
Cukup lama Tika bermain dengan Manggala, berbeda dari Kaffa yang cenderung ketus, Gala lebih bisa memahami Tika.
Andra berusaha mendamaikan diri dengan keadaan yang ada, berhubungan baik dengan keluarga Hikam yang baru tanpa menyelipkan masa lalu, lagipula dia tak perlu takut anak Lisa menyakiti Tika, sebab selamanya Gala dan Tika akan menjadi saudara.
"Tika, Abang mau makan ayam goleng kliuk, kamu mau?" Gala menghampiri Tika yang tengah sibuk dengan boneka barbienya.
Mereka sedang berada di rumah kakek dan nenek, semua keluarga berkumpul, termasuk orang tua Gadis yang ikut ke sini, sebab mereka mau membahas pernikahan Gana selaku kakak nomor dua yang pada akhirnya melepas nasa lajang.
"Bang Gala beli ayam belapa? Tika suka banget loh!"
"Banyak, Abang inget kamu suka ayam goleng kliuk kan? Makan sama Abang!" ajak Gala, dia genggam tangan Tika.
Biarlah ini menjadi bukti bahwa masa lalu tak akan selalu membawa takdir buruk pada masa depan, hubungan Gadis dan Lisa pun sangat akrab, tidak ada iri dengki lagi meskipun Lisa tahu Gadis lah yang akan diutamakan di keluarga ini, Gadis adalah menantu utama pengganti dirinya yang buruk kala itu.
"Duduk sama Abang, bisa makan sendili atau Abang suapin?" Gala memang hanya berbeda bulan dengan Tika, bahkan masih tua Kaffa, tapi bisa Andra lihat bagaimana bocah itu membawahi Tika, sangat dewasa untuk anak seusianya.
"Makasi, Bang Gala. Tapi, aku boleh nggak minta sayapnya?" Tika memilih bagian ayam kesukaannya
__ADS_1
Gala mengangguk, dia ambilkan apa yang Tika mau, bahkan saat Tika memintanya menyuapi, Gala dengan senang hati melakukannya.
Keduanya tertawa bersama, bermain dan terlelap di depan televisi bersama.
"Tika mana, Helen?" Andra yang tak bisa jauh dari anaknya lantas kelabakan mencari. "Dia-"
"Tidur di depan tv sama Gala, biarkan saja, dia pasti lelah seharian main sama abangnya!" jawab Gadis.
Ya, akan Andra biarkan, tapi dia juga akan memastikan di sini, tak mau anaknya absen dari pandangan.
"Kamu harus jadi abang yang baik buat Tika!" kata Andra, dia usap kepala Gala yang sudah nyenyak, lalu beralih mencium pipi bulat Tika. "Papa sayang sama Tika, bahagia dan sehat selalu ya anak baik!"
Ah, dia itu melow banget hatinya, suka banget buat istrinya nangis, bisa sedekat itu sana anaknya.
Gadis lantas kembali ke dapur, di sana ada mertua dan kakak iparnya, Lisa banyak berubah, apalagi Hikam sudah murni mencintainya, bukan karena ambisi lagi, rasanya luka dan duka di masa lalu, terbayar sudah.
"Bu, kalau mau tiduran sama bapak silahkan saja, Gadis bisa kok jagain Tika sendiri, ada Andra juga-"
__ADS_1
"Kamu ini, jangan panggil nama, ganti atau tambahin 'Mas'gitu!" potong ibu, dia harus mengingatkan anaknya
Gadis terkekeh. "Tapi, dudanya Gadis menolak dipanggil itu, Bu. Dia tidak mau disebut tua dari Gadis!"
"Terus, apa kamu juga tidak mau disebut ibu-ibu, padahal sudah tidak gadis lagi, hem? Sudah, ganti Mas Andra saja!"
Mas Andra? Ahahahahha....
Entah kenapa canggung saja, belum tentu dudanya mau dipanggil begitu, Gadis mengintip sedikit, begitu suaminya puas melihat wajah sang anak, Gadis pun mencoba saran ibunya.
"Mas Andra," sapanya.
Kedua kaki Andra sontak berhenti, matanya membola, keningnya terlipat.
"Siapa yang Mas?" tanya Andra dengan api cemburu.
Loh!
__ADS_1