
Andra terus menghentak tubuhnya di atas Gadis, walau tahu istrinya sedang lapar membahana, mau bagaimana lagi kalau gagaknya juga lapar, mau melahap mangsanya detik ini juga.
"Ndraa... udah!" bukan mendesaah, tapi Gadis meminta, dia sudah mau patah tulang kalau terus digempur, tadi pagi sudah berulang kali.
Telinga duda itu serada tuli, pasalnya gerakan Andra justru semakin cepat, dia juga mengubah posisinya hingga mereka sama-sama berbaring menyamping.
Gadis sesekali menganga, juga menggigit bibir bawahnya, dia menyesal meragukan duda ini, apalagi menunjukkan cemburunya, karena pembuktian Andra tak akan jauh-jauh dari kata ranjang.
"Heleeeen..." Andra sampai pada pelepasannya, entah keberapa kali, duda itu seakan punya banyak stok benih yang bisa disembur berulang kali. "Jangan cemburu lagi!" bisiknya.
Gadis berbalik, dia peluk raga basah akan keringat itu, baju mereka jangan ditanya ada di mana, semoga saja ibunya tak masuk ke rumah hingga menemukan dalaman yang tercecer.
Tapi, bila mau menyalahkan, maka Gadis akan menyalahkan Andra, semua ini ulah duda satu ini, membuat dia harus merelakan bajunya tersisih.
"Ndra, keluarin dia nya!"
"Ehehehe, dia masih betah, Helen."
"Awas kamu ya, kan aku capek!" Gadis memukul dada lembab itu, mau dia jadikan dada krispi, bisa-bisanya milik Andra masuk lagi saat Gadis lengah. "Ndra... jangan lagi!"
"Helen, kalau kamu hamil, aku tidak bisa melakukan ini banyak-banyak."
"Terus, apa hubungannya?" wajah Gadis dipastikan jelek.
"Aku puaskan sekarang."
Bugh!
Gadis memukul dada Andra lebih kencang, tanduknya muncul di kepala, mau mendorong Andra sampai bolong.
"Kalau sudah puas, apa mau mencari yang lain?" sial, seharusnya Gadis tak memancing duda satu ini karena setelah dia bertanya begitu, Andra kembali menarik tubuh Gadis ke atasnya, bergerak liar hingga Gadis mendesaah kembali.
Tidak akan ada ampun, anggap saja saat mereka bersenggama itu bukti ucapan cinta Andra yang belum pernah terdengar, sayangnya Gadis seakan bebal dan terus memancing gairah duda satu ini.
"Aku mau makan, kamu mandi!"
"Suapi aku, Helen, aku juga butuh asupan setelah ke luar banyak. Mereka akan jadi anak semua!"
Gadis menganga, perutnya cuman satu, tidak mungkin dia hamil ribuan benih, yang benar saja, mau tak mau Gadis suapi dudanya itu, mereka masih belum memakai apapun, hanya selimut yang Gadis jadikan alas bokongnya.
Banyak tanda merah yang Andra buat, duda itu bahkan memandangi tubuh Gadis dengan tatapan lapar, apalagi saat matanya turun pada bagian buah segar menggantung itu, semakin hari semakin besar saja, benar-benar menggemaskan.
__ADS_1
"Enak ini, Ndra... besok mau lagi!"
Andra mengangguk. "Sudah aku bilang ini enak, kamu tidak percaya, aku sering beli di sini, " jelas Andra.
"Mau lagi!"
"Nanti kita beli lagi, mau?"
Gadis mengangguk sumringah, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri seakan dia sedang bersenandung.
Walau dari semua sikap Andra menunjukkan cinta, tapi wanita adalah tetap wanita, mereka lebih mengedepankan bukti yang matanya melihat langsung, tidak bisa lewat kalbu saja.
"Mau udang?"
Andra menggelengkan kepala, menjauhkan udang dari pandangannya, seketika kepalanya berdenyut dan mual, membayangkan semua udang tumpah pada kwetiau itu.
Huek!
Gadis berlari menyusul Andra ke wastafel sudut kamar mereka, menekan pelan tengkuk Andra sembari memutar kran.
"Biasanya kamu suka udang, ini enak kok!"
