Jodohku Duda Muda

Jodohku Duda Muda
Menemui Lisa


__ADS_3

Apa sebenarnya arti kalimat perintah terakhir Andra itu?


"Suka sekali tidak pakai baju, enak ya?"


"Hish!" Gadis mencebik, apa kabar masakannya di bawah sana, sudah ditarik bergumul saja. "Sana kakinya!"


Duda ini, lupa sudah janji sebelum nikah, kan dia janji tidak akan menyentuhku lebih, dia melanggarnya!


Andra sentil ujung hidung Gadis. "Batinmu pasti memakiku, kan?"


Gadis membulatkan mata, jangan-jangan duda di sampingnya ini punya indra keenam, tahu isi hati.


Beruntung Gadis bukan tipe yang tahan menyembunyikan isi hatinya, dia akan meluapkan semua diwaktu yang dirasa tepat.


"Kau tidak suka?" Andra melipat satu tangannya ke balik kepala. "Kenapa tidak menolaknya kalau kau tidak suka itu?"


"Menolak, memangnya bisa?" jawaban yang langsung membuat Andra tertawa, ditambah lagi suguhan wajah polos Gadis bersama mata yang berkedip pelan. "Tertawalah, kamu memang berkuasa, aku mau memeriksa masakanku!"


Andra tak menahan pergerakan Gadis, memang dia melanggar aturan dan kesepakatan yang ada, tapi bukan berarti dia tidak bertanggung jawab, justru dengan melanggar itu dia ingin mengikat Gadis di sisinya selama mungkin, sampai dia tak ada di dunia ini lagi.


Selepas membersihkan diri, Andra kembali menemui Gadis, wanita itu sudah bersiap makan dan menunggunya, pemandangan yang sangat dia harapkan sejak lama dan baru dia dapatkan dari Gadis.


Andra lingkarkan satu tangannya ke bahu itu, lalu menjatuhkan dagunya ke kepala Gadis, sengaja ingin mendengar omelan istrinya.


Aku tidak tahan kalau dia menggemaskan seperti ini, Helen ... jangan pernah berubah ya.


Telapak tangan Gadis terus bergerak di depan wajah Andra, terkibas-kibas endak membuat Andra tersadar.


"Heh-"


"Melamun apa?" Gadis kerutkan keningnya, ngomong-ngomong kepalanya sakit ditancapi dagu begitu.


Andra bergeleng, dia lantas menarik diri dan duduk ke samping kanan Gadis, wajahnya berubah dalam sekejap, Gadis hanya terus mengunyah makanan khas tangannya itu sembari melirik kecil, lagi-lagi dia didera pertanyaan hebat di kepalanya.


Ada apa dengan Andra? Selalu saja berubah mendadak dan mendiamkannya.


Setelah lamunan itu, Andra seperti tak mengenal siapa Gadis di sini, sampai larut pun Gadis dibiarkan sendiri berbaring di kamar yang tadinya panas, duda itu menyendiri di ruang kerja.


Kenapa dia memintaku begitu?

__ADS_1


Andra menerawang jauh, jujur dia memang sudah jatuh hati pada Gadis, wanita itu punya semua yang dia inginkan, walau Gadis tak secantik Lisa, mantan istrinya.


Namun, Lisa tetaplah wanita pertama dalam hidupnya dan dia nikahi meskipun menyentuh titik nikmat wanita itu belum pernah dia lakukan.


Sialan!


Kedua tangan Andra menghantam meja kerja bergantian, dia ingat peristiwa hina waktu itu, hatinya kembali sakit dan berdenyit, dia benci semua orang yang ada di rumahnya, benci.


Suara gaduh di ruang kerja Andra tak luput dari perhatian Gadis, wanita itu sengaja melangkah ke dapur endak membuatnya Andra minuman hangat, setidaknya kopi, tapi dentuman keras dari ruang kerja membuatnya hampir melompat, beruntung gelas di tangannya tak terlempar.


"Ndraaaaa, Andraaaa, Ndraaa ... kamu kenapa?" Gadis mencoba membuka pintu ruang kerja itu.


Apa Andra marah karena pertanyaan jujur darinya tadi atau masalah pelanggaran kesepakatan, itu pelampiasannya?


Gadis yang mudah merasa bersalah dan tak enak langsung dirundung pilu, hatinya seakan tertusuk ribuan jarum yang siap memecah belah semuanya dan bercucuran darah.


