
Hanya orang kaya yang bisa mengubah lokasi pernikahan dalam waktu cepat, Gadis gelengkan kepalanya, kalau saja dia mengikuti kebiasaan masyarakat luas di mana pihak perempuan yang membuat acara, yakinlah dia bangkrut.
Dompetnya saja seperti rumah kosong tak berpenghuni.
"Kak, tahu tidak kalau kak Andra sudah datang, dia ganteng banget di bawah, aku mau kalau sudah dewasa se-ganteng dia!" Sandro mengoceh, kiblatnya berganti pada Andra.
Ya, tidak masalah sih, selama tidak menjadi duda juga, kan cemas Gadis nanti.
"Kakak mau lihat?"
"Inginnya, tapi kan tidak boleh, aku baru boleh ketemu dia kalau sudah sah, dia se-ganteng apa?" masa dudaku ganteng sih, batinnya bertanya-tanya.
Sebuah foto berhasil Sandro dapatkan diam-diam tadi, mata Gadis sampai tidak percaya, katakan ini pernikahan tanpa cinta dan mendesak atau apa, yang jelas dia mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan.
Pemuda yang tampan dan sempurna dari banyak segi, terutama dompetnya.
Hush!
Gadis usir bisikan buruknya, tangan itu harus ditahan dari yang namanya aplikasi pay-pay.
Tes!
Gadis tersentak kaget, uji coba mic itu jelas sebagai tanda untuknya kalau di luar sana Andra telah siap menikahinya.
"Bisa dimulai sekarang?" tanya pak penghulu.
"Silakan!" jawab pak Nuh.
Pembacaan doa dan suara-suara saling bersahutan sebagai jawabannya, Gadis tengadahkan kedua tangannya.
Hari besar ini benar-benar terjadi di mana dia akan mengubah statusnya menjadi istri orang, bukan sekadar orang biasa, melainkan duda kaya raya sekaligus calon penerus usaha.
"Bagaimana?"
Dag, dig, dug ....
Gadis tahan sejenak nafasnya, dia raba dada yang sudah sesak sejak beberapa menit lalu.
"SAH!"
Deal, dia sudah menjadi istri Andra, pemuda yang sah menikah kedua kalinya hari ini, duda cerai hidup tanpa anak.
Dua orang beserta ibu menjemput Gadis, wajah ibu tampak basah, dia digandeng untuk berjalan pelan menuju pelaminan.
"Ibu kenapa nangis?"
"Terus, kamu mau Ibu ini bagaimana? Salto?"
"Ahahaahaha, jangan dong, kan aku menikah sama yang Ibu suka!"
"Nak Andra itu baik, kamu yang nurut ya sama dia!"
Gadis mengangguk, walau masih ada ragu dan takut dalam hatinya, dia melangkah tegap menuju pelaminan di mana sang suami sudah menunggu.
Harapannya setelah menikah hanya satu di mana dia bisa memahami Andra dan mengerti kenapa Andra berpisah dari Lisa, setidaknya itu menjadi alarm agar Gadis tak mengulangi kesalahan yang sama.
"Dis, cium tangannya Andra!"
"Eh, iya."
Gadis kikuk, seumur hidupnya hal ini baru dia lakukan pada pria selain ayahnya, bersama mantan kekasih tidak ada yang bertahan sampai se-dekat itu.
"Mau apa?" Gadis tahan dada Andra.
__ADS_1
Andra menoleh pada ibu, "Ibu tidak menyuruhku mencium kening Helen?"
Ahahahah, ibu tertawa dan dia perintahkan menantunya untuk mencium kening Gadis.
Ya, panggilan Helen hanya untuk Andra saja.
Semua keluarga dan kerabat yang hadir memberikan tepuk tangannya, melihat betapa bahagianya pasangan baru ini, mereka masih malu-malu.
"Ndraaa, apa sih?"
"Aku tidak suka kamu pakai baju ini, ingin ku makan!" aung.
"Heh, kan tidak bisa begitu!"
Ada perjanjian yang Gadis katakan dan ikat pada Andra, jangan sampai mereka menikmati malam pertama tanpa ada rasa, cinta maksudnya, kalau jadi anak kan kasihan.
Satu lagi, Gadis juga masih ingin tahu secara jelas sebab perpisahan Andra dan Lisa dulu.
"Aku hanya berjanji tidak tidur lebih, Helen. Tapi, aku tidak berjanji untuk tidak menyentuhmu, kamu harus tahu itu!"
"Heuh?" mata Gadis terbuka lebar.
***
Andra geser sedikit tubuhnya, mereka berada didua jam pertama acara resepsi pernikahan, masih ada satu jam lagi.
Ini benar-benar di luar rencana yang ada, Gadis dengar kalau hanya keluarga dan tidak akan lama.
