
Ibu menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk bangunan utama, seharusnya dia tidak ke sini pagi hari karena pemandangan dewasa itu akan membuat matanya cedera.
Mantu Ibu itu mesumm!
Huh, harusnya dia ingat ucapan Gadis, lagi-lagi dia merasa umurnya sudah tak muda lagi atau mungkin Andra saja yang suka seenaknya.
Benar ini rumahnya, tapi kan jangan buat orang syok dengan suka mencium di lahan umum, siapa saja bisa ke dapur Gadis, kalau mau cium-cium ya di kamar saja.
"Sayang, aku ke bawah dulu, ada ibu mau ketemu Tika. Kamu buruan pakai baju kerja!" kata Gadis sambil menggendong bayi cantiknya.
"Anakku mau dibawa ke mana?" Andra menyembul ke luar dengan rambut berbusa.
"Ke bawah sama neneknya, nanti sore jadi man kamu ajak kita ke rumah mama?" Gadis memastikan ulang, masalahnya duda satu itu belum membawa Tika ke rumah kedua orang tuanya, justru orang tua Gadis yang dekat dengan Tika, sedangkan keluarga Andra masih dibatasi.
Andra bilang sudah tak ada dendam dan sakit hati, hanya saja kilasan masa lalu membuat Andra enggan berlama-lama di rumah itu, dia menjadi sakit hati sendiri.
Andra hanya mengangguk, dia bawa tubuhnya kembali ke guyuran shower, membayangkan anaknya akan digendong Gana dan lainnya, fia rungsing sendiri.
Tika, Papa tidak mau kalau kamu tahu Papa sedih di sana, ada luka yang Papa sendiri sulit sembuhnya.
__ADS_1
Menjadi anak termuda dan tempat iri dengki saudara memang tak mudah bagi Andra, apalagi sejak kasus Lisa yang kedua orang tuanya bahkan tidak membelanya waktu itu. Andra tahu dia tidak layak terus terluka hanya saja dia ingat dan itu sakit.
"Helen, aku kerja, nanti siapkan Tika bersamamu. Aku jemput Helen." Andra memeluk pinggang Gadis yang sibuk di dapur sedangkan anaknya bersama sang ibu.
"Iya, nanti aku siapkan semua keperluannya Tika. Kamu mau kita menginap atau tidak?"
Wajah Andra berubah muram, Gadis tahu pria itu tidak mau berlama-lama.
"Kita bawa popok saja ya, " putusnya.
***
Tepat jam 5 sore, mereka bertiga sampai di rumah utama, kedua orang tua Andra sudah menunggunya, begitu pun si kakek dan saudara lelaki Andra yang masih membujang.
"Namanya Swastika Anata Andra, kenapa tidak ada nama Gadis?" mama bertanya pada Gadis yang langsung terkekeh melirik Andra.
Gadis sungkan menjawab, tapi memang itu jawaban suaminya.
"Suami Gadis bilang kalau aku tidak ada duanya, Ma. Jadi, Tika pun sama nggak akan duanya, pakai nama dia saja supaya orang tahu kalau Tika adalah anaknya, yang mau berurusan dengan Tika harus berhadapan sama dia, gitu!" jelas Gadis.
__ADS_1
Mama menganga sebelum akhirnya membawa tawa simpul, memang anaknya yang satu ini sedikit berbeda, bahkan marga di keluarga ini tidak Andra pakai, dia menciptakan generasi baru.
Tapi, yasudahlah, bila tak ada yang mengalah, maka semua tidak akan berjalan dengan baik.
Wanita itu mendekati anaknya yang sudah lama tak berkunjung, diusapnya punggung Andra.
"Mama kangen pijitin kamu, Ndra."
Andra menoleh. "Memangnya Mama ada waktu buat itu?"
"Ada dong, sini!"
Merebut hati anak yang telah terluka memang bukan hal mudah, walau mereka sama-sama telah berdamai dengan kenyataan, saat ini Andra dan mama hanya perlu waktu untuk kembali mendekat, keduanya sama-sama rindu, hanya saja mencari siapa yang mau maju lebih dulu.
"Kalau kamu tidak mau nginap di rumah ini, Mama boleh dong nginap di rumah kamu, Ndra, hem? Mama juga mau sayang-sayangan sama Tika," pinta wanita itu.
"Ya boleh, tapi Mama harus tulus loh, jangan bandingin Tika sama anak kak Hikam atau lainnya, Andra tidak suka itu!" jawab Andra.
Mama mengulum senyum, itu salahnya dulu, tidak akan dia ulangi lagi.
__ADS_1
"Terima kasih, Ndra. Mama sayang sama kamu," katanya.
Andra mengangguk, jauh di lubuk hatinya pun sama, sangat sayang pada mamanya.