Jodohku Duda Muda

Jodohku Duda Muda
Menyerahkan Diri


__ADS_3

Rambut basah sampai pagi, Gadis sampai pusing setibanya di kantor, dia masih bekerja di kantor sang suami, kesepakatan akan berhentinya Gadis bila dia hamil.


Huh, membahas hamil dia jadi merinding sendiri, anaknya akan sekuat apa nanti bila suaminya si duda itu doyan sekali meminta jatah, entah kenapa dia bisa menikah dengan duda yang doyan bermain ranjang seakan tak ada puasnya.


"Dis, rambutmu?"


"Ren, kamu pasti tahu, tidak mungkin tidak tahu, dia membuatku mandi lagi di sepuluh menit sebelum bekerja, aku heran bagaimana bisa pria begitu bersemangat berhubungan?"


Rena mendudukkan bokongnya ke samping Gadis, sebagai yang sudah berpengalaman dan mempunyai anak satu, tentu ini bukan hal tabu.


"Benarkah?" Gadis menganga tak percaya.


"Benar, jawabanku tak akan salah. Mereka bahkan bisa bermain sendiri kalau kita sedang datang bulan, akan stres, apalagi setelah melahirkan, makanya aku setelah nifas selesai, langsung KB, kalau tidak bisa hamil lagi. Kalau aku tanya suamiku ya, semakin lelah sebenarnya mereka semakin ingin dan kuat, wajar kalau dudamu itu menginginkan hal lebih, terbayang seberapa berat beban pikirannya sebagai pimpinan," jelas Rena yang terdengar pro dengan alasan Andra.


Gadis hanya manggut-manggut, pikirannya langsung tertuju pada Andra, pikiran duda itu sedang tahap berat-beratnya, apalagi persoalan Lisa yang akan diangkat ke media oleh keluarganya, bisa-bisa Gadis tak bisa mengeringkan rambutnya.


Tubuh Gadis sedang bekerja, tapi pikirannya tak berhenti pada sang suami, duda itu menyita banyak bagian dalam dirinya, Gadis hidupkan ponselnya, biar saja duda itu meminta dia diam di kantor, dia akan menghubunginya.

__ADS_1


Gadis: Sayang, mau makan siang di mana?


Buru-buru Gadis simpan ponselnya, takut kalau Andra membalas cepat, takut sendiri mendapatkan pesan balasan dari suaminya.


Dibalas!


Dudaku: Mau makan bersama?


Gadis remat ponselnya, menjawab apa ini, sedang kalau dia ke luar dan bertemu duda ini di kantor, bisa-bisa semua mata tertuju padanya dan dikira menghindari pekerjaan, menggantungkan nama suami.


Gadis: Boleh, kita makan di luar. Aku yang traktir karena atm mu di aku, eheheheh, sampai ketemu nanti!


Dia lempar lagi ponselnya, sumpah dia seperti anak muda baru berkenalan saja, pasalnya tadi pagi mereka bermandikan peluh bersama, sekarang bisa-bisanya malu-malu kucing.


Lagi, Gadis ambil ponselnya, dia usap dan kecup, ada nama suaminya di layar gelap itu.


Dudaku: Aku mau makan kwetiau goreng, mau atau tidak?

__ADS_1


Aaaah, Gadis jumpalitan dibuatnya, kedua kakinya sudah mencak-mencak mau menjambak rambut Andra lalu dia cium rakus. Dia ketularan mesum sekarang.


Biarlah, dia mau suaminya senggang sedikit, tak melulu pusing memikirkan wanita ular itu, padahal sudah berpisah, masih saja merepotkan dudanya.


Gadis: Mau, mau yang banyak, tenagaku kan kau habisi tadi pagi, Sayang!


Eh, tidak, dia akan melempar ponsel itu lagi karena Andra terlihat sedang online, dia tunggu.


Dudaku: Baiklah, makan yang banyak nanti, sebelum aku menghabisimu!


Oooh, duda, astaga!


Bukannya takut dan mau kabur seperti biasanya, kali ini Gadis akan menyerahkan diri pada suaminya secara suka rela, mau bertarung berapa kalipun akan dia layani, walaupun tahu sendiri kedua kakinya rasanya mau patah.


Dudaku: Helen, bagaimana kalau kita beli take away, nanti makan di rumah, hem?


Ya ampun, dia sangat tidak sabaran!

__ADS_1


__ADS_2