Seharusnya, dia tak membahas itu dengan Andra, dia bisa menerima takdirnya. Gadis menyesal kalau pada akhirnya Andra harus semarah ini.


"Ndraaaa, buka pintunya, aku mau ngomong!"


"ANDRAAA!" kali ini lebih kencang, Gadis bahkan menendang pintu ruang kerja Andra. "Andraaaa, buka atau ak-"


Andra buka pintunya, wajah itu memandang Gadis polos, tampak baru saja ada sesuatu terjadi di sana, pasalnya wajah Andra sangat basah, keringat pun menetes deras dari poni-poni kecil itu.


Andra tergelak, dia tarik Gadis masuk dan dia dudukkan ke kursi kebesarannya, kedua tangannya mengungkung kedua sisi Gadis.


"Ndra, kamu kenapa?" takut, seperti anak muda belia mau dipaksa enak-enak.


Andra masih membisu, dia memandang lurus ke arah wajah Gadis, menunggu bibir itu berucap lainnya.


Mati aku kalau diajak di sini, Gadis come on!


"Ndra, kamu ngantuk tidak?"


Andra bergeleng lemah. Gadis semakin gemetaran, takut benar-benar harus melakukan di sini tanpa ampun.


"Helen."


Gadis mengangguk, dia menyengir kuda memandang Andra.

__ADS_1


"Helen."


"Iya?" tampil baik, Gadis, come on!


Bruk!


Kalau begini, Gadis tak akan datang ke ruang kerja, dia harus membantu suaminya, si duda muda ini kembali ke kamar seperti orang tak bisa berjalan, mana tubuhnya jauh lebih besar, Andra dengan manjanya mau menjadi bayi Koala Gadis.


Aku kutuk kamu jadi kodok nanti!


Eh, tidak, kalau Andra jadi katak, nanti siapa yang akan menghidupinya dan keluarga, Gadis ralat seketika.


Aku kutuk kamu tidur sampai pagi, kalau bisa telat kerja.


***


"Kenapa meminta bertemu lagi? Bukankah, aku sudah memintamu pergi jauh dan tidak menghubungiku lagi, Lis!"


Lisa mendongak, dia tak percaya mantan suaminya akan mengganti nama panggilan kesukaannya itu.


Gadis, biasanya Andra akan memanggilnya dengan penggalan nama tengah miliknya, tapi sekarang tidak ada yang spesial lagi.


"Li-sa?" ulang Lisa sambil berdiri. "Apa karena istri barumu itu namanya Gadis, jadi kau merasa haram memanggilku-"


"Katakan apa maumu!" potong Andra, dengan datang ke sini, dia sudah menyakiti istrinya seperti suami pengkhianat saja. Tapi, apa bisa dia tolak kalau Lisa terus mendesak dan mengancam bunuh diri. "Jangan bertele-tele, katakan!"


Lisa kembali berderai air mata, dia sesenggukan mengambil hati Andra, sejak dulu Andra paling tidak bisa bila dia sudah berdrama penuh air mata seperti ini, pria itu akan tunduk padanya.


"Dia tidak mau menikahiku, bantu aku, Ndra ... kamu tahu kalau aku menahan sakit karena keguguran anak Hikam, kakakmu, tapi dia terus mengulur waktu. Sungguh, aku ingin mati saja kalau begini, dia hanya datang padaku saat butuh saja, tolong aku!"


Andra mendesis, dia jauhkan tangannya saat Lisa endak menggenggam, tangan itu sudah terbatas untuk Gadis, istri sekaligus wanita tercintanya, bukan Lisa lagi.


Tapi, Andra mengutuk dirinya sendiri yang selalu lemah karena tangisan Lisa, dia bukan pria berhati buruk hingga menelantarkan dan tak peduli pada wanita lemah.


"Aku tidak berjanji, tapi akan aku coba membuatnya mengerti, tunggulah dan jangan berbuat yang tidak-tidak, kalau dia serius, tentu tanpa kamu harus hamil, dia akan menikahimu, ini semua hanya karena waktu, kamu juga harus mengerti dia, Lis."


Cih!


Lisa rindu pria di depannya ini memanggil dia 'Gadis' lagi.

__ADS_1


***


Yang kangen duda, ini Bucil cicil ya rindunya, like dan komen! hayo!


__ADS_2