Jodohku Duda Muda

Jodohku Duda Muda
Duda Sensitif


__ADS_3

"Helen, kira-kira anak kita itu perempuan atau laki-laki?" Sepanjang hari yang dikerjakan duda ini hanya bermain di perut istrinya. "Helen, aku tidak sabar ke rumah sakit, melihat dia sebesar apa, kau sabar tidak?"


Gadis menghela nafas panjang, berulang kali dia menjawab, tapi seakan dudanya ini tak ada puasnya.


"Kita belum tahu, Sayang. Besok, kita akan periksa dan kau akan tahu anak kita sebesar apa, sabar …."


"Kenapa harus besok, apa dokternya tidak bisa memeriksanya sekarang?"


Astaga, ingin Gadis makan saja suaminya ini.


"Aku sudah membuat janji besok, jangan begitu kalau mau tahu anaknya harus sabar, aku ke luar loh kalau kamu tidak sabaran!" Ancam Gadis, memang sejak menikah, suaminya ini tidak pernah sabar, menghabiskan malam pertama saja harus waktu itu, tidak bisa ditunda lama-lama. "Mau berhenti merengek atau aku ke luar?"


Andra memeluk Gadis lebih erat, menenggelamkan wajahnya ke leher Gadis, mengendus lama sampai terisak kecil.


Sepertinya anak mereka ini perempuan sampai harus membuat ayahnya lemah, Andra yang arogan bisa menjadi sosok yang perasa, bahkan mudah menangis sepanjang hari bila ada salah jawaban dari Gadis.

__ADS_1


Kemarin, suara Gadis meninggi tanpa sadar, itu pun sudah membuat Andra menangis, merasa dimarahi oleh istrinya, padahal tidak sama sekali.


"Maksudku kamu harus sabar, aku di sini sama kamu, kita sama-sama menunggu, kecuali kalau aku meninggalkanmu kontrol sendiri, itu baru aku tidak paham kamu, Sayang. Jadi, bisa kerja lebih tenang?"


Andra mendongak, dia berkedip pelan sebelum akhirnya mendapatkan kecupan dari Gadis di keningnya.


"Maaf kalau marah-marah, tapi sejujurnya aku tidak marah, suaraku memang seperti ini, kamu juga kenal aku luar biasa, iya kan?" Andra mengangguk lagi. "Kalau begitu, bisa kerja sama ya sabar sama anaknya, Sayang?"


Ah, suami pintar dan penurut kalau sudah diancam begini.


Berbeda dari dudanya yang betah istirahat, suka sekali tidur karena merasa lelah minta ampun, sampai pernah Andra meninggalkan rapat penting karena bawaan hamil simpatik ini.


"Helen," panggil Andra dengan mata setengah terbuka. "Helen?" Kosong, tak ada orang di dekatnya.


Andra sontak terduduk, menoleh ke segala arah dengan mata yang masih merah, air matanya mengucur kembali, dia sangat amat sensitif, mencari ponsel dan menghubungi Gadis, sialnya ponsel Gadis ada di kamar.

__ADS_1


Andra berlarian keluar sambil berteriak, memanggil nama Gadis sembari terisak, seperti anak kecil yang ditinggal ibunya di tengah pasar.


"Hey, aku di sini!" Seru Gadis sembari menghampiri Andra yang tersungkur di bawah tangga. "Sayang, Sayang!"


Andra peluk tubuh bau bawang itu. "Sudah aku katakan jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku, bawa ponselmu kalau ke luar menjauh, aku bisa mati berdiri kalau kau pergi!"


Astaga, dudanya ini menggemaskan sekali, Gadis peluk sembari membiarkan Andra menangis dan berbicara apa saja.


Dia ingin tertawa dan sedih dalam satu waktu, bagaimana bisa dia punya suami yang sangat amat sayang padanya, bisa sesayang ini padanya.


"Saaaayaaaang … maafkan aku, jangan begini!"


"Bawa hapemu kalau pergi!"


"Iya, aku bawa, sudah ya jangan nangis terus!" Gadis kecupi wajah basah Andra. "Ahahahahah, Saaayaaaangku … nangis kok makin ganteng sih!"

__ADS_1


__ADS_2