
"Keringkan rambutku!" pinta Andra, dia duduk di bawah, sedangkan Gadis ada di tepi ranjang, mereka baru saja mandi bersama, menolak keinginan duda ini sama saja cari mati. "Hari ini melakukan apa saja?"
Gadis tidak menjawab, dia fokus mengeringkan rambut basah Andra yang menurutnya sangat wangi, tapi mendadak ada sentilan nyeri di perut bawahnya.
"Aawws!!" pekik Gadis.
Tidak peduli karena gerakan refleknya, pengering rambut itu jatuh dan pecah, Andra lantas duduk memegangi perut Gadis.
Mata Gadis terpejam, dia meringis manahan sakit yang mendadak datang tanpa undangan, kedua kakinya seakan tak mau dirapatkan, Gadis berusaha menahan, hanya saja pembawaannya ingin terbuka lebar.
"Sayang, anaknya mau ke luar!" kata Gadis terbata-bata.
Bola mata Andra rasanya mau melompat dari rongganya, dia bahkan baru mengambil cuti dua hari lagi, sedangkan anaknya si cantik itu mau ke luar malam ini.
Yang benar saja?!
Andra lantas berdiri, dia meminta Gadis untuk tenang karena dirinya sendiri nyatanya tidak bisa tenang, Gadis terus saja meringis dan merasa ada yang mendorong dari dalam.
"Sa-sayaaang, sakit!" Gadis berteriak kesakitan, dia berusaha menggapai tangan suaminya yang bebas, tapi tidak bisa. "Heh, duda!" bentaknya.
dasar duda tidak berpengalaman!
Gadis menggerutu dalam hati, nyatanya Andra hanya diam membeku, tidak melakukan apapun selain berdiri mematung.
"Helen, aku-" Andra rasa semua organ tubuhnya demo berhenti kerja.
__ADS_1
"Panggilkan ibu cepat!" titah Gadis sambil menahan sakitnya, sungguh dia mau buang air besar juga rasanya, tapi ini lebih parah dari sakit perut biasa. "Dudaaaaa, aaaarrrghhh!"
"Iy-iya, aku panggil!"
Coba saja kalau tidak sakit, Gadis pasti melempar suaminya dengan bantal dan guling, duda itu bukannya menghubungi ponsel ibu dan bapak, tapi berlari ke luar kamar, memanggil ibu secara langsung di bangunan sebelah.
Oh, ya ampun... Gadis tahu duda itu belum pernah ada di fase ini, tapi entah kenapa baru kali ini dia melihat Andra tidak bisa berpikir jernih.
"Astaga, sakit sekali!" keluhnya tiada henti.
Gadis berusaha mencari obyek lain untuk mengalihkan perhatiannya, tapi itu lagi-lagi gagal karena sakitnya hanya reda sebentar.
Sekitar sepuluh menit berlalu, barulah terdengar suara orang berlari ke kamarnya, Gadis sedikit mengembangkan senyuman.
Gadis hanya bisa mengangguk, dia ingin ibunya segera membawa dirinya ke rumah sakit.
"Dudamu, dia pingsan di depan. Sandro saja ya yang membantumu jalan?"
Apa!
Gadis mengepalkan kedua tangannya, disaat seperti ini masih sempat-sempatnya pingsan, dia saja bertahan sampai bibir pecah-pecah.
Tadi enak sekali dia minta jatah, katanya buat lancar lahiran, sekarang dia yang pingsan, dasar!
Perlahan Gadis dibantu Sandro menuruni anak tangga, sesekali berhenti dan membiarkan Gadis menyelesaikan sakitnya, sampai akhirnya mereka ada di mobil dan saling melempar pandangan.
__ADS_1
"Siapa yang mengemudi?" tanya bapak bingung, dia tidak mungkin mengemudi, Sandro belum punya SIM, sedangkan duda di samping Gadis masih lemas.
Andra yang baru membuka mata lantas mengambil kuncinya. "Biar aku saja, aku bisa Helen," katanya.
Tapi, hal itu tidak Gadis indahkan, dia malah menyuruh Andra meminta Sandro atau orang di komplek ini membantunya.
"Aku bisa!" tegasnya.
"Tapi, kamu baru saja sadar dan masih lemas!" tolak Gadis mentah-mentah.
Bapak menekan keningnya berulang kali. "Mau sampai kapan kalian bertengkar di sini? Sampai anak kalian lahir?"
Awwwss!
Gadis memekik lagi, mau tidak mau dia percaya pada suaminya yang baru saja sadar itu.
Andra berusaha mengatur konsentrasinya, pekikkan Gadis adalah sayatan baginya karena dia yang tadi membuat Gadis sakit saat ini, dia berulah minta jatah banyak.
Nak, tunggu, jangan lahir dulu!
Maksud Andra, di rumah sakit saja, dia parno dengan yang melahirkan di jalan, bisa-bisa dia pingsan lagi.
"Cepet!" teriak Gadis, dia sudah ingin melebarkan kedua kakinya. "Aaarrrghhhh, basah!"
Deg!
__ADS_1