
"Leganya," gumam Andra, rambutnya basah pagi ini, sengaja dia kibaskan pada Gadis yang sibuk menyusui anaknya. "Helen, kalau aku ingat, jadi ingin lagi," katanya jujur.
Gadis hanya mendengus, bukan hanya suaminya, dia yakin semua pria di luar sana kalau sudah diberi pelayanan plus-plus oleh istrinya langsung segar bugar, kalau menunda saja, sudah langsung gersang.
Ini sudah hampir mendekati hari selesai nifass Gadis, tidak terasa selama ini harus memberikan service untuk suaminya lewat jalan berbeda, walau begitu dudanya senang sekali, banyak barang yang dibelikan dan sejuta perhatian untuk Gadis setiap harinya.
"Kapan selesainya?"
TETAP, TANYA ITU.
Gadis hanya menunjuk kalender di dekat meja riasnya, sudah dia berikan tanda merah di mana nanti dirinya akan mandi besar.
Mata Andra menyipit seraya menghitung kurangnya, kalau tidak bertemu kandangnya memang kurang pas, ada yang kurang.
"Sayang, Rena sama suaminya mau ke sini, boleh?" tanyanya pada Andra, pria itu langsung meliriknya sinis.
"Kenapa harus suaminya ikut?" balas Andra.
"Ya kalau Rena saja, bagaimana kalau dia tertarik padamu? kan yang harus diwaspadai itu kamu, kamu tampan dan mapan, hayo!"
__ADS_1
Bukannya marah, Andra tergelak kencang, dia suka Gadis memuji dan posesif padanya, dengan alasan begitu, Gadis mendapatkan izinnya.
"Oke, aku kasih tahu Rena ya?"
"Hem, kasih tahu saja, tapi kalau aku sudah pulang, dia juga harus pulang," jawab Andra berwajah datar.
"Kenapa?" Gadis kan masih mau lama-lama.
"Kan biar Rena tidak melirikku, katamu!"
Astaga, bisa saja membalikkan candaan seperti ini, duda satu ini memang serba bisa, Gadis hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala.
Di depan teras tampak ibu sedang menimang beberapa belanjaan dari abang-abang yang kebetulan lewat, padahal sudah berdandan mau ke pasar, walau Andra bisa membawanya ke supermarket, tapi ibu lebih cocok di pasar atau pedagang keliling begini.
"Helen, jangan bawa Tika ke depan!"
Gadis paham, duda ini posesif pada anak gadisnya, entah nanti kalau sudah besar bagaimana, yang Gadis dengar Andra sempat bercanda dengan teman lamanya untuk mengenalkan anak mereka nanti bila remaja.
Entah itu benar atau tidak, Gadis sendiri belum pernah bertemu dengan yang namanya Frans dan Siska, yang katanya teman lama Andra si cowoknya, dia berharap segera bisa dan mempunyai teman baru mengingat Andra sangat posesif padanya sampai berteman saja harus screening dulu, kalau perlu vaksin sekalian.
__ADS_1
"Sudah ibu belanjanya, Sayang?"
Andra mengangguk, dia baru saja mencuci tangan, Andra memilih beberapa ikan yang nantinya ibu masak, tak lupa dia berikan beberapa lembar uang pada ibu, dia tidak akan membedakan ibu ini dan mamanya.
"Biarkan aku menggendongnya sebelum kerja, Helen!"
"Iya, gendong anakmu ini." Gadis kesal kalau anaknya sudah dihak milik, seakan-akan dunia hanya Tika saja.
"Tika, Papa kangen!"
Hilih, ingin Gadis jitak saja kepalanya, ucapan tidak masuk akal, sebab mereka tinggal serumah setiap hari, kalaupun bilang rindu, malamnya merepotkan Gadis, palsu.
"Tika, mau punya adek kapan?"
"Sayang, jangan aneh-aneh!" Gadis berkacak pinggang. "Jahitanku belum kering, terus masih berdarah-darah, masa iya udah mau rencana punya anak!"
"Kan enak kalau sekalian, iya kan?"
"Kau saja yang hamil kalau begitu, kerja sana!" kata Gadis sebal, akan dia perpanjang masa nifassnya kalau begitu.
__ADS_1
Kalender mana kalender, harus dia ralat.