
Gadis berikan kantong berisi obat terlarang itu, mata Andra menajam dan segera meremat obat yang dia anggap laknat, dia lempar sembarangan, lalu menarik pinggang Gadis dan menyandarkan wajahnya di bagian empuk yang masih berbalut handuk itu.
"Ndra ... eheheheh, aku boleh pakai baju kan ya, dingin loh ini!"
"Mau aku hangatkan?"
Tidak mau!
Bibir Gadis mencebik, kalau suaminya begini terus yang ada dia akan beranak pinak cepat, lihat saja bagaimana Andra begitu handal menyentuhnya, pasti yang dulu ah-uh terus.
Eh, Gadis tepuk sendiri keningnya, memikirkan hal yang tak layak dia pikirkan, kalau duda satu ini dengar, dia bisa disuruh lepas handuk, polos sampai pagi.
Cukup lama Andra bersandar pada bukit empuk itu, yang jadi sandaran sudah kesemutan, dia dorong-dorong kepala Andra, menarik kecil rambut hitam legam itu.
"Kenapa, malas melayani suamimu?"
Eh,
"Ahahahahah, siapa yang bilang gitu sih, kan aku lagi terapi kepala ini, iya kan?"
Andra terkekeh, pasalnya Gadis bukan mendorong kepalanya dengan tangan, melainkan dengan gelombang bukit menyembul empuk itu.
Bukannya menjauh, Andra justru menenggelamkan wajahnya di sana, menghabiskan aroma wangi yang tersisa hingga tak berbisa di kulit Gadis.
Lalu, tangannya turun ke perut Gadis, dia mau anak dari Gadis, setidaknya itu membuat Gadis ada di sisinya, entah kenapa dia terbesit takut.
"Mau makan apa?" sudah berhasil lepas dari cengkraman harimau. "Mau dimasakin atau beli?"
"Terserah, yang penting dari tanganmu!"
"Ehehehehe, beli saja ya, aku malas masak, capek, Ndra, mau ya?"
Andra hanya mengangguk, dia lantas berlalu ke ruang kerja, membawa sejuta tanya pada diri Gadis, dia belum bisa tenang meskipun tadi Andra banyak menciumnya dan meminta obat itu dibuang.
Apa dia benar mau aku hamil anaknya? Terus, kalau aku hamil, dia bakal selamanya sama aku, tidak?
Gadis ambik kardigannya, dia berlari ke depan, nasi goreng di depan komplek ini baunya sangat harum dan ramai, dia ingin mencobanya.
Tanpa memberitahu Andra lebih dulu, Gadis berlalu begitu saja, dia memakai sepeda motor milik Sandro yang kuncinya selalu melekat di sana.
Ibu tersingkap, wanita itu masuk ke rumah Andra, tak ada Andra di sana, tapi suara dari ruang kerja membuat dia penasaran.
Tok, tok, tok ....
"Nak Andra, kamu di dalam sini?"
Ibu?
Andra putus sambungan teleponnya bersama Gio, dia bergegas membuka pintu, takut kalau ada sesuatu yang terjadinpada mertuanya.
"Nak Andra, Gadis ke mana itu kok ke luar gelap-gelap gini?"
Andra melebarkan matanya, dia tidak tahu dan Gadis tidak mengatakan apapun padanya.
Mereka berdua berlari turun, ini bukan hanya sudah malam, tapi mau berganti hari, sementara Gadis entah ke mana.
"Dia tidak membawa hapenya, Ibu lihat dia pakai jaket apa bagaimana?"
"Ya, gayanya Gadis biasanya itu."
"Tadi, cuman nawari Andra makan, dia bilang beli karena malas masak, cuman tidak tahu kalau ternyata beli sendiri," ungkap Andra, wajahnya sangat cemas.
Tak lama dari itu, sekitar lima belas menit keduanya menunggu, Andra tak sabar lagi, dia ke luarkan motor sportnya, dia akan mencari Gadis sampai ke ujung dunia.
Plak!
Harap-harap cemas, masalahnya ini lingkungan baru untuk mereka, Andra juga belum menyediakan maid di rumah ini untuk mertua dan istrinya, dia mau privacy terjaga, tapi istrinya justru iseng begini.
