
"Sssssshhh, sakit." Gadis miringkan tubuhnya, masih tersisa rasa sakit di bawah sana.
Baru saja, ular besar itu merasukinya, bergerak lincah tanpa peduli dia kesakitan atau tidak, tapi dia juga menikmati pada akhirnya
Sadar, Dis!
Tangan Andra kembali terulur, menarik pinggang Gadis hingga punggung itu menempel padanya, dibiarkan tubuh Gadis polos di bawah selimut.
Senyum di bibir Andra terus terlukis, tetesan merah disaat penyatuan tadi, membuatnya merasa bahagia, Gadis adalah miliknya, dia memiliki Gadis seutuhnya, bahkan dia yang pertama menyentuh Gadis.
"Aduh, aduh, sakit ... jangan digeser sembarangan, sakit tahu!" protes Gadis, seenaknya saja memindahkan kakinya yang terkatup rapat, dibuka sedikit sakit.
"Semakin sakit kalau tidak dibiasakan, ikut aku mandi!"
"Tidak mau!" tolak Gadis, dia remat selimutnya, bayangan mandi plus-plus ada di depan mata, intinya kan masih sakit. "Tidak mau, Ndra!"
Andra tidak menyerah, lebih tepatnya tak menerima penolakan dari siapa saja, termasuk Gadis.
Begini kalau nikah sama duda, sudah ahli, jadi coblos terus, kan masih sakit!
Tubuh Gadis bersama selimut itu dibuat melayang, sebelum masuk ke kamar mandi, Andra tarik dan lempar selimut itu sembarangan hingga pahatan indah dari istrinya bisa dia lihat kembali, membuncahkan gairah yang sempat meredup.
"Apa, masih sakit, jangan!"
"Eheheheheh, tapi aku mau, Helen." mengusel leher Gadis.
"Nanti-" persetan, sudah jawab saja, menolak nanti dibilang istri durhaka. "Nanti lagi, sekarang mandi, Ndra. Please!"
Kedipan mata Gadis berhasil membuat duda muda ini luluh, dia turunkan Gadis perlahan ke bath up, menuangkan sabun, lalu dia mandi juga di bawah shower.
Cepat-cepat Gadis selesaikan mandinya, air hangat membuat sakitnya sedikit mereda.
Sumpah, begini rasanya orang malam pertama, Gadis jadi bertanya-tanya bagi mereka yang bisa bilang tiga kali setelah menikah, dia saja baru sekali sudah angkat tangan, sakitnya seperti ini.
Apa punya Andra kebesaran?
"Aaaarrrrrgghhhhh!"
Andra bergegas memakai handuknya, menghampiri Gadis yang berteriak dengan banyak busa di wajah.
"Hei, kenapa?" Andra takup wajah itu.
Apa kalau aku sudah tidak perawan, dia bakal ninggalin aku?
Gadis hanyut dalam lamunannya hingga tanpa dia sadar, kepalanya jatuh ke bahu Andra, dan itu membuat Andra meleleh akan sikap Gadis.
Sungguh, Gadis adalah yang pertama kali dia sentuh, sekalipun ada Lisa waktu itu, tidak ada malam pertama bagi keduanya dulu.
Andra pejamkan matanya, dia tidak mau mengingat hal itu lagi, hatinya sakit dan ngilu bila hal itu direka ulang, tapi dia tak menampik kenyataan bila dulu dia sempat jatuh hati pada Lisa.
"Mmmmmppttt, Ndra!" Gadis pukul Andra, dia hampir mati dicium seperti ini.
Andra terkekeh, "Selesaikan mandimu, atau aku tidak bisa menahan diri!"
Dasar duda!
Tawa Andra meledak mendengar gerutuan Gadis, sengaja dia berdiri lama di depan pintu, ingin tahu apa yang Gadis katakan saat dia tidak ada.
Bisa gila dia dibuat Gadis seperti ini, dia patut bersyukur tak ada pria yang mau bersama Gadis sebelum menikah dengannya, sebab dia bisa mendapatkan Gadis secara utuh.
Setelah ritual membersihkan dirinya selesai, Gadis keringkan rambutnya, dia memakai baju yang sudah tersedia di lemari, tentunya Andra yang memilihkan, pria itu ingin sekali Gadis tampil indah di rumah saat bersamanya.
__ADS_1
"Mau ke mana?" heran, tidak mungkin di rumah memakai baju bagus.
"Ke rumah mama, kamu mau ke sana katanya kemarin, iya kan?"
"Tapi, kamu bilang seharian ini di rumah, kok-"
"Kamu mau aku ajak tidur lagi?"
Pias, wajah Gadis berubah pias.
"Tidak, iya aku dandan bentar, kamu tunggu di depan!"
Andra lipat bibirnya menahan tawa, dia melangkah ke luar lebih dulu sambil bergeleng, Gadis membuatnya menjadi pria sejati hari ini.
Kesempatan tak datang dua kali, Gadis bisa bertemu dengan kedua orang tua dan keluarga Andra di sana, siapa tahu ada yang bisa melegakan hatinya, mencari alasan kenapa sampai Andra berpisah dari Lisa, padahal wanita itu terkenal sangat cantik, Gadis jangan disamakan.
Tak menunggu waktu lama, Gadis ke luar kamar dengan penampilan yang sangat manis di mata Andra, sudut bibirnya menarik sebuah senyuman, sedang Gadis berusaha terlihat baik-baik saja.
