Jodohku Duda Muda

Jodohku Duda Muda
Hamil


__ADS_3

"Bukan, Sayang."


"Bukan apa? Tidak mau hamil anakku?"


Astaga, Gadis ingin memasukkan duda ini ke mesin cuci saja.


Dia berdiri dan menarik tangan Lisa, mengajak wanita itu tes sendiri, lagipula hanya untuk satu orang saja, sementara Andra tampak tak suka, dia mau apapun yang Gadis lewatkan harus dari izinnya.


Andra berdiri, dia hampiri dua orang wanita yang tengah berdebat itu, Lisa keukeuh tak mau melakukan tes itu, dia yakin sudah hamil, sedangkan Gadis tak mau suaminya pulang dengan tangan kosong.


"Ndra, dia memaksaku!" Lisa mengaduh sambil menunjuk Gadis.


"Lakukan!"


Sial, Lisa menyalang pada Gadis, bisa-bisanya Andra mendukung Gadis, mau tidak mau Lisa menyanggupi permintaan Gadis, dia sendiri tak tahu hamil atau tidak, yang pasti dia dan Hikam tak memakai pengaman waktu itu, sudah berulang kali.


Maksud hati bila dia tak hamil, kan bisa menjebak Andra, sialnya Gadis ikut dan mengacaukan semuanya.


Andra tarik pinggang Gadis, mereka berdiri di depan kamar mandi, menunggu Lisa dalam prosesnya, hidung mancungnya mengendus leher Gadis, rasanya dia mau menyewa kamar saja, mau membuat Gadis hamil hari ini juga.


"Sayang, hentikan!"


"Tidak mau, kau juga harus tes kehamilan!"


"Iya, nanti aku akan periksa, tunggu kalau telat haidnya, Sayang."


"Kapan kamu haid?" Andra mengerutkan keningnya, yang dia tahu cuman bercinta dan bercinta, datang bulan akan membuat jatahnya terhapuskan. "Jawab!"


" Se-seharusnya minggu depan, jadi tunggu ya!"


Andra mengangguk, dia lantas berbisik. "Kalau begitu, masih ada satu minggu lagi, aku bisa meminta jatah banyak!"


Gadis melotot, bahkan duda itu mencuri kecupan di bibirnya, benar-benar tak bisa menahan diri kalau di dekat Gadis, setiap ada kesempatan akan selalu mengambil jatah.


"Helen,-"

__ADS_1


"Tidak boleh sering, kalau mau aku hamil, harus ada jaraknya!"


Andra sontak berwajah jelek, mana mau dia seperti itu, tapi demi dia bisa mendapatkan anak bersama Gadis, Andra akan menurutinya.


Dia lepaskan lingkaran tangannya di pinggang Gadis, begitu Lisa ke luar sembari membawa benda pipih itu, wajah Lisa sontak berubah, ada ketegangan di sana, matanya tak luput dari benda pipih itu.


"Ada apa? Apa hasilnya?" Gadis berpindah ke sisi Lisa, dia menganga melihat hasilnya. "Kau hamil? Sungguh, dia hamil!"


Lisa bergeleng, memang ini yang dia inginkan, tapi kalau secepat ini, dia belum menghubungi Hikam yang menjauh darinya.


Namun, ketakutan itu cepat sekali sirna, dia segera berpindah ke sisi Andra, merangkul lengan duda itu, menempel sendu berharap Andra peduli padanya.


"Ndra, bantu aku, bantu aku menghubungi kakakmu itu, dia harus tanggung jawab pada anak ini. Anak ini keturunan Hikam, tolong aku!" Lisa bergelayut manja. "Cuman kamu yang bisa aku andalkan, Ndra. Cuman kamu yang percaya sama aku. Tolong bantu aku!"


Andra memijat pelipisnya dengan satu tangan yang bebas, dia tahu sepak terjang Lisa, kelemahannya akan dipermainkan di sini, dia pasti akan masuk pada kubangan yang paling menyeramkan, bisa rumah tangganya yang diserang nanti.


Saat dia sadar, Gadis berjalan meninggalkannya, wajah Gadis berubah sangat seram dan jelek, dia sudah mengumpat tak akan memberi Andra jatah, hampir tangannya membuka pintu, Andra sudah lebih dulu menarik tangannya hingga terhuyung ke pelukan.


"Sana, sama mantannya!"


