
Rambut Gadis terburai begitu saja, semakin menambah kecantikan yang Andra puja, baju yang dibelinya itu tak berguna lagi, terbuang saat Gadis baru memakainya, sudah dijamin kalau baju apa saja yang melekat di tubuh Gadis tak akan ada pengaruhnya, gairah duda ini akan tetap sama, justru membuat Gadis semakin tersentak karena hujaman nikmatnya.
Gila, mereka ke luar dari pertahanan yang ada seolah yang dikatakan di bibir tak bisa sama dengan hati mereka.
Gadis yang takut ditinggal Andra menjadi janda dan mungkin kehilangan saat hamil, seakan tak peduli dengan semua itu, bergelung berulang kali menuruti keinginan Andra yang tak mau berhenti.
Andra pun semakin merasa memiliki Gadis meskipun sesekali dia menatap Gadis dingin dan tak pernah memberi Gadis pilihan, harus menurut padanya, terkesan hanya memanfaatkan Gadis, padahal dia jatuh cinta pada Gadis sudah lama.
"Hhh... hhh... hhh..." Andra ambruk dalam dekapan Gadis, dia kecupi bahu polos berkeringat itu. "Seksi sekali."
Gadis tak menjawab, dia mau tidur, badannya terasa pegal semua, mau patah kalau Andra izinkan, dibalik seperti baling-baling bambu seolah lupa kalau Gadis ini lebih tua umurnya.
"Ndraaaa, ngantuk!" tak lama dia menjerit, Andra menggigit telinganya. "Auh, kamu ini, mandi duluan sana!"
Andra terkekeh, dia berganti ke samping Gadis, bukannya menjauh, Andra justru menarik pinggang Gadis semakin dekat agar bisa memeluknya, menenggelamkan wajahnya ke leher Gadis, kedua tangannya masih berpegang teguh pada dua bagian besar empuk itu, tidak mau pergi sama sekali, takut kempes mungkin.
Kantuk mendera Gadis sangat hebat, dia tak peduli duda satu itu memainkan dadanya seperti apa, dia sudah terlelap lebih dulu, dengkuran halusnya terdengar menjadi radio alami Andra, dia belum mau berhenti sampai akhirnya tertidur seperti bayi yang tengah menyusu pada ibunya.
Keesokan harinya, Gadis menggeliat kecil, meringis perih karena bagian dadanya ada yang terluka, sebelum bangun pasti duda itu menggigit asal, jadinya perih, kalau begini dia akan kesusahan memakai bra untuk bekerja.
"Dis," panggil ibu.
Gadis mendongak merapatkan selimutnya, Andra tak ada di kamar ini, lalu ibunya bisa mengetuk kamarnya, jadi ibunya ada di rumah ini, di bangunan utama, astaga, dia belum pakai baju.
"Dis, sarapan dulu sana!"
"Iya, nanti Gadis turun, Buk!" serunya menjawab seraya berlarian ke kamar mandi, ngeri melihat kondisi tubuhnya. "Ya ampuunnn, gila Andra!" geramnya.
Dia yakin duda itu sudah menikmati sarapan di bawah, Gadis bergegas membersihkan diri dan berlarian turun, rambutnya dibiarkan tergerai basah, siapa tahu ibunya mau menegur Andra.
Gadis merapatkan kedua kakinya, pagi buta begini makanan sudah siap dan di rumah utama ada kedua orang tua Andra, sama sekali Gadis tak diberitahu akan hal ini.
"Helen, kemari!"
Gadis menoleh ke kanan, Andra ada di sana sembari memakan roti bakar coklat, dia pun menurut, maunya menyapa kedua mertua, tapi kalau melewati perintah Andra, bisa jadi kuntilanak dia malam ini nanti.
"Harum sekali, pasti semalam menggoda suamimu terus ya ..." Andra kedipkan matanya genit.
Menggoda kepalamu, kan juga gara-gara baju sialanmu itu!
Semua terkekeh mendengar itu, melihat Gadis dari atas sampai bawah, memang terlihat segar.
__ADS_1
"Kenapa diam saja, duduk sini!" menepuk pangkuannya.
"Eheheheh, aku duduk di sini saja." aku masih waras, jangan gila tidak tahu sopan di depan mertua. Batin Gadis.
Andra memicing, dia tarik pergelangan tangan Gadis hingga tubuh berambut basah itu jatuh ke pangkuannya, limbung pasrah pada Andra.
"Wow, aku kan cuman mau kamu duduk, bukan menciumku, Helen... kamu napsu sekali," ujar Andra.
Sialan!
Gadis yakin wajahnya dibuat merah padam, malu minta ampun dong di depan orang tua dan mertuanya.