"Di sana jangan banyak pindah tempat duduk ya, Ndra ...."
"Kenapa?"
"Masih sakit itunya," jawab Gadis sambil menahan malu, pipinya sampai merah.
Ah, Andra jadi ingin menggendong Gadis saja.
Tapi, tidak, dia harus kembali ke penampilan dingin dan acuhnya, di rumah itu banyak kilasan memori buruk yang sangat dia benci.
***
Gadis tersingkap melihat beberapa orang menyambutnya, ingatannya tertarik pada surat perjanjian pernikahan bersama Andra kala itu.
"Ndra, mau ke mana?"
Andra menoleh membawa lirikan tak ramahnya, berbeda dari Andra yang tadi meminta jatah padanya.
Hak suami, Dis!
"Ndra-"
"Jaga sikapmu di sini!"
Glek,
Gadis remat roknya, sepertinya dia mau masuk ke lubang singa setelah ini, mereka yang menyambut dengan senyuman, belum tentu benar-benar menerimanya utuh.
"Ma, Pa ... maaf baru datang, terlambat ya?" cengar-cengir menyapa kedua mertuanya, Andra sudah menghilang entah ke mana.
Pasti aku jadi menantu yang terbuang ini, Andra!
Peluk?
Gadis gelagapan ketika tubuhnya ditarik mama mertua untuk mendapatkan sebuah pelukan, bahkan dicium sayang. Papa mertua pun mengusak kepala Gadis.
Kalau seperti ini, kenapa sampai menantunya yang dulu tidak betah?
Otak detektif Gadis bekerja kembali, dia sangat dibuat penasaran.
"Kami semua nunggu kamu, Mama sudah mau marah sama Andra kalau tidak mengajak kamu ke sini, kan banyak keluarga yang belum pulang. Bagaimana malam pertama kalian, hem?"
Eh, mama mertua langsung to the point.
__ADS_1
Gadis senyum-senyum, sontak membuat kedua mertuanya berbinar-binar, banyak mengucap harapan.
"Pak Nuh, eh maksud Gadis itu kakek tidak ke sini, Ma?"
Mama berputar mencarinya, "Tadi sih ada, ngobrol kali sama Andra. Kita duduk sana saja, ada kakaknya Andra, kemarin si Andra belum mau kenalin kamu kan, sekarang Mama yang kenalin!"
Mungkin ini yang membuat istri Andra tak suka, ada saudara yang berhati busuk atau dengki padanya, begitu pikir Gadis.
Gana berdiri lebih dulu, mengulurkan tangannya pada Gadis, lalu mempersilakan Gadis duduk di kursi empuk yang tadi dia duduki.
"Tidak apa, coba saja, ini cocok untuk yang baru bekerja keras menjadi pengantin, ehehehehe," ujar Gana.
Bekerja keras kepalamu!
Tidak, Gana baik pada Gadis.
Pandangan Gadis beradu pada sosok tertua dari tiga bersaudara itu, ada Hikam, dia yang terlihat selalu serius di kantor, jarang sekali tersenyum pada karyawan.
"Halo, Kak." Gadis ulas senyum, dia harus memposisikan dirinya sebagai keluarga di sini.
Hikam mengangguk, dia memang tidak banyak bicara, tapi berjalan mendekat pada Gadis sembari menawarkan melon potong yang manis dan segar.
Zonk!
Semua baik di sini, lalu kenapa bisa berpisah?
Berpengalaman berulang kali putus dari pasangan membuat Gadis terbiasa melatih sadar diri, mencari kesalahan, tidak tahunya terbawa sampai menikah dengan Andra.
Dia mau pernikahannya menjadi jelas nantinya, bukan karena saling membutuhkan diawal saja.
"Helen, ayo pulang!" Andra tarik tangan Gadis, baru makan dua potong melon.
Mama mendekat, "Ndra, kalian kan baru datang, di sini sebentar kenapa, Ndra ... Gadis sama kamu belum makan masakan Mama loh!"
"Aku mau pulang, Helen bisa masak di rumah," ujar Andra menolak.
Tangan Gadis kembali dia tarik, wadah melon itu masih ada di tangan kanan Gadis, beruntung Hikam segera maju dan merebutnya, kalau tidak, bisa jatuh berceceran.
Slink,
Tatapan tajam menukik Andra lemparkan pada kakak tertuanya itu. Sejenak berubah menjadi hening, tak ada yang berani berbicara di sini, bisa Gadis lihat wajah Andra mengeras saat menatap Hikam, terlebih lagi Gadis berada diantara mereka saat ini.
"Pulang!"
"Ndra-" Gadis hampir jatuh karena tarikan Andra.
Berulang kali Gadis menoleh, tak ada yang berusaha mencegah kepergiannya bersama Andra meskipun tahu sikap Andra tidak sopan di sini.
Brak!
Andra banting pintu mobil itu, bergegas memutar kemudinya, pulang dan pulang, itu yang dia mau, Gadis hanya bisa diam kikuk di sampingnya, takut sendiri.
Tak ada yang Andra katakan, pria itu diam sampai mereka ada di depan rumah.
"Ndra, kamu ken-"
"Masuk, Helen!"
Iya, Gadis bergegas turun dan langsung mengejar langkah suaminya, sempat menoleh ke rumah sebelah, beruntung kedua orang tuanya sedang asik menonton tv.
"Ndra, kenapa?" Gadis beranikan diri mendekat, dia takup wajah mengeras itu.
__ADS_1