"Nanti aku peluk-peluk cowok loh!" Gadis membalas sengit.


"Tidak akan, pelukanku lebih enak, Helen, aku saja!"


Lisa mengumpat setelah didorong Andra tanpa belas kasihan.


***


Andra sengaja meninggalkan Gadis di rumah bersama bapak dan ibu, hari ini dia akan mulai mengurus masalah Lisa, rumah tangganya bisa dalam bahaya bila dia tak bertindak atau mengambil satu keputusan yang tegas.


Satu minggu lagi, Gadis tiba pada masa datang bulannya, dia berharap Gadis tak datang bulan, dengan Gadis hamil, maka dia akan memenangkan wanita itu, mengikat Gadis di sisinya seumur hidup, langkah ini tak boleh asal-asalan.


"Lisa hamil?" kakek Nuh merasa pusing begitu mendengarnya.


Andra mengangguk, dia tunjukkan bukti itu pada sang kakek, alat tes kehamilan yang memang ada garis duanya, semua tahu itu tanda kehamilan yang sah, tinggal mereka membawa Lisa ke rumah sakit.

__ADS_1


"Dia mengaku hubungannya dengan kak Hikam tidak baik, dia meminta bantuanku, dan Kakek tahu kalau aku turun tangan di depan, bisa-bisa ada yang memanfaatkan masalah ini, aku tahu ini akan membuat nama mereka jelek, tapi aku rasa sudah bukan saatnya aku menutupi kesalahan itu, aku mau Helen bersamaku, aku mencintainya, aku tidak mau Helen menilaiku minus karena tidak tegas dan hanya takut pada trauma. Apa Kakek bisa memahaminya?"


Kakeh Nuh mengangguk, dia sendiri sudah tak tahan dengan kebodohan yang terjadi di keluarganya ini, perselingkuhan yang mengerikan antar ipar, tidak ada yang menyangka dan saat itu hanya mendorong Andra untuk bertanggung jawab, mengaku kalau dia yang kurang sebagai suami dan hanya mempermainkan pernikahan, tak heran bila orang meragukan Andra, termasuk Gadis.


Tak menunggu waktu lama di mana kakek Nuh menghubungi semua anggota keluarga, mereka harus berkumpul termasuk Hikam, bukti kehamilan Lisa harus diperjelas.


"Bagaimana kalau Lisa mengaku itu dan Hikam mengelak?"


"Itu yang aku pikirkan, Kek."


Mereka sama-sama menghela nafas, kakek Nuh pun tahu sepak terjang Lisa, bukan wanita yang memang bisa pada satu pria saja, bila Hikam meragukannya itu wajar.


Jalan satu-satunya yang akan mereka ambil adalah tes DNA, itu solusi tertepat, keduanya harus mau agar drama ini selesai, kakek Nuh tak mau juga rumah tangga Andra terkena imbasnya.


"Kau benar mencintai Gadis? Bukan karena terpaksa atas permintaanku dulu?"


Andra mengangguk mantap. "Sebenarnya dulu aku bimbang, tapi saat aku tahu sikapnya pada keluarganya, aku yakin Helen bukan wanita yang sembarangan, dia mengerti aku dengan baik, memainkan emosiku sampai aku tidak berkutik, dia tahu kapan harus diam dan berbicara, satu hal, dia tak mencari pelampiasan saat aku menunjukkan kesal, dia lucu sekali-"


Ekhem!


Kakek Nuh jadi ingin menjewer cucunya itu, heboh sekali menceritakan Gadis, bisa-bisa dia ingin menikah lagi kalau ada wanita segemas itu.


"Aku mencintainya, Kek."


"Ya, aku tahu. Buat anak yang banyak bersamanya dan didik mereka dengan imbang, jangan kau ulangi kesalahan yang sama, mengerti?"


"Baiklah, aku janji." ah, dia sudah rindu pada Helen-nya, tidak sabar satu minggu itu berlalu, dia mau mendengar kabar baik dari Helen segera.


"Heh, mau ke mana?" acara baru mau dimulai, Andra mau main kabur saja. "Kalau mau pulang, nanti saja, selesaikan ini dulu!"


Andra terpaksa duduk lagi, dia ingin memeluk Helen segera, rindu bau wanita itu.


"Keeeek!"


"Tahan burungmu itu!" hardik kakek Nuh.

__ADS_1


__ADS_2