Jodohku Duda Muda

Jodohku Duda Muda
Puas Apa?


__ADS_3

"Ndraaaa ..." sepi, Gadis tak menemukan suaminya, bahkan mobil Andra sudah tak ada di halaman depan.


Jangan bilang setelah mendapatkan madunya, Andra lantas pergi karena merasa tak butuh Gadis lagi, jenuh dengan Gadis yang selalu membantah.


Seharusnya Gadis tahu diri dan waspada bila Andra mengajaknya pergi, bukan seenaknya bergantung karena bisa saja Andra meninggalkan atau membuangnya seperti ini.


"Bu, Andra di rumah?"


"Tidak, mungkin dia ada urusan lain. Iya tadi aku sama dia, cuman aku ada perlu di toko A, jadi pisah."


Gadis simpan ponselnya, dia duduk di depan teras, seorang diri, pemilik rumah makan ini pun tak menunjukkan lagi batang hidungnya.


Hanya tadi ada lembar pembayaran bertuliskan lunas, sepertinya Andra membayar setelah memesan, entah kapan duda itu pergi, padahal. Gadis hanya dibiarkan fokus pada makanan.


"Oke, tidak apa, Dis. Kamu bisa naik kendaraan umum, ke rumah dan ajak keluargamu pergi, mungkin duda itu bisa puas!"


"Puas apa?"


Deg!


Gadis menggigit bibir bawahnya, dia menoleh perlahan, lehernya hampir patah saat melihat wajah tak asing di belakangnya.


Bruk!


Tak perlu basa-basi, sekujur tubuhnya menggigil karena melihat Andra telah kembali, dia sengaja berbalik dan berlari menabrak tubuh Andra, tangisnya juga pecah di sana.


Dasar lemah!


Andra tersenyum tipis, dia hanya memindah parkir mobilnya sebentar ke lahan belakang sesuai permintaan pemilik rumah makan ini, di sana dekat ruko perkantoran, dirasa mobil Andra bisa menarik perhatian dan sebagai info kalau di sini ada rumah makan yang enak dan sempat terabaikan.


"Kamu dari mana?"


Andra menunduk, Gadis lebih pendek darinya.


"Katanya mau bawa kabur orang tua, kat-"


Cup!

__ADS_1


Gadis peluk lagi duda satu ini, setelah mendaratkan kecupan agar Andra tak banyak bicara. Dia memang lemah kalau Andra mendengar ungkapan batinnya, keberaniannya seolah lenyap bila Andra mendadak muncul, yang ada di semua titik, dia takut pada Andra meskipun Andra tak akan menendangnya, kalaupun menghukum tentu manis.


Andra bawa kembali Gadis masuk, menikmati sisa makanan yang seharusnya Gadis hafalkan agar bisa memasak di rumah, matanya sejuk dan bibirnya lembab setelah mendapat kecupan mendadak, dadanya panas mau makan yang lebih, tidur bersama Gadis tentunya.


"Dia kira aku meninggalkannya, dia mau mati tadi, dia terlalu mencintai aku, ya kan?" Andra berbicara pada pemilik rumah makan ini, dua orang tua yang sudah senja.


"Jelas dia mencintaimu, bisa kami lihat dari cara dia panik tadi. Damailah kalian, semoga langgeng dan diberi momongan."


"Aamiin, aku selalu membuatnya, tinggal menunggu hasil."


Ahahahahah, Gadis mau menjitak kepala Andra saja, giliran panas di ranjang sombong sekali, ya kali memang mau Gadis hamil, boleh, asalkan setelah ini jangan pisahkan Gadis dengan anaknya, lalu kembali pada mantan istri.


Astaga, Gadis tak bisa berhenti berpikiran buruk pada Andra, dia bahkan tidak akan berhenti menemukan alasan dan bukti perpisahan suaminya di masa lalu.


"Ini oleh-oleh, pesan kami hanya satu, Andra serius padamu, dia bukan tipe pria yang suka berganti pasangan, cintanya besar, aku harap kamu tidak akan pernah meninggalkan dia. Dan, masa lalu Andra, jangan cemaskan hal itu!"


