
Hikam tidak pernah bermimpi hidupnya ada di titik ini, dia akan menikah dengan Lisa dan langsung mempunyai anak, sebuah kesalahan yang tidak bisa dia akui salah.
Kandungan Lisa lebih tua dari Gadis, anak yang diakui anaknya itu akan lahir dua minggu lagi, hanya saja dia tak merasakan senang yang sebagaimana mestinya.
Melihat Andra dan Gadis yang sibuk mempersiapkan segala keperluan buah hati mereka, membuat hati Hikam berdesir, dia pun inginkan hal yang sama, peduli pada anak dan istrinya, sayangnya berat dan itu menjadi paksaan baginya.
"Mas, tidak kerja hari ini?" Lisa terheran suaminya masih duduk diam di teras.
Hikam menoleh, dia pun mengangguk. "Sebentar lagi, kenapa?"
"Tidak, hanya bertanya, biasanya kamu pergi lebih awal, " jawab Lisa kikuk, dia seperti tidak mengenal Hikam yang ini. "Kamu bawa bekal?"
"Tidak, aku ada meeting nanti." Hikam lantas berdiri, dia ambil tasnya dan menuju mobil, aktivitas paginya selalu jauh dari kata semangat.
Lisa hanya bisa mengusap dadanya, di tempat tinggal baru ini dia sudah berusaha menerima dan mengubah sikapnya, bukan Lisa yang licik dan suka menyakiti, tetapi sang suami masih saja dingin kepadanya.
__ADS_1
Ibu hamil besar itu hanya bisa menunduk sepi di teras rumah setelah suaminya pergi, air matanya menetes deras, dia sebentar lagi akan melahirkan, entah anak ini dianggap kesalahan atau tidak oleh suaminya, akan tetap lahir ke dunia.
Ya, mungkin ambisinya salah kala itu hingga banyak orang yang tidak terima dengan maunya, berselingkuh dari Andra dan berhubungan dengan kakak iparnya, sampai anak ini ada, tentu bukan hal yang mudah dimaafkan, tetapi dia sudah berubah, dia mengaku salah, seakan itu belum cukup untuk sebuah kata terima dari Hikam.
"Apa anakku akan jadi aib bagi mas Hikam?" gumamnya.
Berbeda dari kehidupan Andra dan Gadis di kota besar, manjanya Andra dan sabarnya Gadis, walau kesal setengah mati dengan suaminya itu, Gadis tetap tunduk patuh, terkadang saja dia membangkang.
Kamar untuk si cantiknya Andra sudah jadi, nuansa warna merah muda dengan gambar hello kitty di mana-mana, anak mereka diprediksi perempuan, sampai kontrol detik ini pun dipastikan perempuan dan tidak berubah.
Kebanyakan orang akan ingin anak lelaki sebagai penerus tahta, tetapi hal itu tidak berlaku pada Andra, dia anak termuda dan tentu saja porsinya ada sendiri, lagipula dia tak mau bergantung pada usaha orang tua, ada beberapa sayap yang dia bangkitkan sendiri.
"Sudah cukup, lagipula sebelum dia berusia tiga tahun, dia akan tidur dengan kita!"
"Apa! Kenapa dengan kita?" Andra menekuk wajahnya, tidak terima tidur bertiga. "Sudah kita buatkan kamar sendiri, kenapa harus dengan kita?"
__ADS_1
Kalau boleh, ingin Gadis lempar botol parfum ke kepala suaminya, anaknya itu masih butuh susu.
"Sayang, anak kita setelah lahir itu masih bayi, apa kau tega setiap jam aku berlari ke kamarnya memberi susu dan mengganti popok, hah?" Gadis berkacak pinggang. "Kalau dia sudah tiga tahun, dia sudah lepas ASI, dia lebih mandiri dan bisa kita lepas, nanti kita hanya mengeceknya dari pintu penghubung itu!"
"Lalu, bagaimana kalau aku mau memelukmu?"
Hahahahahah, sudah Gadis duga kalau dia salah menikahi duda muda manja satu ini, bisa-bisanya egois saat membahas anak.
Gadis bergeleng tidak menjawab, sedangkan itu menjadi tuntutan Andra, dia tidak mau kalau kedekatannya dengan Gadis terganggu.
"Baiklah, anakmu biar di kananku, kamu di kiri, jadi bisa memelukku!" kata Gadis.
"Terus, bagaimana kalau dia jatuh? Aku di sebelah kiri tidak akan bisa menjangkaunya," balas Andra.
Gadis pejamkan matanya singkat. "Kalau begitu, anakmu di tengah ya, Sayang...."
__ADS_1
"Tengah? Aku tidak bisa memelukmu, kalau aku mendekat, anak itu tergencet!"
Baaaaaaaahh, Gadis kepalkan salah satu tangannya, dia ayun sampai jatuh ke kepala Andra.