Jodohku Duda Muda

Jodohku Duda Muda
Kenapa Takut?


__ADS_3

Semalaman Andra tak masuk ke kamar itu, membiarkan Gadis terdiam seorang diri, merenungi kesalahan apa yang membuat rumah tangga mereka seperti di tepi jurang, bukan, jembatan goyang, mau jatuh tapi enggan, mau bertahan seperti tak kuat berpegangan.


Ya, itu yang ada di kepala Gadis, bukan Andra karena duda satu itu tampak santai, bahkan dia baru saja makan banyak dari masakan mertuanya, baru dia kembali ke bangunan utama untuk menunggui Gadis membuka pintu kamar.


"Eh, dia lihat ke kamar lagi, duuhhh!" gerutu Gadis.


Dia kira di jam was-was begini Andra akan terlelap, bisa jadi dia akan membuat drama menunggui Andra hingga pemuda itu tak marah padanya.


Bodoh, dia kan cuman mimpi dan terbawa suasana, sementara Andra masih ada di kantor, banyak pekerjaan menumpuk, duda itu juga seperti biasanya acuh bila di kantor, tapi dasar dia saja yang terbawa suasana bertemu Lisa dan terbanting sampai mimpi molor di rumah.


Tadi, aku nangis histeris, hilihh... kayak orang kesurupan jadinya!


Malu, Gadis mau mencakar wajahnya sendiri, mungkin mau mengganti dengan wajah yang lain. Dia itu wanita dewasa yang seharusnya lebih bijak, karena tangisnya tadi, ibu dan bapak khawatir, Andra terpaksa meninggalkan kantor, padahal belum usai, lalu dia membuat Sandro dilirik tajam oleh Andra karena dia tidak mau diantar Andra ke kamar.


Sial, Gadis kamu pasti dihukum duda itu!


Tapi, bagaimana kalau benar Andra di sana dekat dengan Lisa? Bagaimana kalau Lisa benar menggoda Andra, terus Andra tergoda sampai mau mencium Lisa yang berbibir merah?


Tok, tok, tok...


Duar!


Gadis berjinjit, pasti itu Andra yang mengetuk dan tahu kalau dia sudah bangun, sadar sepenuh hati, siap menerima konsekuensi atas pikiran buruknya.


Kamu itu umur 29 tahun, ya ampun, kamu itu lebih tua, pasti dilahap sama duda itu, mati kamu!


Tok, tok, tok...


Gadis mundur sampai tubuhnya membentur tembok, kedua tangannya terangkat, kedua kakinya gemetaran, lebih takut bertemu Andra dibandingkan menjawab banyak ocehan Lisa dan semua orang di muka bumi ini.


Oke, hukuman Andra itu nikmat, dia bisa merem melek, tapi bisa jadi dia akan dibatasi dalam segala hal, rencananya mencari info masa lalu Andra bisa rusak.


"Helen, buka!"


Gadis menggigit bibir bawahnya, dia bergeleng, sumpah demi apapun, dia takut melihat mata Andra, ingat tadi dia menolak tawaran Andra membantunya ke kamar.


"Helen, waktu aku buka pintu, kamu buka semua bajumu, buka jangan sampai ada yang tersisa, kalau sampai ada yang melekat, aku pastikan peluru bersarang di dadamu yang bulat!"

__ADS_1


Mati aku!


Masih sempatnya membahas bentuk dada bulat Gadis, di kepala Andra sepertinya semua bagian tubuh Gadis tergambar sempurna, hafal sampai lubang kecil sekalipun.


"Okay, aku hitung sampai tiga, kalau aku buka, semua harus terbuka!"


Glek,


Gadis memberanikan diri membuka mulutnya. "Aku yang marah ya, kamu berduaan sama Lisa, kok kamu yang ngancam aku, harusnya aku yang ngancam kamu!" gemetar dia berkata begitu.


Andra menyeringai tipis, dia memutar handle pintu, sedikit membuat tubuh Gadis tersentak.


"Masih bisa mengancam suamimu, setelah menolak tawarannya ke kamar, hah?" suara rendah Andra, tapi berhasil membuat sekujur tubuh Gadis terasa lumpuh.


Gadis mengepalkan kedua tangannya disisa kekuatan yang ada.


"Ahahahaha, boleh dong aku begitu, kamu kan asik berdua bersama mantan istri, iya kan?" balasnya hampir kencing di celana. "Cukup, berhenti kamu di sana!"


Andra menuruti langkah kaki yang terhenti itu, dia memandang Gadis lurus.


