Jodohku Duda Muda

Jodohku Duda Muda
Memanjakan Duda


__ADS_3

"Aku tidak cemburu!"


Andra terus mendesaknya mengaku cemburu, kata itu seolah menjadi obsesi baru Andra setelah suka mengajak memenuhi hak suami.


Dia terus menggelengkan kepala, enak saja disuruh mengaku cemburu, tapi tak dijelaskan apapun. Kalau begini, jangan salahkan Gadis yang terus merasa curiga padanya, Andra terus menutupi masalah mantan istri.


"Helen, baiklah kalau tak mau mengaku. Aku tidak akan membiarkanmu ke luar rumah setelah ini!"


"Ke rumah ibu?" Gadis melanjutkan genjatan senjatanya. "Kalau ke rumah ibu pasti tidak dilarang, kan? Kamu menantu baik dan kesayangannya ibu, jadi kamu tidak akan melarangku ke sana, kan? Yeah!" Gadis mengangkat kedua tangannya tinggi, sungguh dia selalu lupa kalau gerakan itu bisa membuat buah segarnya terombang-ambing.


Oh, tolong katakan pada Gadis kalau tingkahnya yang seperti ini semakin membuat Andra jatuh hati padanya dan tak mungkin melihat wanita lain, terlebih lagi Lisa.


Andai bisa dia katakan, tapi semua itu tak ingin dia bahas, dia ingin membahas masa depan bersama Gadis. Berbeda dari Gadis yang terus merasa penasaran dengan masa lalu Andra, dia seperti tak bisa mengurungkan niatnya untuk mencari tahu hubungan rumit itu.


"Yeah, aku lepas, aku bisa ke rumah ibu, wek!"


Plok!


Gadis pijat pinggangnya, sambil meringis karena jatuh begitu saja, sementara Andra menjulurkan lidah sembari mendekat.


Kedua tangan Andra dengan ringannya mengangkat tubuh Gadis, membawa istrinya kembali ke kamar, pandangannya tak mau lepas, mengunci mata Gadis hanya untuknya.


"Ndra, bokongku sakit!" rengek Gadis minta turun, dia mau rebahan sendiri.


"Aku bantu obati."


No!


Big no untuk Andra, Gadis bergegas berlari begitu tubuhnya mendarat di ranjang kebanggaan Andra, kalau terus bergumul, yang ada dia akan segera mengandung anak Andra, duda yang entah tidak jelas menurutnya.


"Helen!" teriaknya, langkahnya lebih lebar dari Gadis, menangkap wanita itu lebih mudah. "Berhenti atau aku bilang ke ibu kalau kamu durhaka!"


Eh,


Gadis hentikan laju kakinya, berhenti mendadak bukanlah ide yang aman, karena itu tubuh keduanya menjadi sangat dekat saat Andra menabraknya dari belakang, bahkan kedua tangan Andra langsung melinggar sampai mengikat di perut Gadis.


Anak, nanti akan ada anaknya di sini, menebus semua luka di masa lalu yang cukup mencekik dan membuat dia sekarat.


Nafas mereka saling kejar-kejaran, bisa Andra rasakan benda empuk itu menabrak tangannya berulang kali, seolah tak mau menjauh dan ingin dia sentuh.

__ADS_1


"Ndra, jangan!" pinta Gadis sambil mengatur nafasnya


Andra hanya terus memandang Gadis yang terpejam seolah bertanya kenapa dia ditolak saat ini, saat mereka sangat dekat dan intim.


"Aku mau jalan-jalan, masa ketemu kamu cuman buat itu terus, kan aku ya mau disenengin!" rengek Gadis dengan nafas tersengal.


Mendengar itu, bukannya Andra marah karena hasratnya ditangguhkan, dia justru merasa senang karena Gadis tak melulu memikirkan ranjang, kesenangan sesaat, melainkan banyak hal yang bisa mereka lakukan untuk sebuah kesenangan.


Kini, Gadis sudah berhadapan dengan Andra, berusaha tenang dan menatap mata duda tampan satu ini.


"Mandi dan ganti baju, jangan yang terbuka, aku tunggu segera!" Andra kecup pipi Gadis.


Seumur kenal dengan Lisa dan menikahi wanita itu, yang Andra rasakan hanya berjuang bahagia sendiri, Lisa hanya memanfaatkannya yang sialnya dia cinta.