"Capek ya, nyandar ke aku sini!"
Gadis menurut, dia bersandar, satu tanganya melingkar di lengan Andra.
"Siapa yang ubah acara?"
"Boleh, nanti saja, masih ada tamu. Aku lapar," jawab Gadis.
Tanpa banyak bicara, Andra mintakan petugas yang lewat. Perlakuan yang membuat Gadis terperangah, bukan sekadar meminta makanan diantar, Andra bahkan meminta Gadis makan lebih dulu, sedang dia menunggu sisa dari Gadis.
"Kok kamu makan sisa aku sih?" ini atasannya loh, khawatir dipecat setelah ini.
"Biar langgeng!"
Deg,
Gadis merasa bersalah bertanya seperti ini, jangan-jangan apa yang Andra lakukan, tidak lain karena Andra tak mau membuat satu wanita lagi kecewa.
"Hai, Gadis."
Plak!
"Jangan lama-lama salamannya, sudah sana!" usir Andra.
"Ya ampun, pengantinnya galak!"
Gadis tersipu malu sendiri melihat tingkah posesif Andra, dia yakin tak akan mudah melawan dan berjalan bersama Andra.
Banyak yang dia belum tahu soal Andra, itu akan menjadi kendalanya dan hal utama yang harus Gadis tuntaskan, bersemangat mencari tahu.
"Ndra, itu teman kamu semua?"
"Hem, kenapa? Suka lihat wajah tampan mereka?"
Eh,
__ADS_1
"Tidak, aku kan cuman tanya. Oiya, mana ya Sifa sama Rena, aku mau foto sama mereka," jawab Gadis mencari topik lainnya.
Andra berdecak, dia tunjuk ke sisi meja bundar, dua wanita bersama pasangan dan anak tengah sibuk menikmati sajian yang ada.
Gadis jadi ingin berteriak dan meminta mereka cepat naik, sudah lelah di atas panggung ini menunggu tamu yang mau bersalaman dan foto.
"Heh, cantik sekali, Tante ini!" Sifa kenalkan Gadis pada anaknya, begitu juga Rena.
"Tante dari mana, dia ini lebih tua!" cerocos Andra.
Suami Rena dan Sifa sontak terkejut, mau melempar hadiah yang sengaja dibawa ke atas.
Sementara, Gadis hanya menyikut lengan Andra, dia harus elegan dan manis di hari pernikahan ini.
"Iya, tidak apa. Panggil saja Bude Gadis!" Gadis cium pipi dua keponakan onlinenya.
Slink,
Kilatan tidak terima tampak tersirat di mata Andra, dengan cepat itu kedua suami teman Gadis sadari, mereka segera mengajak berfoto dan turun.
Lebih baik menikmati makanan daripada terancam dipecat karena mengganggu kenyamanan pengantin baru.
Tak lama dari itu, naiklah Sandro, dia memeluk dan mengajak kakaknya berfoto bersama, ada bapak dan ibu yang ikut bersama.
Dih, dia senyum. Tadi gitu sama teman aku, sekarang sama ibu malah senyum-senyum.
Pencitraan!
Andra bahkan merangkul bahu ibu dan bapak, keluarga Gadis menjadi spesial di pernikahan ini.
"Duduk saja, biar aku yang berdiri!"
"Tidak apa-apa, kan sebentar lag-"
Mata Andra menajam, itu artinya Gadis harus menurut, pemuda duda satu ini misterius sekali, tapi manis juga.
Gadis sampai malu sendiri, dia hanya boleh senyum ketika ada tamu yang memberi selamat, tak ada foto lagi.
"Hadap sana, aku pijat punggungnya!"
"Tidak perlu, punggungku baik kok, cuman kaki saja yang-" eh, langsung dipijat.
Buru-buru Gadis halau tangan Andra, dia ajak duduk santai lagi, Andra ini bukan hanya suaminya, tapi atasan di tempat dia bekerja, menjatuhkan harga diri namanya.
"Sudah, sudah tidak sakit, Ndra!" Gadis genggam tangan Andra, ada di pangkuannya.
Helen ....
Andra pandangi tangan itu, walau gemetar dan dingin, Gadis menggenggam tangannya, sentuhan yang jujur sudah lama Andra tunggu.
"Apa?" Gadis menoleh bingung.
Pandangan Andra begitu teduh, berbeda dari tadi ketika Rena dan Sifa naik ke panggung.
"Ndra, kenapa?"
Andra tak menjawab, pandangan begitu dalam mengisyaratkan luka.
Wajahnya semakin dekat sampai Gadis takut untuk sekadar berkedip.
"N-ndraaa-"
Cup,
__ADS_1
Mata Gadis membulat sempurna.