Seringai tipis tak bisa Gadis tepis sama sekali, dia merasa seakan mau dilumat, tembok yang sejak tadi jadi tempat bersandar seakan mau pergi meninggalkannya.


"Come on, Helen ... jangan berpikiran pendek!"


"Siapa yang berpikiran pendek?" eh, dia masih kuat ternyata membalas ocehan Andra.


"Masih bisa bertanya, cih!" gumam Andra. "Buka bajumu!"


"Tidak mau, enak saja, ini baju ya bajuku, melekat di tubuhku, enak saja mau dilepas. Apa kamu ingin karena terlena dengan Lisa di kantor? Dia seksi, kan? Dia cantik dan mempesona, kan?"


Rahang Andra sampai mengetat mendengar penuturan Gadis, bisa-bisanya membahas yang tidak-tidak soal dia di kantor, kalaupun dia berbicara dengan Lisa, itu semua tentang pekerjaan dan jelas menjaga nama baik kakek juga perusahaan.


Dia mengambil langkah sejengkal demi sejengkal, melepaskan jas hingga dasinya, lalu melonggarkan kemeja yang dia pakai, melepas gesper dan dia lemparkan sembarangan, semakin membuat Gadis gentar.


Menyebut nama Lisa di bibir Gadis membuat dia ingin menghancurkan habis bibir manis itu di dalam bibirnya, berani sekali saat mereka berdua memasukkan nama orang lain, terlebih lagi soal Lisa, Andra sensitif dinama itu, tidak mau Gadis memikirkan Lisa.


"Kenapa takut?" bisik Andra sambil memainkan telinga Gadis, membuat Gadis merinding sekaligus mau pingsan. "Aku kan suamimu, kenapa takut?"

__ADS_1


Andra ikat dan angkat kedua tangan Gadis ke atas, Gadis memalingkan wajahnya, embusan nafas Andra menamparnya lembut dan semi kasar berganti terus menerus.


"Hei, lihat aku!" Andra cengkram dagu Gadis lembut dengan satu tangannya yang bebas. "Tadi, siapa yang berani menolak tawaran suaminya? Menjawab semua ucapan suaminya? Tidak menyambut suaminya dengan baik? Berani memakai nada tinggi? Lalu, membantah perintah suaminya untuk melepas baju?"


Gadis tak menjawab, semua salah dia, Andra tak pernah, ubun-ubunnya mendadak panas, menguap, mengebul, kekuatannya yang hilang kembali memupuk, dia membalas tatapan Andra.


"Siapa yang berdiri dekat wanita lain? Senyum-senyum di depan umum, berjalan berdampingan, istrinya diabaikan, dia-"


"Ssssttt!" Andra menggeram.


"Kenapa, benar kan kalau kamu-"


"Cukup!"


Gadis memejamkan matanya, dia kelewatan sepertinya malam ini, dia melawan dan melewati batasnya sebagai istri dan wanita dewasa, nafasnya memburu, rasa takut kembali menghantuinya.


Dengan mudah Andra mengangkat tubuh Gadis dan melempar ringan pada ranjang, dengan kesadaran penuh Gadis seakan tak bisa melawan, dia mengaku salah, pasti malam ini Andra akan menghukumnya lebih parah.


Pemuda itu kemudian mengukungnya, bertumpuh pada kedua tangan dan lutut, menjatuhkan wajahnya ke leher Gadis, bukan mencium, melainkan menggigit kecil hingga Gadis mengerang kencang, setelah itu kedua tangan Andra meremat pinggang juga naik ke dada yang dia katakan bulat.


Tapi, setelah itu Andra menjauh, menarik diri hingga Gadis kecewa, dia sudah terlanjur terpancing menyerahkan diri, ternyata Andra menjauh dan wajahnya tampak tak menginginkan Gadis.


"Ndra-"


"Ya, kamu benar aku sudah puas melihat wajah Lisa, melihat senyumnya, lalu pulang melampiaskan padamu!" ujar Andra sengit, hilang kelembutan dan manja Andra, berubah menjadi pria yang kejam. "Kenapa menangis? Benar kan yang aku katakan?"


Gadis meringkuk, mendekap kedua kakinya, menangis terisak, dadanya sesak mendengar Andra mengatakan dia hanya pelampiasan.


"Ke mari!"


"Tidak mau!" balas Gadis sembari menangis sesenggukan, hatinya hancur mendengar itu semua.


Andra raup wajahnya. "Masih menolak suamimu?"


"Tidak ada bedanya menolak atau tidak!"


"HELEN!"

__ADS_1


__ADS_2