Gadis mengangguk, walau Gadis belum bisa membalas kata cinta dari Andra, tapi tak terlihat niat Gadis meninggalkan Andra hingga Andra tak bisa melepas wanita seperti Gadis, wanita yang akan selalu bertahan bersamanya.


"Aku pakai baju ini ya, pas kan?"


"Cardiganmu mana?" Andra berdecak, tak suka lengan Gadis terlihat. "Ambil, Helen. Aku mau kau memakainya!"


"Okay, tunggu, Baginda Raja!"


Purrfffttt!!


Ck, seperti ibu jalan sama anak ABG nya saja!


Sebelum pergi, Gadis sempatkan bertemu ibu dan bapaknya, kebetulan Sandro juga ada di rumah, sibuk dengan tumpukan buku pelajaran.


"Gitu, belajar yang pinter, biar Kakak tidak sia-sia!" ujar Gadis.


Sandro menjulurkan lidahnya saja, masa bodoh karena yang memberi dia uang saku sekarang Andra, kakak ipar mudanya yang menggemaskan.


"Bu, aku sama Andra ke luar sebentar, Ibu sama Bapak mau titip apa?"


Ibu tersenyum melihat dua orang berpasangan, tapi beda generasi itu, Gadis terlihat cocok dengan gaya Andra meskipun wajah Gadis menandakan tidak suka.


"Tidak titip apa-apa, semua masih banyak. Kamu senang-senang saja sama suamimu sana, mana Andra?"


Andra langsung menghampiri, seperti biasa menjadi kakak ipar terbaik, selalu menyapa Sandro dan mendapatkan hatinya.

__ADS_1


"Bu, Pak, aku sama Helen mau jalan-jalan, tidak perlu mengunci pagar, semuanya akan aman!"


"Iya, kalian senang-senang sana, dua hari pasti kangen si Gadis ini, Ndra sama kamu!" canda ibu.


Ibu!


Gadis mendelik, tubuhnya tersentak saat Andra menariknya, membuat jarak mereka terkikis.


"Andra mau buat senang Helen, biar dia tidak stress dan bisa hamil setelah ini, ya kan, Bu, Pak?"


Daebak!


Bukan hanya kedua orang tuanya, adiknya pun memberi dukungan.


***


Dandanan yang sangat kontras dengan kondisi sekitar, pasalnya Andra mengajak Gadis ke sebuah rumah makan model kuno, bangunannya membuat Gadis terpelanting ke jaman dahulu kala, mungkin saat dia sudah main selurutan, sedangkan Andra baru lahir.


Empat tahun bukan jarak yang jauh, tapi lumayan menurut Gadis dari segi pengalaman di masa lalu.


"Aku suka rumah makan ini sejak kecil, dia masih bertahan, pemilik dan kokinya pun sudah sangat tua, tapi masakannya sangat enak, cocok di lidahku, siapa tahu kamu bisa masak, eheheheh."


"Eheheheheh," Gadis menyengir kuda, sudah dia duga kalau ada maunya, si duda ini tak mungkin mengajaknya kalau tidak dimanfaatkan.


Baiklah, dia memang istri yang baik dengan semua fasilitas yang ada.


Apa dia pelampiasan? Huft.


"Coba cicipi yang ini, Helen!" Andra tampak sangat senang.


Gadis mengangguk, dia cicipi sesuai yang Andra tunjuk, dia mau bersujud saja di kaki pemiliknya, kenal sampai semua keluarga Andra.


"Rasakan dengan baik, nanti aku minta kamu masak ini, aku pasti doyan makan setelahnya!"


"Ahahahaha, oke!" oke, kepalamu, Dis!


Cicip dan terus mencicip, kalau ini namanya bukan memanjakan Gadis, tapi memanjakan Andra dengan semua yang duda itu mau.


Mau melawan, ingat jaminan.

__ADS_1


Gadis lahap satu per satu sampai semua rasa dia hafalkan dengan baik, lalu dia merasa kehilangan sesuatu, Andra yang tadinya ada di depan, sudah menghilang saat dia mengangkat wajahnya.


"Ndraaaa, aku tidak ditinggalkan ya?"


__ADS_2