
"Kak, semalam kalian kenapa?"
Gadis memutar tubuhnya, keningnya mengenyit, semalam yang mana yang adiknya bahas, atau sampai pagi juga yang akan Sandro bahas, bisa malu dia.
Hanya dengan memiringkan kepalanya, Sandro menambahkan penjelasan dalam pertanyaaannya itu.
"Aku tidak sengaja mendengar suara bentakan kak Andra dan Kakak, apa yang terjadi? Lalu, waktu tengah malam menjelang pagi, aku mendengar Kakak berteriak memanggil nama kak Andra, tapi kali ini bukan bertengkar, kalian seperti berman-" Gadis bekap mulut Sandro, dia melirik ke kanan dan kiri, mendongakkan kepala, memutar ke belakang dan depan, memastikan tak ada si duda muda itu. "-kalian bertengkar karena apa dan baikan karena apa?"
Rumit!
"Biasa rumah tangga, nanti kalau kamu sudah dewasa dan menikah akan paham, selalu ada yang tidak cocok dan kembali akur." Gadis menjauh, kalau duda itu melihat dia berada dalam radius terlalu dekat dengan Sandro, walau itu adiknya, bisa tidak selamat hari ini. "Sudah, kamu mau makan apa?"
Sandro menunjuk ikan gurami asam manis yang ada tak jauh dari pinggang Gadis, sejatinya dia masih penasaran, dia tidak mengatakan pada Gadis kalau kemarin sempat melihat ke dalam, kakaknya ini tengah ada di gendongan sang kakak ipar, mesra sekali sambil mencak-mencak.
Ah, Sandro jadi ingin menikah biar bisa menggendong wanita pujaan, dia lirik lagi Gadis yang tengah mengambilkan menu untuk sang suami, begitu telaten sampai ukuran nasinya saja ditakar berulang kali.
Apa itu untuk menjaga stamina pria, huft!
Sandro membandingkan nasinya dengan nasi milik kakak ipar di tangan Gadis, dia gedihkan bahunya, kakak iparnya itu besar meskipun wajahnya baby face, entah kenapa Gadis hanya mengambilkan nasi dalam hitungan jari bila disuapkan.
"Sana makan, jangan lirik-lirik!"
Sandro julurkan lidahnya, dia berlalu mengambil duduk di ruang tengah, bebas mau menonton apa saja karena hari ini Andra libur, bapak dan ibu pun diundang ke bangunan utama, mereka menghabiskan waktu bersama seharian nantinya.
Dua porsi makanan ada di tangan Gadis, dia hampiri suaminya yang tengah asik mengobrol bersama bapak dan ibu, Andra memang tak bisa dielak menjadi menantu idaman, perlakuannya pada kedua orang tua Gadis tak pernah ada kata minus.
__ADS_1
"Sayang, ini sarapannya ... aku ambil minum dulu!"
Sayang? ahahahahah, iya, Gadis harus sujud syukur karena hanya itu yang Andra minta sebagai suapan meredakan emosi yang ada, mereka sudah berbaikan, dan bisa dibilang ini terapi agar Andra bisa mengakui perasaannya pada Gadis.
Andra menyipitkan matanya, dia mengangguk samar sebelum Gadis melenggang pergi mengambilkan air minum, satu kata yang bisa dia ungkapkan pada Gadis, yakni seksi.
"Bapak dan Ibu makan juga, Sandro pasti sudah main game di sana, silakan!"
"Iya, Nak. Pasti Sandro itu bikin tagihan kamu bengkak, biar Bap-"
"Jangan, nggak apa, Pak. Biar dia main, jarang ada waktu buat dia main karena dia janji bakal masuk universitas terbaik setelah ini ke Andra, jadi dia nurut." Andra menjelaskan dengan tenang.
Gadis yang baru saja tiba sembari membawa dua gelas besar air putih pun menimpali. "Bener, Sandro sudah janji sama Andra buat kuliah bagus nanti, Pak."
Andra mengangguk, hari ini spesial tak ada yang memasak, semua Andra pesan untuk pengiriman pagi buta, mereka seharian akan makan tanpa susah payah.
