
Gadis memunculkan wajahnya penuh, cengar-cengir membalas tatapan kesal Lisa.
Cantik, seksi dan sempurna!
Gadis sampai tak berani menoleh pada dirinya sendiri, di kepalanya mulai berpikiran yang tidak-tidak, bila bersamanya yang minus saja Andra bisa minta tambah, apalagi yang seksi begini, diam-diam batinnya berubah kesal.
"Aku?" Gadis menunjuk dirinya sendiri. "Jelas aku ikut, kan aku istrinya Andra, apalagi dia ke hotel, nanti kalau ada penari ular, kasihan Andranya dililit tidak bisa pulang!" Gadis menjatuhkan wajahnya ke bahu Andra, dia sedikit berjinjit.
Cup!
Andra tersenyum, dia bisa mengambil banyak kesempatan di sini, membuat Gadis cemburu dan tentunya dapat jatah.
"Ndra, tapi dia kan ini aku lagi butuh konsul sama kamu soal dan dia tidak tahu!" Lisa merasa lidahnya keluh, hilang semua cadangan kalimat rayuan untuk Andra.
Semua karena Gadis yang mendapatkan kecupan dari Andra di depan matanya, istri sialan itu membuat Lisa kehilangan rencana.
Obat perangsang, ranjang penuh mawar, baju seksi, sudah dia sediakan, dalam kondisi praduga hamil anak Hikam pun, Lisa masih mencari rencana kedua bila bersama Hikam benar tak bisa, dia ingin menjebak Andra, setidaknya dia dan anak itu masuk dalam keluarga mereka.
Lisa memicing pada Gadis, memperhatikan setiap gerak-gerik Gadis yang mengekor pada Andra, mata Gadis terus memprovokasinya, membuatnya kesal bukan main.
"Biar aku saja yang membuat minum untuk Andra, aku hafal ukuran gula dan airnya," ujar Gadis menggeser posisi Lisa.
__ADS_1
Lisa mendengus. "Aku istri pertamanya, jadi aku lebih kenal dan hafal dengan Andra, biarkan aku saja!"
Gadis menolak, dia tepis dan cipratkan air panas sedikit ke kulit Lisa, menjulurkan lidahnya sebelum melenggang pergi.
"Awas kamu!"
Gadis menoleh, dia kembali menjulurkan lidahnya, berjalan kembali menuju Andra yang sedari tadi tak melepas mata akan dirinya.
Jujur, tatapan Andra membuatnya malu, pasalnya di sini Lisa jauh lebih seksi darinya, wajah jangan ditanya, Gadis masih beruntung punya mantan meskipun mereka terpaksa.
"Sayaaang, ini kopi susunya, diminum ya..." Gadis duduk di samping Andra.
Andra menyugat surai milik Gadis, dia pun bertanya. "Benar yang dia katakan?"
"Iya, benar. Aku hanya antisipasi si penari ularmu ini, berbuat yang tidak-tidak. Dia bisa saja memberimu aneka obat tidur atau apa, lalu membuat drama kehamilan, tidak akan aku biarkan!" Gadis mencengkram tangan Andra, kemudian dia lepas setelah Andra melirik tangannya. "Aku tidak mau dia menyentuh suamiku!" tegas Gadis.
Ah, Andra suka pertengkaran ini, sisi liar Gadis bisa dia munculkan, liar dalam mencintainya meskipun belum mereka ungkapkan bersama.
Lisa mengepalkan tangannya, Gadis benar-benar menguji kesabaran yang dia punya, semakin kesal karena Andra tak meliriknya barang sedetikpun.
"Ndra, aku hamil anak kakakmu!"
__ADS_1
Duar!
Gadis menganga, sementara Andra tak menunjukkan ekspresi terkejut sama sekali. Duda itu justru memainkan anak rambut Gadis untuk dia tarik ringan dan dia kecup berulanh kali.
"Aku hamil anak Hikam, Ndra. Dan dia tidak mau bertemu denganku, dia ragu kalau ini adalah anaknya, tolong aku!"
What?
Sekali lagi Gadis menganga lebar, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Bahkan, kini Lisa bersimpuh di depan Andra, menangis terseduh-seduh sambil memegang perutnya.
Andra endak bergerak, tapi Gadis tahan, dia bergeleng lemah.
"Ak-aku punya testpack, mau tes bersama?" tawar Gadis gugup.
Andra lantas menarik dan menangkup wajah Gadis, membuat Gadis menatap matanya.
"Untuk apa kau membelinya? Apa untuk memeriksa calon anak kita?" tanya Andra.
Apa!
Lisa mencengkram lantai keramik itu dengan ujung-ujung kukunya.
__ADS_1