
Gadis berjalan mengelilingi taman samping rumahnya, ditemani ibu dan bapak yang asik menikmati buah anggur merah hasil belanja menantu mereka, si duda itu.
Hari melahirkan putri mahkota Andra ini tingg menunggu hari saja, setiap menit yang terlewati ingin sekali Gadis abadikan, termasuk berkeliling rumah agar nanti dia tahu bedanya keliling rumah dalam kondisi hamil dan tidak.
Hampir sembilan bulan dia mengandung buah hatinya bersama Andra, selama itu juga dia selalu mendengar suaminya, si duda itu mengatakan cinta yang dia tunggu lama.
Hah, andai saja waktu itu aku menolaknya dan berpikiran pendek untuk pergi, pasti ibu dan bapak tidak bisa makan anggur bersama, terus Sandro tidak kuliah dengan benar, dia kan maunya kuliah kalau dudaku kasih ancaman, dasar!
Gadis tersenyum tipis, anak pertamanya diprediksi lahir perempuan, tapi tingkah manja suaminya mengalahkan anak koala, Gadis sampai beli obat sabar setiap harinya.
"Dis, sini dulu!" ajak Bapak.
"Mau apa?" enakan di sini ada air pancurannya, bisa basah-basah. "Gadis mau di sini enak!"
"Sini, Andra minta Bapak foto sama kamu, cepet!"
Kan, Gadis tahu tidak mungkin bapaknya memaksa kalau bukan si duda itu penyebabnya, padahal Gadis membawa ponselnya, masih saja ribetin orang!
Gadis lantas duduk di samping bapak, dia menampilkan senyum secantik mungkin agar suaminya puas, semenjak hamil besar dia memang gemuk, jadi mencari pose terbaik terkadang susah.
"Sudah, dia pasti suka kalau dapat fotomu," kata bapak.
__ADS_1
"Heheheheh, dia terlalu terobsesi sama Gadis, padahal kalau Gadis tidur pun difoto sama dia, tidak tahu buat apa," jelas Gadis, dia membuka kebiasaan konyol duda itu.
"Masa Andra senganggur itu?" bapak tidak percaya.
"Nanti kalau aku ada kesempatan bawa kabur hapenya, pasti aku kasih tahu Bapak bagaimana gilanya menantu duda Bapak itu, ada filenya sendiri loh!" jawab Gadis membenarkan.
Bapak tergelak sambil geleng kepala. "Itu tandanya dia sayang banget sama kamu, Dis. Bapak jadi senang dan tenang misal suatu saat nanti Bapak pergi, kamu sudah ada Andra yang menjaga, Sandro juga bisa mendampingi kamu sama Andra, Ibu juga ringan bebannya," katanya.
"Bapak harus sehat terus sampai main sama cucu, kan anak Gadis itu cewek, pasti dekat sama Opanya, ya!"
Bapak mengangguk, dia selalu berdoa diberi sehat dan kuat, agar nantinya bisa bersama anak dan cucu, melihat Sandro bekerja dan menikah, tapi urusan ini tetap dia pasrahkan pada yang Maha Kuasa.
Ocehan ketiga orang itu terhenti begitu Sandro membuka pagar, memarkirkan motornya dengan wajah lelah, menjadi mahasiswa tidak seenak bayangannya.
"Kamu kenapa?" tanya Gadis.
Sandro mengangkat kepalanya, menatap Gadis dengan mata berkaca-kaca, dia baru saja menerima aturan yang nyaris membuat ubun-ubunnya meledak.
"Kakak pacaran tidak sewaktu sekolah?" tanyanya.
Gadis mengangguk, tapi ya begitu dia selalu diputuskan lebih dulu, mengingat itu seakan merusak harga dirinya.
__ADS_1
Semua orang masih menunggu penjelasan Sandro, hubungan Sandro dengan masa muda Gadis.
"Kak Andra tahu kalau aku kenalan sama mahasiswi di sana, terus dia kirim orang buat batalin pertemuan aku sama cewek itu, Kak! katanya, aku baru boleh pacaran kalau sudah siap menikah," jelas Sandro, dia benar menangis sekarang.
Bukannya iba, Gadis justru tertawa sampai perutnya bergejolak.
Si duda itu ada-ada saja, tapi bila dipikir ada benarnya, hubungan memang katanya bisa memberi semangat, tetapi mimpi yang Andra siapkan untuk Sandro itu besar dan butuh perjuangan, dia tidak mau rusak hanya karena penawaran seorang wanita.
"Kak Andra ingin kamu jadi lelaki yang bertanggung jawab dulu, setelah itu kamu boleh mendekati wanita, buat dia bahagia dengan pernikahan. Kalau sekarang hanya senang-senang, kuliahmu bisa jadi sia-sia, untuk harapan besar kami ke kamu, Ndro!" kata Gadis.
"Tapi, apa tidak boleh cinta-cintaan?" Sandro terisak, baru kali ini Sandro menangis.
Bagaimana tidak, semua yang dia dapatkan akan ditarik Andra, bila Sandro tidak menurutinya, untuk itu sangat berat.
"Boleh, tapi dijaga dalam doa, bukan kamu sentuh atau berdua ke mana-mana, terus putus dan kebiasan cari baru, jadinya kuliahmu berubah tujuan yaitu cari pasangan, kamu harus jadi laki-laki yang layak, calon kepala rumah tangga yang mumpuni, bukan hanya sekadar cinta karena pembuktiannya harus kamu perjuangkan dari sekarang. Jangan sampai cinta, terus tidak kasih makan!" jawab Gadis, dia usap kepala adiknya.
"Kamu kalau nikah, bukan sama ceweknya, tapi sama keluarganya juga. Bapak, Ibu dan kamu coba lihat, sekeras apa kak Andra berjuang, apa kamu tidak mau seperti itu? belum tentu jodohmu mapan, tapi kamu harus mapan biar bisa bantu seperti ini, Ndro, paham ya?"
Sandro lantas bangkit dan memeluk Gadis kepayahan.
"Jangan lama-lama, ada cctv, kak Andra bisa lihat, nanti aku yang dihukum!" omel Gadis.
__ADS_1
Di kantornya, Andra menyeringai dan menatap tajam ponselnya.
Minta dikurangi jatah jajannya, peluk-peluk!