"Helen, duduk sini!" menepuk pahanya.
"Hush, mana ada makan begitu. Sudah, ayo makan!" Gadis berikan sendok ke piring Andra, duda itu menolak, bibirnya mencebik, dia tetap mau Gadis ada di pangkuannya. "Heh, kalau aku duduk di sana sambil makan, itu akan terganggu, dudukku tidak nyaman karena milikmu yang oversize dan keras, malam saja kalau duduk di sana, oke..." Gadis menunjuk-nunjuk si itu.
Andra terkekeh, bibirnya yang mencebik dia tarik kembali, dia toel pipi Gadis gemas, lalu menurut makan, tetap ingat nanti malam harus duduk di pangkuan Andra, hanya sekadar duduk, kalau tidak khilaf.
Dering ponsel Andra memecah keheningan keduanya saat makan, bahkan disisa akhir, Andra meminta Gadis menyuapinya, pemandangan yang membuat jomlo terluka.
"Siapa? Kenapa tidak diangkat?"
__ADS_1
"Nanti kamu cemburu, aku tidak mau, kita baru saja berbaikan, ya kan?" Andra menekan paha Gadis, sontak saja Gadis cubit tangan itu. "Auh, kau ini, awas!"
Ya, bisa dibilang hubungan mereka membaik, tapi tetap belum ada pernyataan cinta dari Andra, duda itu keukeuh akan mengatakannya kalau Gadis sudah hamil anak mereka, itu artinya kalau mau kata cinta, Gadis harus kerja keras setiap malam.
Walaupun tanpa ada pernyataan, semua bisa Gadis lihat dengan jelas, bagaimana perhatian Andra padanya, keluarga dan lainnya, tak ada yang main-main.
Namun, tetap saja Gadis mengikuti pemikiran yang ada di kalangan masyarakat kita di mana janda atau duda dari cerai mati akan lebih indah dibandingkan yang cerai hidup, pasti ada masalah besar di sana, bisa jadi yang kedua dijadikan pelampiasan, itu yang masih bercokol di kepala Gadis meskipun Andra memperlakukannya dengan baik, termasuk pada keluarganya, lagipula usia Andra masih terbilang muda.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada, habiskan minumnya, sekalian mau aku cuci. Terus, kapan di rumah ini ada maid tetapnya, Sayang?" setiap kali Gadis memanggil Andra spesial, ada yang berdesir di dada Andra, ingin dia tindih saja Gadis.
Entah sampai kapan Gadis itu tidak Gadis lagi?! Aaarrrrrghhhh!!
Andra menyampirkan rambut Gadis yang terburai ke balik telinga, dia mendekat dan mengecup bibir berminyak itu singkat.
"Apa butuh? Bagaimana kalau aku pulang kerja, lalu ingin bercinta denganmu di luar kamar? Maid itu pasti sakit mata-"
"Sudah, pasang orang-orangan sawah saja!" potong Gadis sebal, dia merengut dan menampilkan wajah jeleknya sesaat. "Dia kira aku ini pemain film begitu apa, sampai harus di luar kamar? Eh, tapi bagaimana rasanya ya?" gerutu Gadis sambil meninggalkan Andra, memukul kepalanya ringan sendiri karena gemas dengan otak dangkalnya itu. "Hentikan!"
Sementara Andra kembali menatap layar ponselnya, berulang kali Lisa meminta dia untuk bertemu berdua, wanita itu seperti kehilangan akal karena tak mendapatkan respon baik dari Hikam, helaan nafas Andra terdengar cukup berat, dia tahu Lisa bisa berbuat nekat, dan tidak akan dia biarkan kalau Lisa berani menyentuh Gadis-nya.
Lisa: [Ndra, bisa kita bertemu, aku ada di hotel Xxx, aku ingin bicara tentang perlakuan Hikam padaku beberapa hari ini, apa bisa kita bertemu?]
Lisa: [Sepertinya aku ada tanda-tanda hamil, bisa tolong aku?]
__ADS_1