
Gadis bawa kembali kotak makan siang yang sengaja ingin dia berikan pada sang suami, perlu digaris bawahi olehnya bahwa di lingkungan kantor tak ada yang bisa berlaku kenal.
"Tapi, kan dia belum makan siang ini, pasti laper, nanti pulang jadi manja, tidak diberi makan istrinya, huh!" gerutu Gadis, dia kembali ke ruangannya.
Ajakan makan siang bersama Rena dan Sifa sengaja dia tolak demi duda muda satu itu, sayangnya dia harus makan sendiri, sejak kemarin Andra sibuk.
Bruk!
"Aduuhhh, jalan pakai mata dong!" duar, bukan orang lain, tapi duda yang dia cari.
Gadis kembali menunduk, dadanya berdebar kencang, bagaimana bisa dia tak melihat ada Andra di depan sini, hidungnya tak bisa mengendus keberadaan Andra rupanya, dia kira sudah ahli.
Pura-pura tidak lihat adalah hal terbaik, Gadis mulai mengayunkan langkah, tapi dengan cepat Andra menyambar pergelangan tangan Gadis dan menarik wanita itu masuk kembali ke ruangannya, tak peduli siapa yang berjalan dengan Andra tadi, Gadis hanya fokus pada jantungnya yang berdebar.
"Eheheheheheh," cengar-cengir, gawat memaki di depan orangnya langsung. "Pak Andra sudah makan?" tanya Gadis sambil mengangkat kotak makan siang yang tadi.
Andra buramkan pintu sambung ruangannya, mendudukkan Gadis ke meja kerja, memindai penampilan cantik wanita yang telah dia nikahi itu, dua hari tak menyapa Gadis lama, bahkan dia sibuk dengan Lisa dan semua keinginan anehnya, membuat hatinya rindu.
Cup!
Gadis dorong dada Andra menjauh, pria itu yang membatasi mereka berlaku kenal di kantor ini, tapi sekarang yang melanggar sendiri.
"Menolakku?"
"Bukan begitu, ini di kantor, Ndra. Aku tadi mau antar makan siang ini, kamu masih sibuk?"
Andra memicing memandang kotak makan siang itu, pasti susah payah Gadis membuatnya, rasa bersalah mulai merasuk.
Namun, percayalah kalau Andra tak mempunyai hati pada Lisa lagi, sepenuhnya dia berikan pada Gadis sekarang, hanya entag Gadis bisa mempercayainya atau tidak.
"Suapi aku!"
"Aku mau makan juga, Ndra. Kamu makan sendiri saja ya," balas Gadis sambil membuka kotak makan, lengkap ada banyak lauk kesukaan Andra. "Ayo, kamu makan, aku mau kembali ke ruangan-"
Andra bergeleng, satu jarinya berhenti tepat di depan bibir Gadis yang tadi dia kecup, permintaannya itu perintah, dia tak mau dibantah.
Sementara, Lisa yang tadi sempat berdiri di samping Gio dan mengikuti langkah Andra, menggerutu berulang kali pada Gio agar segera membawa dia bertemu dengan Andra, walau dia sudah bercerai, tapi melihat bagaimana Andra menarik tangan Gadis membuatnya kesal.
"Pelan-pelan makannya!" duda nakal, manja, seenaknya, suka kasih hukuman. Gadis mengomel dalam hati. "Minumnya ini!"
Andra tak mau tangan Gadis menjauh dari gelasnya, dia lapisi tangan itu sambil merasakan dinginnya air dan lentiknya jemari Gadis.
Bagaimana bila Gadis tahu selain Gio tadi, ada Lisa yang bersamanya?
__ADS_1
"Helen, i love you."
Heuh!
Gadis terperanjat, beruntung dia tak terjungkal karena ucapan itu, bisa dia katakan penuh bualan.
"Eheheheheh." balas Gadis terkekeh.
Love? Dari mana kata itu bisa ada?
"I love you."
Gadis garuk kepalanya, bingung mau menjawab apa, dia memang menerima perjodohan ini, menikah mendadak dengan Andra, menerima Andra sebagai suaminya dan memberikan hak suami pada Andra.