Dia jauhkan bibirnya, tidak sengaja, dia berani bersumpah kalau tadi tidak sengaja dan Andra yang menjebaknya.
Cup!
"Balasannya karena kamu berani menciumku di depan mereka, love you, Helen."
Diam, masih sama di mana Gadis tak pernah menjawab ucapan cinta Andra, dia anggap duda ini hanya mencari perhatian keluarga saja, mau menunjukkan cinta dibalik pemanfaatan.
Jawab, Helen!
"Love you, Helen." lagi.
***
"Dis, sudah tahu kalau hari ini ada kabar penting?" Rena duduk di meja Gadis tanpa permisi.
Gadis bergeleng, yang dia tahu tubuhnya remuk setelah semalam duda itu tak mau berhenti bercinta dengannya, pagi ini bahkan sebelum ke kantor merajuk tidak jelas karena Gadis diam saat Andra mengatakan cinta berulang kali, membuat Andra kecewa sekaligus malu di depan kedua orang tuanya.
"Mantan istrinya suami kamu, si duda muda itu datang ke kantor bareng pak Nuh dan pak Hikam!"
"Yang benar?" Gadis terlonjak kaget, pasalnya Andra tak mengatakan apapun.
Ah, iya. Gadis lupa kalau Andra tak pernah mau membahas masalah Lisa di depan Gadis, bertanya saja tidak pernah Andra jawab, apalagi soal kehadiran Lisa di kantor ini.
Samar-samar Gadis ingat wajah mantan istri dari suaminya itu, aneh saja dia sebagai istri baru tak kenal dan tidak ingat wajahnya seperti apa, sudah lama dan dia rasa tak penting mengingat wajah Lisa.
Gadis: Ndra, kamu ada di kantor?
Andra: Hem.
__ADS_1
Gadis: Kata Rena, pak Nuh datang ke kantor sama Lisa, kamu ketemu sama dia?
Andra: Tidak.
Gadis: Dia sama kak Hikam, sepertinya mau ada pertemuan penting, kamu ikut?
Andra: Hem.
Ish, Gadis lempar ponselnya, ditanya jawabannya selalu tidak jelas. Hem dan tidak, tapi kalau ada pertemuan penting, pastilah Andra ikut dan jelas bertemu Lisa kembali, wanita itu akan selalu menjadi bayangan gelap di rumah tangga Gadis.
Eh, rumah tangga yang mana? Gadis jadi kesal mengingat statusnya.
Tapi, pak Nuh yang kabarnya enggan bertemu Lisa, hari ini tampak bersama, dengan Hikam juga, pikiran Gadis melayang ke mana-mana, menerka ada hubungan apa diantara orang-orang itu, keacuhan berubah menjadi kata bersama.
Kenapa?
"Dis, semua disuruh kumpul di aula!"
Gadis bangkit, dia menggandenga kedua tangan temannya, bersama Rena dan Sifa, memang hanya itu kekuatan dia di kantor.
Semua pekerja sudah berkumpul, tak sedikit mata yang melirik Gadis dengan pandangan aneh, semua tahu Gadis itu menikah dengan Andra, tapi di depan sana justru pemandangan langkah terlihat di mana Andra berdiri di samping Lisa, mantan istrinya.
Hikam, Gana, Pak Nuh, Andra dan Lisa sesudahnya.
Gadis menajamkan pandangannya, giginya gemertak saat melihat Andra memiringkan kepala yang kemungkinan mendengarkan ocehan Lisa, mereka tampak sangat akrab dan hangat.
Hish, lupa pasti semalam menggempur siapa, jahat!
"Pengenalan Lisa yang akan bergabung di kantor ini, berada di bawah posisi Hikam dan Gana." gumam Sifa, dia memicing ke arah Gadis yang sibuk meremat roknya, seperti mau meninju Andra saja. "Dis, ayo balik!"
Gadis memutar tubuhnya, sepanjang hari ini dia yakin tidak akan bisa bekerja dengan baik, bayangan menjadi janda semakin besar di depan matanya
"Kamu yang namanya Gadis?"
Gadis menelan salivanya kasar, sepertinya tidak asing, dia pun mengangguk.
"Tubuhmu lebih berisi, pantas saja Andra sekarang tidak mau memanggilku Gadis lagi, ternyata ada Gadis yang lain yang bisa memuaskannya, ahahahahah ... Hallo, aku Lisa Gadiskasari, senang bertemu denganmu!"
Jadi, namanya sama, apa karena itu Andra tidak mau menyebut nama depan Gadis?
"Maaf ya kalau nanti aku dekat dengan suamimu lagi, kita satu tim sekarang," ujarnya sambil berkedip genit.
__ADS_1
Awas kamu!