Karena duda ini lemah, Gadis ajak mandi di bath up saja, bahkan dia yang menyabuni tubuh duda itu, setelahnya mereka tak kembali ke kantor, Gadis membereskan baju mereka yang tercecer, lalu naik ke ranjang lagi, duda itu tak bisa dia tinggal.
"Pergi terus, bisa tidak di sini saja!"
"Astaga, aku cuman membereskan ini, tunggu!" Gadis kembali ke sisi suaminya.
"Mau tidur di sini!"
Gadis mengangguk, mau tidak mau dia buka kancing piyamanya, duda itu bilang kalau mualnya hilang bila hidungnya bersentuhan dengan belahan dada Gadis.
"Heleeeeeeen, jangan jauh-jauh!"
"Tapi, capek kalau hadap sini terus, sama guling ya?"
Huek!
***
Tengah malam Gadis harus belajar memasak di dapur ibunya, menyebrangi bangunan utama dengan mata setengah terpejam, duda itu tak bisa ditinggal sebentar saja.
__ADS_1
Bahkan, pertemuan sore ini yang seharusnya melibatkan Andra, mau tidak mau kakek Nuh memulainya sendirian, Gadis jamin di sana Lisa kebakaran jenggot karena Andra tak datang, jelas tak ada yang mendukungnya.
"Dia di mana terusan?" ibu mencicipi sekali lagi.
"Gadis bilang cuman sebentar, Bu. Tadinya tidak mau ditinggal, tapi siapa yang mau membopongnya ke sini, kan berat, dia muntah terus!"
"Kwetiaunya enak, kan? Kalau enak, kenapa Andra bisa muntah begitu?"
"Enak kok, malahan aku mau nambah tadi, dia sudah makan banyak udangnya, giliran aku bahas, dia langsung mual, yang satu lagi dibuang sama dia sekalian mienya, mau marah, tapi kasihan, dia mual muntah. Besok Gadis ajak ke rumah sakit, Bu."
"Iya, ajak saja, semoga tidak sampai opname. Biasanya kalau seperti itu gejala tipes, kan dia lagi berat-beratnya ini, Dis. Masalah mantan istri, kamu paham kan?"
Ya, karena itu juga Gadis tak menolak tegas saat Andra meminta jatah banyak, karena mungkin itu bentuk pelampiasannya, tapi baru ini dia melihat dudanya pucat, hanya bermain dada, bisa membuat duda itu tenang.
Gadis segera berlari kembali ke kamar setelah sayur lodeh telur itu jadi, beruntung ibunya punya bumbu lengkap, dia buka pelan pintu kamarnya, harus tersenyum karena dudanya merengut.
"Lama sekali sih!" kan, sudah protes.
Gadis simpan di nakas, dia merangkak mendekat, begitu duduk di dekat kepala Andra, duda itu beringsut memeluk pinggangnya, tak lupa satu tangan membuka kancing piyama Gadis, bayi besar hadir kembali.
Gadis sedikit meringis saat Andra menyesap pucuk ranumnya, walau hanya sebentar, membuatnya terbakar, tapi dia tahan.
"Ini sayur lodehnya loh, Sayang... katanya tadi mau!"
"Kamu makan, aku makan dari sini!" menunjuk dada Gadis.
"Kan, bukan bayi, tidak ada yang ke luar. Ayo, makan!"
Andra menggelengkan kepalanya tegas, kembali bermain di buah segar Gadis dengan candunya, tak akan pernah bosan.
Sementara Gadis berusaha menyuapi duda manja satu ini, dalam sekejap bisa berubah jadi manja, Gadis geleng-geleng kepala.
"Makan ini, aku buatin yang paling enak, Ndra... ayo, Sayang!" astaga, harus dengan cara apa ini. "Ndra, oke kalau tidak mau makan, jangan dekat-dekat ini lagi, ditutup warungnya!"
Andra merengut saat Gadis tutup kancing piyama itu, membuat buah segarnya tak terlihat.
"Makan dulu, kamu bukan bayi yang bisa nen!"
"Ayo, makan, buka mulutnya!"
Andra patuh, membuka mulutnya malas-malasan, setelah tiga suap, dia mual, terpaksa Gadis buka bajunya lagi.
__ADS_1