
"Nak Andra cari siapa?" ibu terkejut melihat menantunya tiba-tiba datang ke rumah samping.
Andra memindai sekitar tanpa menjawab, doa kemudian berbalik, tidak berpamitan pada ibu, kembali ke rumah utama.
Namun, selang beberapa menit, Andra kembali lagi.
"Maaf, aku terlalu fokus mencari Helen tadi, Bu. Apa Ibu melihatnya?" Andra frustasi kalau kehilangan Gadis. "Aku bangun tidur tanpa melihatnya, jadi malas bekerja, Bu."
Astaga, jemari ibu ingin sekali mengusap wajah frustrasi itu, mencari Gadis saja sampai malas bekerja, padahal ibu yakin anaknya tidak mungkin jauh-jauh.
Wanita itu pun ikut ke rumah utama, dia putari bangunan utama milik sang menantu, mengendus keberadaan putrinya yang tengah mengandung.
Sejak Gadis hamil, memang duda satu ini tidak mau jauh, meskipun selama ini memang dia lengket bersama Gadis, tapi tidak seperti hari ini.
Kandungan Gadis sudah jalan lima bulan, sikap Andra masih sama posesifnya, walau Gadis selalu di rumah dan tidak ke luar tanpa Andra, pandangan Andra akan selalu terganggu bila paginya tanpa Gadis.
Lisa? Hikam sudah menikahinya dan mereka tinggal di luar kota, Hikam memutuskan untuk memegang perusahaan cabang sana.
Krek!
Ibu berbalik ke pintu penghubung taman belakang, biasanya dia yang ke taman itu untuk mengatur tanaman, tapi dia sedang berdiri di dalam rumah, itu artinya ada orang lain.
__ADS_1
"Nak, coba kamu ke taman belakang, mungkin Gadis ada di sana!" saran ibu.
Andra mengangguk, entah siapa yang ada di sana, bulu kuduk Andra berdiri, walau dia tahu ini masih pagi, tapi dia merasakan sesuatu hal yang berbeda.
Pelan, Andra buka pintu penghubung itu, langkahnya merambat membayangkan sesuatu muncul dari sana, pagi ini jauh lebih mencekam karena dia tidak menemukan Gadis di dekatnya.
Bruk!
"Helen!" sebutnya.
Gadis terkikik, dia nyaris saja terjungkal karena dorongan suaminya, beruntung kedua tangannya masih bisa berpegangan kuat.
"Helen, kau ini!" Andra dekap istrinya, walau susah sejak perut Gadis membesar.
"Hehehehe, aku pegangan kok, Ndra!"
"Pegangan apa!" Andra menatap tajam. "Kalau kau kenapa-napa bagaimana? Terus, anakku yang manis itu nanti mau jadi apa? Perkedel?"
Gadis meringis, dia lirik ibunya yang sudah mengendap mau kabur, seperti itu cara termudah lepas dari amukan Andra.
Sejenak Gadis biarkan duda ini memeriksa seluruh anggota tubuhnya, memastikan kalau dia memang baik-baik saja.
__ADS_1
"Tidak ada yang lecet, kan?" Gadis usap perutnya. "Lepaskan aku!"
"Tidak mau, aku harus memeriksa anakku, apa dia sehat atau tidak!"
"Kita ke dokter, Sayang?" Gadis alihkan perhatian duda satu ini, pasti maunya atas bawah coblosan. "Ke dokter ya?"
"Tidak, aku akan memeriksanya sendiri!"
Andra lepaskan baju Gadis, dia sudah bergaya seperti dokter, memeriksa seluruh bagian perut, dan berakhir menyimpang di mana dia justru membuat Gadis kepayahan.
"Heh, pemeriksaan apa ini?" Gadis rapatkan pahanya.
"Mau memeriksa denyut anakku, harus pakai stetoskop ini!" miliknya yang Andra maksud. "Buka kakinya!"
Aaaaahhh!
Gadis melengkungkan punggung samar, dia yakin duda ini tidak akan pernah lolos jadi dokter, tidak mungkin memeriksa denyut bayi dari lubang bawah, yang benar saja.
"Ndra-"
"Diam, aku memeriksa anakku!" Andra nyengir kuda.
__ADS_1