"Helen?" Andra memicing, dia yakin yang memakai kardigan merah muda itu adalah istrinya, dia putar gas mendekat. "Helen," panggilnya sedikit mengeraskan suara, sontak beberapa orang ikut menoleh.
__ADS_1
Gadis menganga, berkedip cepat seolah tak percaya Andra akan menyusulnya, sudah seperti anak kambing hilang saja.
Jaket tebal itu Andra lepas, dia berikan pada Gadis, semua orang menganga atas perlakuan Andra pada Gadis, mengantri nasi goreng sambil disuguhi adegan romantis bak sinetron.
"Ndra, aku-"
"Lain kali itu bilang kalau mau ke luar, di sini kamu tidak kenal siapa-siapa, kalau hilang dan ada yang menculik, kamu-" Andra raup wajahnya, dia begitu menarik perhatian. "-Bilang Abangnya biar cepet!"
Glek,
Abang nasgor menelan salivanya berat, lupa seketika mau masak apa, penggorengannya sampai mengebul, hanyut pada adegan sinetron yang Andra dan Gadis ciptakan.
"Terima kasih ya, Bang." Gadis ingin menutup wajahnya, malu. "Ayo, aku ikutin kamu dari belakang!"
"Jangan ulangi lagi!"
"Iya, Ndra, ayo pulang!" Gadis giring suaminya menjauh, duda muda satu ini menarik perhatian para wanita, tampan mengalahkan rembulan. "Iya, Ndra ... marahnya nanti di rumah, oke!"
***
Lisa Gadiskasari, nama yang harus Hikam hapus dari memorinya, dia sudah tak butuh wanita itu lagi, hadirnya tidak mendukung ataupun menguntungkannya.
Bahkan, sejak Andra menikah dengan Gadis, karirnya semaki melonjak dan banyak yang menaruh simpati pada hubungan mereka.
"Mau apa?" menjawab acuh panggilan Lisa.
Wanita itu terdengar merengek untuk ditemui, bosan di rumah besar itu sendiri, dia ingin kembali hidup berdua bersama Hikam sama seperti dulu, setiap hari mau menjerit rasanya bisa bertemu, kesenangan itu perlahan memudar.
"Aku tidak bisa, Lisa. Hentikan menghubungiku seperti ini, kau tahu kalau sekarang Andra semakin naik, sedangkan aku-" dia hela nafas sejenak. "-kau tahu apa yang terjadi padaku, Lisa? Aku adalah anak tertua di sini, tapi aku tidak mendapatkan apapun!"
"Sayang, kau akan mendapatkan semuanya, aku bersamamu, mari kita menikah dan membuat anak, dengan begitu kau akan merasa tentram." balas Lisa.
"Anak? Kau bisa memikirkan hal itu, bahkan aku belum tahu setelah menikah, apa mereka masih menerimaku, semua orang akan membicarakan kita, ternyata Lisa mantan istri Andra menjalin hubungan dengan mantan kakak iparnya, yang benar saja?!"
"Benar, itu kenyataannya, lagipula kita tidak akan membuka sejak kapan, kita bisa mengatakannya baru-baru ini setelah Andra menikah!"
Lisa merasa yakin, dulu saja Andra rela mengorbankan nama baik pria itu demi kehidupan Lisa dan Hikam, atas dasar hubungan keluarga, tentu untuk saat ini tak akan berubah, Andra akan memasang badan lagi untuk keutuhan keluarga besarnya itu.
Hikam pijat pelipisnya, dia tidak tahu harus apa, dunia seolah tak mau memihak kepadanya sama sekali, hancur.
Laporan hari ini semakin membuat kepalanya berdenyut, dia bukan yang santai seperti Gana, menerima apa adanya dan tak terlalu berambisi, dia mau menjadi penerus usaha keluarga ini, bukan yang ada di bawah kuasa Andra.
"Aku harus hamil lagi anak Hikam, intinya aku harus hamil, tapi bagaimana aku menjebaknya, dia tidak mau bertemu denganku, bagaimana?" berpikir Lisa, ayo berpikir.
Lisa mondar-mandir tidak menentu, dari satu sudut ke sudut lainnya, ponsel itu terus menyala, entah dia mau menghubungi siapa, yang bisa membantunya menyatu dengan Hikam hanya Andra.
Tapi, tidak mungkin dia menghubungi Andra setelah dia pergi jauh dan berjanji tak akan menghubungi Andra lagi.
