Jodohku Duda Muda

Jodohku Duda Muda
Menengok Bayi Hikam


__ADS_3

"Dudamu mana?" ibu menyelinap ke rumah utama, dia membawa beberapa sayuran untuk Gadis buat salad, para orang tua ini mau menjaga pola makan sehat, apalagi perut buncit bapak. "Dis, tidur dia?"


Gadis berbalik dan menggelengkan kepalanya, dia menunjuk ruang tamu, di sana duda kesayangannya itu tengah merapihkan dekorasi pigora-pigora baru.


Banyak sekali rencana Andra setelah putrinya terlahir ke dunia, selain menambah anak lagi, tentu dia mau mengabadikan momen itu, setiap tumbuh kembang putrinya akan diabadikan dalam urutan foto.


"Yaudah, kamu buat saladnya dulu, pasti anakmu suka!" kata ibu.


Gadis mengangguk, semakin dekat hari kelahiran, perutnya kian berat dan punggungnya luar biasa pegalnya, belum lagi kalau duda satu itu membuatnya rungsing, mau ini dan itu, ngidam tidak ada hentinya.


Usai membuatkan salad, Gadis membaginya menjadi dua, mangkok besar untuk ibu dan bapak, sedangkan mangkok sedang untuk Andra dan dirinya, walau tubuh Andra bagus, tetap saja pola makan Andra mulai tidak teratur sejak ngidam.


"Sayang, saladnya sudah jadi!" kata Gadis dari dapur.


Andra yang baru saja menyelesaikan dua pigora besarnya lantas berjalan ke dapur, keringat di wajah tampan duda itu tidak melunturkan apapun, justru wajahnya semakin pari purna.


"Siapa yang membuatnya?" tanya Andra setelah satu suap dan memejamkan mata enak.


"Istrimu," jawab Gadis sambil senyum-senyum. "Calon ibu dari anak-anakmu," tambahnya.


Andra suka bila istrinya memancing genit seperti itu, ingatkan dia untuk bertahan puasa setelah Gadis melahirkan, dan untuk tidak dendam pada anaknya nanti, sebab melihat gadis diam saja sudah membuatnya terpancing, apalagi berkedip genit dan bersuara manja.


"Omooo, Sayang!" jerit Gadis begitu tubuhnya melayang dan mendarat di meja makan. "Jangan begitu, ada anakmu, bahaya!"

__ADS_1


"Aku menjaganya, lihat kedua tanganku memegangmu kuat-kuat!"


Gadis tetap saja merengut, bukan meragukan Andra yang selalu bisa menopangnya, tapi dirinya sendiri yang mungkin ceroboh hingga Andra melepaskan kedua tangannya, semua keindahan akan hancur.


"Helen, marah?" Andra capit dagu Gadis, membuat keduanya bersitatap. "Helen, lihat sini!"


"Tidak mau, kamu buat aku mau jatuh!" balasnya.


"Tidak, aku hati-hati," sanggahnya.


"Bohong!"


Andra mengubah ekspresi wajahnya dan Gadis suka kalau dudanya sudah memelas, kesempatannya untuk berkuasa lebih lebar dan besar, dia sengaja terus merengut sampai Andra kepayahan, bingung mau membujuknya bagaimana.


Seringai licik terbit di sudut bibir Gadis, dengan senang hati dia akan memanfaatkan momen ini, apalagi kalau Andra sudah pasrah.


"Apapun yang aku mau?" Gadis melipat kedua tangannya ke depan dada, membusung hingga Andra ingin mencium gundukan cintanya itu. "Baiklah!"


"Ma-mau apa?" haus, dia haus kalau berdekatan dengan bukit kembar bak buah segar itu, dia mau mencicipinya sebelum putrinya lahir. "Katakan, akan aku turuti!" dia turunkan wajahnya ke sana, menciumi kulit Gadis hingga Gadis menjambak rambutnya.


Ini sesuatu yang berat dan akan sulit untuk Andra penuhi, tapi Gadis mau suaminya punya jalinan persaudaraan yang baik, terutama pada Hikam selaku kakak lelaki tertuanya.


"Jangan!" kata Andra.

__ADS_1


"Ayolah, Lisa baru saja melahirkan, ini bentuk peduli kita selaku keluarganya, Sayang. Kalau tidak mau, jangan lepas bungkus dadanya!" ancam Gadis.


Andra masih terlihat berpikir, dia menunduk memandang buah segar kesukaannya, sedikit lagi lepas dari pembungkus dan bisa dia lahap sampai puas.


"Helen, aku tidak mau Lisa mengganggumu lagi," akunya.


Gadis bergeleng. "Dia sudah berubah, Sayang, percayalah!"


***


Sesuai apa yang mau Gadis tadi, duda satu ini tidak akan betah bila Gadis merengut di depannya, apalagi diancam dia tidak dapat buah segar, pastinya Andra akan menuruti Gadis, menjenguk anaknya di dalam perut tak akan dibiarkan lewat hanya karena bertemu dengan Hikam dan Lisa.


Anak mereka laki-laki, mirip sekali dengan Hikam saat kecil, hal ini membuktikan bahwa benar anak Lisa adalah anak Hikam juga.


Pernyataan itu didukung oleh tes DNA yang sudah dilangsungkan setelah lahir, bayi tampan dengan tubuh montoknya.


"Dia seperti kak Hikam," kata Andra, mungkin dia tidak suka dengan masa lalu orang tua bayi itu, tapi bayi ini tidak berdosa, seperti yang Gadis katakan.


"Selamat, Kak. Selamat sudah menjadi ayah baru, sebentar lagi aku dan Helen akan menyusul," kata Andra menyalami Hikam, satu yang membuat Andra senang di sini, wajah Hikam tak murung lagi karena terbukti itu anaknya, walau salah diawal, dia telah menerima semuanya, termasuk Lisa yang perlahan berubah. "Jangan cemaskan apapun, lebih baik tata hidupmu dengan baik untuk dia, kesampingkan apa yang membuatmu sakit!"


Hikam lantas menyeka air matanya dengan jemarinya. "Aku kira kau tidak akan ke sini, kakek tidak berani mengajakmu, maafkan aku!"


"Heheeh, awalnya aku tidak mau karena takut istrimu aneh-aneh lagi, tapi Helen bilang dia sudah berubah, jadi aku mau," jelas Andra, dia lirik Gadis yang tengah berbincang dengan Lisa, mungkin tentang proses melahirkan.

__ADS_1


Mantan istri bertemu istri, huh, rumit!


__ADS_2