Tapi, bila ditanya soal cinta, rasa takut Gadis jauh lebih besar dari itu, keinginannya mencari. tahu penyebab perpisahan Andra dengan mantan istri pun masih menjadi benalu di kepalanya.
"Helen!"
"Iya, Ndra?!" dia ikut berteriak. "Uummmppttt!!"
***
Rena sisiri rambut Gadis kembali tidak aturan, otak dewasanya mulai menggambarka bagaimana Andra mencium temannya ini sampai rambut rapi Gadis acak-acakan, di kantor lagi.
"Fix, dia napsuan!" Sifa manggut-manggut. "Sudah aku bilang tadi, jangan ke ruangan suamimu, itu maut!"
"Dia tidak meminta lebih, kan?" Sifa mendekatkan wajahnya.
Gadis bergeleng, hampir sebenarnya tadi, tapi entah siapa yang menghubungi suaminya tadi sampai fokus Andra teralihkan dan dia bisa bebas.
Jangan harap di rumah bebas!
Belum apa-apa, Gadis meringis lebih dulu, tapi dia bertekad menutup diri dari Andra, titik.
Jam pulang kantor yang dulunya sangat Gadis puja, rasanya setelah menikah dia semakin malas, duda itu kalau tidak sibuk akan terus mengganggunya.
"Dis, kamu tahu kalau ada mantan istrinya pak Andra di sini?"
Duar!
Gadis bergeleng, memang Sifa itu paling update dalam segala hal, padahal mereka ke mana-mana sering bersama, sayangnya mata dan telinga Gadis kurang peka.
"Mantan istri? Masa?"
__ADS_1
Sifa mengangguk yakin, dia juga mendengar kalau itu yang namanya Lisa, tak salah ketika dia lihat, Lisa tengah berjalan ke loby bersama Gio, tangan kanan Andra.
Buat apa ke sini? Kasih ucapan selamat menikah?
Gadis kembali melangkah ke luar, pergi dan pulang kantor sendiri, Andra bilang akan ada orang suruhan yang mengawasinya, salah belok saja, Gadis akan diomeli sesampainya di rumah.
***
"Bu, Andra sudah pulang?"
Ibu mengangguk, justru dia mau bertanya pada Gadis alasan keduanya pulang sendiri-sendiri kalau memang tak ada lembur, ibu pun menganggap ini semua maunya Gadis.
Tanpa menunggu lama, Gadis naik ke kamarnya, mencari di mana duda muda itu berada.
Dari kamar ke ruang kerja, tak ada bayang Andra, jantung Gadis kembali berdegup kencang, dia takut hanya mobil Andra yang pulang, sedang raga suaminya itu sudah lepas dan ingin dia jadi janda.
Oh, no!
Gadis tepuk dadanya yang mendadak sesak, dia harus siap dengan semua kemungkinan ini.
"Helen," panggil Andra dari arah belakang, pemuda itu baru saja work out diwaktu senja. "Helen ..."
Gadis berbalik, memastikan benar itu suara dudanya, begitu benar itu Andra, matanya memanas, ada yang meleleh tanpa izin.
Gadis segera menghapusnya, mengulas senyum, lalu menyapa Andra seperti biasa, tak lupa kakinya bergerak mengikis jarak.
"Mencariku?"
"Iya, biasanya ada yang iseng di rumah ini, dari kemarin sepi, aku kira kamu tidak pul-"
Andra tarik tubuh Gadis, menempel tanpa celah, menyatukan kening mereka setelah mengecup singkat, bisa Gadis cium aroma maskulin dudanya itu.
Jemari Gadis menari di dada bidang dan basah Andra, pantad bagus, ternyata rajin olahraga tanpa dia tahu.
"Ndra," panggilnya lirih.
"Hem?"
"Tadi, mantan kamu ke kantor? Untuk apa?"
Andra mengumpat dalam hati, bukannya menjawab, Andra justru merapatkan pelukannya.
"Jangan cemburu, aku tidak ada urusan dengannya lagi!"
__ADS_1
Eh, siapa yang begitu? Masa iya, ketara?
"Ahahahah, cemburu? Ahahahahha, makanan apa itu?" cih!