"
"Iy-iya, Ndra."
Habis dia setelah ini, mimpi itu akan jadi kenyataan, nyatanya Andra tak mengizinkannya jauh sedetik pun, sedang bila Andra ke ruang ganti dan tas itu terbuka, tak akan ada harapan malam tenang setelah itu.
Byur, byur ....
"Kamu sudah basah, jadi ikut mandi lagi, sini!" Andra ulurkan tangannya, mau tidak mau harus Gadis terima. "Tidak dingin, kan?" Andra peluk Gadis yang duduk di depannya.
Gadis mengangguk kikuk, pikirannya sudah tidak karuan, dia ingin membuang obat itu, tapi dia juga butuh, antara takut dan ragu.
"Angkat sedikit, Helen!" pinta Andra mulai berkuasa atas Gadis.
Gadis berpegangan kuat pada sisi bath up, gelombang air telah dibuat Andra atas penyatuan di bawah sana.
Seharusnya dia minum obat itu tadi, ini akan lebih buruk dari mimpi yang menyapanya bila Andra terus menghujam dan meminta hak suami padanya.
"Helen," panggilnya.
"Iy-iya?"
"Buang obat itu, aku benci!"
Gadis buka kedua matanya yang terpejam nikmat.
"Ob-obat?" ulangnya setengah sadar, Andra sudah mengikis kesadarannya.
"Hem, obat di tasmu, buang setelah ini, aku tidak suka kamu menyentuh atau meminumnya, buang itu, Helen!" bisiknya memerintah.
Heuh?
Gadis lebarkan matanya, dia menoleh pada Andra yang bergerak pelan, ada seringai di wajah Andra, sebelum akhirnya bibir Andra kembali menciumi punggung polosnya itu.
"Ndra, kamu-"
__ADS_1
"Buang itu, Helen, buang setelah ini!" potongnya, lalu dia percepat permainannya hingga tak sanggup Gadis menjawab.