"Dia, harus dia. Aku bisa gila memikirkan hal ini, aku mau Hikam menjadi suamiku, atau aku jebak saja dia, hem?" cetusnya. "Aku harus hamil, itu cara singkatnya!"
Sedang bulan ini, dia tidak ada tanda kehamilan, padahal dia tak menelan pil penunda sama sekali saat bersama Hikam.
Di rumah Andra,
Rutinitas usai bekerja tak lain menjadi ibu rumah tangga yang bersiap menunggu suaminya pulang.
Walau Andra acuh padanya di kantor, Gadis mulai beradaptasi dengan sifat bawan bunglon pada suaminya itu, dia usir pikiran buruk.
"Helen, Helen dan Helen, coba sekali saja panggil aku Gadis, kan enak!" gerutunya sambil membuat sambal.
Dia tidak sadar kalau suaminya sudah pulang, berdiri di ambang pintu dapur sambil mmengamati gerak-geriknya, menyeringai karena ocehan Gadis.
"Hei, Helen, pulang!"
"Helen, ambilkan bajuku!"
"Helen, apa kamu menolak suamimu?"
"Tidurkan aku, Helen!"
__ADS_1
Gadis berkacak pinggang, "Memangnya aku ini siapamu, menidurkanmu bagaimana, mata terpejam, yang bawah tidak mau tidur, alhasil aku yang tidak bisa tidur, dia pulas setelah itu, enak sekali dia!" lagi.
Belum ada reaksi dari Andra, dia masih berdiri dan bersandar di sana, menunggu sampai istrinya puas mengumpat di belakangnya.
Krompyang!
"Heleeeen, jangan berisik, aku itu lagi kerja!" dia tirukan gaya Andra. "Kamu itu bisa tidak kalau kerja yang benar, aku pusing di kantor, di rumah harus membantumu, mencemaskanmu dan lainnya ... ya ampun, banyak sekali dia kalau bicara dan-"
Duar,
Dia palingkan wajahnya, menoleh lagi guna memastikan kalau itu bukan Andra di dekat pintu.
Bukan, dia hanya bayangan, bukan!
Eh,
Gadis kemasi dan bereskan barangmu, kemudian pergi, selamatkan dirimu!
Andra tutup pintu dapur itu, dia dorong Gadis hingga terperangkap diantara dirinya dan kulkas, membatasi gerak Gadis.
"Sepertinya aku terlalu baik sampai kamu kurang ajar," bisik Andra.
"Apa, ahahahah, kamu ngomong apa sih, Ndra?"
"Aku, kamu yang ngomong dari tadi kok, ulangi!"
Gadis angkat kedua tangannya, "Ampun, aku hanya-"
Cup,
"Ndra, aku-"
Cup,
Duda ini, astaga!
"Ndra, hentikan!" dia tahan wajah Andra, hampir saja bibir itu menyambar bibirnya, dia sedang masak.
"Helen," panggilnya seraya menahan, Gadis mundur lagi, kedua alisnya terangkat. "Helen, benar obat itu sudah dibuang?"
Obat sialan itu, iya sudah.
Gadis mengangguk, Andra tersenyum penuh makna.
"Aku lanjutkan masaknya ya, kamu mandi dan begitu selesai, bisa langsung makan!" dia lebarkan kedua tangannya, terangkat tinggi dan berjinjit.
"Jangan begitu!" Andra turunkan kedua tangan Gadis. "Dia bergoyang kalau kau angkat begitu!" mencubit bantal empuk alami milik Gadis.
Gadis melotot, dia dekap kedua lengannya, bergeleng memberi batas pada Andra.
"Berkat tanganku, semakin besar, iya kan?"
"Hush, kamu ini, minggir!"
"Helen-"
"Pergi, jangan di dapur!"
Andra tergelak, dia suka gaya istrinya itu.
Ponsel Andra kembali bergetar, nama Lisa terpanjang di sana, memang belum dia hapus nomor mantan istrinya itu.
Ndra, angkat telponku, buat aku bertemu Hikam, aku harus hamil anaknya, atau mungkin anakmu? Lisa.
"Helen, ke mari!"
"Tunggu, aku mau menumis ini sebentar!"
"Ke mari, sekarang, Helen!"
__ADS_1