
Ingin Andra tinju udara yang berani lewat di depannya, dia berjalan dengan langkah lebar dan tatapannya dingin, meninggalkan Gadis bersama Gintang, yang sebenarnya Andra tahu pemuda itu adalah mantan kekasih Gadis.
Sejak dia menikahi Gadis, latar belakang dan siapa saja mantan Gadis sudah dia selidiki, bodohnya dia tak menyangka bila Gadis akan berlaku manis di depan mantan pacar sialan itu.
Baiklah, itu maumu, tunggu pembalasanku!
Andra pulang lebih dulu, dia bersumpah tak akan mengirim atau membalas pesan izin Gadis padanya, Gadis akan berbohong, kemarahannya sampai di puncak, apalagi tadi Gadis menolak ajakannya bercinta di kantor, semua bercokol di kepala Andra.
Pernikahan mereka sudah masuk bulan kedua, nyatanya dia dan Gadis sama-sama belum bisa mengendalikan kejujuran dengan baik, Andra selalu berharap Gadis paham, begitu sebaliknya, tanpa mereka sadar bahwa mereka sama-sama punya sisi otak yang sumbunya pendek.
"Kau pulang ke sini?" kakek Nuh tercengang. "Mana Gadis?"
"Kenapa menanyakannya, Kek?" itu artinya kakek Nuh bisa memeriksa sendiri dari cctv atau laporan pengawalnya.
Andra melangkah lebar menuju kamar lamanya, tak selang beberapa lama dia kembali ke luar dengan tas besar yang penuh.
Lagi, kakek Nuh berharap bisa mencegah Andra, tampak sekali kecewa ada di wajah cucu termudanya itu.
"Aku tidak mau Helen bertemu Lisa lagi, hentikan misi kalian!" Andra menatap tajam pada kakek Nuh.
Pria tua itu lantas menghela nafas berat. "Kau tahu apa yang kau minta? Dia akan ada di sekitar kita sampai Hikam mengakui semuanya, sampai kapan kau harus menyembunyikan semua kenyataan pahit itu, kau pikir Kakekmu tidak tahu, jangan kira aku bodoh seperti yang lain, cucuku. Sekarang katakan, di mana Gadis?"
Andra seketika bungkam, kedua tangannya terkepal dan rahangnya mengetat, dia lantas berkata dengan suara rendahnya. "Aku tidak peduli padanya!"
"Benarkah? Mana bisa kau tidak peduli pada Gadis? Apa dia mengkhianatimu?" kakek Nuh tahu apa yang terjadi, pria tua itu lantas menenangkan cucu termudanya yang menyimpan trauma berat. "Dia bukan wanita licik, ajak dia bicara, Gadis akan menjelaskan semuanya!"
Tidak, Andra sudah muak dengan penjelasan ketika dia menikah dulu dengan Lisa, penjelasan seakan tak ada harganya, dia mau melihat seberapa jauh Gadis berlaku menyimpang padanya, sejurus itu Andra akan semakin mengikat Gadis hingga kaki Gadis tak akan bisa lari darinya, biarlah mati tersiksa karena cinta atau tidak padanya.
"Anak muda, kenapa dia keras kepala sekali?" gumam kakek Nuh.
Sementara itu, Gadis benar-benar makan bersama Gintang, bukan untuk mengingat masalalu kebersamaan mereka, dia hanya ingin mencari alasan Gintang sampai mau menyekapnya dan membahas tentang Andra juga Lisa.
Itu artinya Gintang tahu masa lalu mereka dan dimanfaatkan, bukan? Gadis justru bersemangat karena dengan ini dia bisa tahu benang kusut yang duda itu sembunyikan darinya.
__ADS_1
"Dia menginginkan anak dari suamimu, setidaknya bisa masuk ke keluarga ini lagi."
Gadis mendongak. "Kalau dia mau anak, kenapa mereka bercerai dulu?"
"Aku tidak tahu pastinya, menurut kabar yang beredar dan dia memintaku percaya adalah suamimu berlaku menyimpang, tak menyentuhnya dan apa, dia merasa sengsara sebagai wanita hingga memutuskan berpisah."
Menyimpang dan tak mau menyentuh? Alarm di kepala Gadis berbunyi, menyimpang apanya, sedang bersama dia bisa berulang kali meminta jatah di malam hari, kakinya saja seperti mau patah.
"Apa ada yang selingkuh diantara mereka?"
Gintang mengedihkan bahunya. "Yang aku tahu, suamimu berselingkuh, tapi memutar fakta pada Lisa hingga mereka saling menuduh, apa kau tidak takut?"
Jujur, Gadis bergidik ngeri, suaminya berselingkuh, tapi kenapa Andra yang terlihat minus di sini? Kalau Andra yang membuat kesalahan, kenapa Andra yang trauma?
"Kamu yakin dengan alasanmu?"
