
Waktu terasa cepat berlalu, awalnya duda itu ingin mempunyai anak dalam waktu dekat, tetapi Gadis menekan Andra untuk lebih memikirkan Tika, setidaknya sampai Tika bisa meminum ASI sampai dua tahun.
Sekarang usia Tika baru genap dua tahun, mereka mungkin akan memulai setengah bulan lagi untuk program anak kedua.
"Sayang, temanmu jadi ke sini?" Gadis merapihkan mainan Tika yang berserakan, bocah itu sangat aktif dan banyak sekali ulahnya sama seperti duda itu, bapaknya.
"Jadi, tapi ingat, jangan melihat Frans!" jawab Andra tegas.
Gadis mencebik. "Temanmu itu sudah punya anak dua, yang ada nanti kamu lagi yang melirik mbak Siskanya!"
Andra terkekeh, istrinya itu pandai sekali membalasnya sekarang, tetapi tidak akan mengurangi rasa cemburunya meskipun Gadis berusaha meyakinkan, bagi Andra sang istri itu terlalu menarik untuk dikenalkan pada temannya.
Dia peluk Gadis dari belakang, nanti yang datang ke sini lebih muda semuanya dari Gadis, dia tidak mau istrinya menjadi pusat perhatian, lebih tua justru lebih menggoda.
"Sayang, ada Tika di sini, masa iya cium-cium!" Gadis sikut perut suaminya. "Lepas!"
"Tidak mau, aku mau memelukmu dan memastikan kapan adiknya Tika ada?"
Gadis menghela nafasnya. "Aku baru lepas KB nya minggu lalu, kan mulai besok baru proses, sabar!"
"Besok ya, benar ya!"
__ADS_1
Mau tidak mau Gadis mengangguk, demi mata Tika yang harus aman terkendali, mana bapaknya ini sama sekali tak tahu tempat.
Gadis berganti merapihkan penampilan Tika, anak gadisnya yang sangat manis dan cantik, sebentar lagi akan punya teman baru.
"Tika, nanti kenalan sama kakaknya ya, mau tidak punya teman baru?" tanya Gadis pada putrinya.
Bocah manis berpipi dan mata bulat itu lantas mengangguk, mengulas senyum manisnya yang selalu membuat Gadis iri pada sang suami, bisa-bisanya sangat mirip dengan Andra, dia tidak ada.
"Kalau ditanya namanya siapa?"
Tika membuka bibir merah mudanya itu. "Tika, amu capa?"
"Heheheh, pinternya. Sayaaang, Papaaaa, anaknya bisa kenalan ini!"
"Peluk Papa dulu!" pinta Andra sambil membentangkan kedua tangannya, Tika bergelayut manja di sana, mencium pipi Andra berulang kali sampai Andra terkikik geli, anaknya memang manis. "Benar-benar anakku!"
Gadis mencebik, ya memang anaknya, anak siapa lagi, kan dia dikurung di rumah ini, masa iya anak angin.
Aarrrghhh!
***
__ADS_1
Tamu yang dinanti akhirnya tiba setelah sekian purnama berjanjian, Andra memeluk Frans cukup lama sampai mereka sama-sama merasa sudut mata itu basah.
Sedangkan, Gadis dan Siska yang notabenenya ibu rumah tangga, mereka mudah akrab satu sama lain.
"Kaffa, kenalan yang baik sama Tika ya, ajak Dek Friska, Sayang!" seru Siska.
"Iya, ayo, Flis!"
Tika malu-malu di belakang kaki ayahnya, memandang malu bocah tampan berkemeja kotak-kotak merah itu, bahkan jejeritan sambil memeluk kaki panjang Andra.
Gadis jadi serba salah, menekan keningnya karena respon anaknya itu, baru ini sikapnya menurun pada Tika, malu-malu kucing bertemu cowok ganteng, bahkan bisa salah tingkah.
Kok ya pas begini jadi mirip Mamanya ke luar sih, Tika! Yang lain kok malah papa semua!"
Andra yang menyadari sikap anak manisnya lantas berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Tika, keduanya sama-sama menatap ramah dengan senyum lebar pada Kaffa dan Friska.
"Halo, namamu sapa?" tanya Kaffa mengulurkan tangannya. "Aku Kaffa, ini adekku Fliska!"
Andra menoleh pada Tika, dia pun mengulurkan tangan anak gadisnya itu.
"Tika, aku Tika!" jawabnya malu-malu, lalu menyembunyikan wajahnya ke balik punggung Andra.
__ADS_1
"Ayo, main. Tapi, jangan libet ya kalau main, cewek-cewek sukana libet!" kata Kaffa, sontak Frans dan Siska saling pandang.
Anak ini!