
Setelah paham dengan maksud suaminya, Gadis membereskan barang yang sejak tadi dibongkar untuk Tika, bayi itu menjadi kesayangan banyak orang di rumah ini, bahkan langsung mendapatkan penawaran tinggi dari kakeknya.
Namun, Andra ingin Tika tidak terlalu berkecimpung dalam hal bisnis, kecuali dia mempunyai anak lelaki nantinya, Tika akan menjadi tuan putri dengan mimpi indah yang saat ini hanya Andra yang tahu.
"Helen, peluk aku!" pintanya manja.
Gadis mengangguk, perjalanan mereka sampai ke rumah memang melelahkan, apalagi sebelun pulang Andra harus membahas secuil pekerjaan yang mungkin harus segera dia selesaikan dalam waktu singkat ke depan.
Pelukan hangat untuk suami tercinta, duda satu ini, yang sudah menikahinya dan memberikan dirinya anak gadis yang cantik, pasti mantan Gadis semua iri melihat kehidupannya sekarang, dulu mereka sia-siakan.
"Sudah ya, kamu ganti baju, terus kamu istirahat, Sayang. Aku mau beresin dapur!"
"Jangan, aku bantu kamu saja!"
Gadis mengerutkan keningnya, dia yakin tak ada yang gratis dari Andra, tapi saat ini dia sedang menutup diri sampai masa palang merahnya selesai usai melahirkan.
Dia pun mengangguk, siapa tahu memang malam ini duda itu tulus padanya, mereka sama-sama ke dapur, tak lupa Andra hidupkan monitor cctv di kamar lewat ponselnya, dengan begitu dia bisa memantau sang anak yang sudah lebih dulu terlelap.
"Sa-sayang!" Gadis menjauhkan tangan Andra dari pahanya, geli dan menggelitik, ingin minta lebih kalau sudah disentuh di sini. "Sayang, belum boleh!"
__ADS_1
Andra menulikan indranya, dia tahu, tapi dia ingin dan ada cara lainnya.
Keduanya pun saling berhadapan, Andra menurunkan tangan Gadis hingga menyentuh gundukan tebal di balik celananya.
"Tolong, Helen!" pintanya memelas.
Kan, sudah Gadis bilang kalau semua pekerjaan di sini tidak akan ada yang gratis dari Andra, dengan pemahaman yang minim, Gadis pun mengiyakan.
"Tapi, jangan di sini ya, kalau ibu sama bapak mendadak masuk, masa iya mau pameran perkututmu itu!" oceh Gadis.
Andra mengangguk kegirangan. "Ayo!"
Andra mencengkram pinggiran meja kerjanya sangat kuat, kepalanya terlempar ke belakang dengan bibir yang nyaris terbuka, dia berusaha menggigit bibir bawahnya, tapi tidak bisa karena gerakan Gadis di bawah sana membuatnya terkapar tak berdaya, suaranya serak dan mendayu-dayu, dia kehilangan akal sehatnya.
Semakin dekat dengan puncaknya, sebelah tangan Andra menyentuh kepala Gadis, dia tadi hanya menginginkan tangan Gadis, tapi istrinya ini mau memberikan lebih.
Sekujur tubuhnya menegang dan bergetar begitu cairan putih mulai memenuhi rongga mulut Gadis, ibu satu anak itu langsung berlari ke toilet dan memuntahkannya.
Huh, adek-adeknya Tika ke luar semua!
__ADS_1
Usai itu dia kembali lagi, tampak Andra merapikan bajunya, lalu meminta Gadis duduk ke atas pangkuan.
"Sayang, kan sudah!" protesnya.
"Aku belum kebagian ini, Helen." tunjuknya pada dada kiri Gadis.
Gadis gelengkan kepalanya, ada-ada saja ide satu ini, terserahlah untuk suami senang dan tidak gersang, lagipula dia merasa tenang kalau Andra menyentuhnya.
Gadis turunkan tali dasternya hingga bagian depan itu terbuka lebar, mempersilahkan pemilik utama menikmatinya sambil dia memainkan rambut hitam Andra.
Lidahnya duda sama Tika beda rasa, hahahah, kalau Tika bikin ngantuk, kalau duda bikin mai lagi!
Gadis terkikik sendiri, dia biarkan saja sampai bapaknya Tika ini puas, lebih baik menahan kantuk daripada suaminya stres karena tidak tersalurkan, bahaya dan ini bentuk antisipasinya.
"Sayang, kalau mau bilang ya, jangan main sendiri, aku tidak suka kamu main sendiri, aku bisa bantu!" tegas Gadis.
Andra mengangguk cepat, dia girang minta ampun.
"Tapi, tidak setiap hari juga, capek rahangnya!" imbuh Gadis sambil pijat-pijat rahang.
__ADS_1