Gintang mengangguk. "Jangan lengah atau kau akan sengsara dengan orang kaya itu, mereka memainkan uang untuk apa saja, aku hanya mengingatkanmu, bisa saja dia kembali pada Lisa dan menjadikanmu syarat agar dia benar menikah lagi bersama mantan istrinya!"
Gluk!
Gadis melangkah lebar menuju kamar utama, di sini biasanya duda itu akan merajuk karena dia pulang terlambat, sedangkan si duda sudah pulang sedari tadi.
Gadis pegangi dadanya, sumpah demi apapun, kalau sudah sampai di rumah, kekuatan yang dia punya tadi seakan terbang bersama dedaunan kering di pelataran.
"Ndra, kamu lagi mandi?" Gadis mencoba basa-basi. "Sabunnya habis tidak? Kalau habis, sini biar aku isiin, mana?"
Andra membuka sedikit pintu kamar mandinya, duda itu tak memakai apapun untuk menutupi bagian terlarang yang bergerak di bawah, mengikuti gerak kaki jenjangnya.
"Masuk!" titah Andra dengan menarik kasar, dia sedikit membanting Gadis hingga punggung Gadis menabrak tepi wastafel, walau dia menahan diri, tetap saja dia tak akan terima Gadis makan berdua bersama pemuda selain dirinya. "Aku mau sekarang!"
Belum sempat Gadis menjawab, Andra sudah berhasil meloloskan semua pakaiannya, tersisa dalaman yang menggoda, Andra desak Gadis dengan tubuhnya yang besar.
"Bagaimana caranya agar kamu mengerti tugasmu, hah?!" mata Andra berkabut, dia amat cemburu pada Gadis, dia tak mau apa yang terjadi pada Lisa terulang kembali.
__ADS_1
"Ndra, kamu kenapa? Aku- Akh!"
Sekali hentakan, Andra mampu mengisi ruang kosong nan lembab milik Gadis, tidak ada balasan dan hukuman setimpal dari rasa sakit akibat traumanya selain membuat Gadis hamil, dia harus mengikat Gadis sekuat mungkin, merengkuh kenikmatan hanya bersama Gadis.
"Sa-sakit!" Gadis cengkram bahu Andra, duda itu melakukannya dengan kasar, bahkan Gadis belum siap.
Tapi, Andra tak mendengarnya, dia tidak menjelaskan dan tidak juga memberi ruang, dia ingin Gadis mengerti dan berhenti ikut campur dalam masa lalunya, hidup tenang dan hanya memandang masa depan.
Gadis menabrak bahu Andra setelah aktivitas panas itu selesai, dengan berderai air mata, dia tinggalkan Andra sendirian di kamar mandi.
Niat hati mengajak Andra bicara masalah Gintang dan semua info anehnya, yang dia dapatkan perlakuan kasar untuk sebuah kenikmatan yang samar.
Bila begini, jangan salahkan Gadis kalau dia percaya akan ungkapan Gintang tadi, bahwa Andra hanya mempermainkannya.
"Helen."
Gadis menghindar, penyesalan tak akan dia terima, kalaupun Andra meminta dengan baik, Gadis tak pernah menolak, apalagi di rumah, jadi tidak perlu sekasar itu, inti tubuhnya terasa perih akibat gesekan kasar Andra.
"Buka pintunya, Ndra!" sialnya pintu kamar itu bisa terkunci otomatis, Gadis menoleh frustasi dengan rambutnya yang basah. "Buka pintunya, aku mau tidur di rumah ibu!"
Bukan menjawab, Andra mendekati Gadis dan menghimpit tubuh Gadis ke dinding samping pintu.
"Tidak mau melihatku?"
Gadis mendengus. "Untuk apa?" suaranya bergetar, dia tahu dia tak akan pernah menang dengan Andra, tapi tadi sakit. "Sana, aku mau ke ibu sampai kamu tenang!"
"Tidak, kau harus di sini!"
Gadis tak bisa menahan air matanya, dia menepis tangan Andra yang endak menyentuh pipinya. Andra tatap nanar tangan itu, dia kepalkan tangannya yang semakin membuat Gadis takut.
"Kau harus di sini!" ulangnya. "Tidak ada yang boleh membawamu pergi, Helen, tidak!"
Gadis tersentak, dia ingin kabur, tapi disaat bersamaan dia melihat luka di mata Andra, duda itu meraung sambil meremat rambutnya sendiri, mendongak dan menatap dalam Gadis.
__ADS_1
"Apa kurangku sampai kau menawarkan diri pada pria lain?" pertanyaan lembut ke luar dari mulut Andra, dia pernah menanyakan itu pada Lisa dulu.
"Ndra ... tidak ada yang menawarkan diri," balas Gadis, takutnya lenyap, dia berlutut di depan Andra yang duduk di tepi ranjang dengan wajah frustrasi, melebarkan kedua tangannya, kemudian dia bawa dalam dekapan, dia usap lembut rambut belakang Andra. "Oke, maafkan aku, besok kita bicara, ya ...."