Gadis hanya mengangguk, dia kembali menggandeng tangan Andra yang sudah terulur menggantung padanya, jangan lupakan senyuman Andra yang memikat hati, orang tua bisa mati terbujur kaku karenanya.


Sepanjang perjalanan Gadis hanya diam, dia masih terjebak akan kondisi mendadak tadi, Andra selalu berpamitan padanya, sesak juga kalau Andra mendadak hilang.


"Apa yang kamu pikirkan?" Andra meraih tangan Gadis. "Masih soal memindahkan mobil tadi?"


"Maaf, tidak akan aku ulangi lagi." Andra kecup punggung tangan Gadis.


Entah apa yang terjadi dengan Gadis sampai dia merasa sesak, dia menangis sambil tangannya terus digenggam Andra.


Andra tepikan mobilnya, dia lepaskan sabuk pengaman itu, menarik Gadis hingga masuk ke dekapannya.


Iya, Gadis takut mendadak menjadi janda, dia belum siap meskipun jaminan kekayaan akan dia dapatkan sesuai perjanjian, tapi tak ada wanita yang mau jadi janda, hanya dipermainkan diawal saja, diambil madunya.


"Hei, berhenti menangis atau aku hukum di sini!" bisik Andra, dia cium pelipis Gadis. "Aku hanya memindah mobil, baiklah, tak akan aku ulangi lagi, jangan menangis!"


Bukannya berhenti, Gadis justru semakin menjadi-jadi, kalau dia sudah janda dan mau jadi janda lagi mungkin tekanannya tak akan berat. Dia masih sendiri, bersama Andra bukan pernikahan kontrak yang main-main, dia membawa orang tuanya, kalau dia tahan sakit itu, orang tuanya tentu tidak, mengingat mereka sangat senang dan berharap banyak pada Andra akan selamanya.


"Mau es kelapa muda!" Gadis merengek asal-asalan.


Andra putar kemudinya, terserah Gadis mau meminta apa, yang penting tidak menangis, dia ikut sakit kalau Gadis menangis.

__ADS_1


"Kita berhenti di sini, kamu atau aku yang turun beli?" tawar Andra.


"Nanti, aku ditinggal lagi!" sudah mau menangis lagi.


Andra terkekeh, dia yang akan turun di sini, Gadis bisa mengawasinya atau menabraknya kalau mencoba kabur, sengaja Andra buka kaca mobil itu agar Gadis bisa mengawasinya jelas.


Dua bungkus es kelapa muda ada di tangan Andra, dia tersenyum melihat Gadis benar-benar mengawasinya, perasaan Andra membuncah bahagia.


Helen, bagaimana bisa aku meninggalkanmu, kalau bisa aku mengikatmu seumur hidup di sisiku!


Andra kembali duduk, dia rapatkan sabuk pengamannya, menoleh pada Gadis yang sibuk mencicipi satu bungkus yang berhasil dia buka.


"Enaaaaak, uwaaawww!"


"Terima kasih," imbuh Gadis sambil tersenyum girang.


Andra mengangguk samar, dia putar kemudi dan lajukan kembali mobilnya, orang tua Gadis pasti menunggu mereka.


Satu tangannya terulur mengusak kepala Gadis, kalau saja dia bertemu teman lamanya di sana, tentu dia akan mengenalkan Gadis pada mereka, memamerkan kehidupan barunya yang sungguh luar biasa bahagia.


"Ndra, kok di sini, bukan di rumah?"


"Beli baju yang seksi."


"Baju seksi?" Gadis menganga. "Baju seksi apa?"


Kedipan mata genit Andra sontak membuat Gadis menyilangkan kedua tangannya ke depan dada, dia pun bergeleng, tanda waspada bila duda satu ini meminta yang tidak-tidak.


"Ndra, kenapa juga pakai baju begitu, kan baju biasa saja kamu buka seenaknya, percuma loh!" omel Gadis tak setuju, dia pasti masuk angin pakai baju tak bermodel itu. "Tidak perlu beli ya, ayo kita pulang!"


"Aku mau membelinya, Helen. Mau melihatmu menari memakai baju seksi itu," ujar Andra.


"Menari apa, aku tidak bisa menari, jangan aneh-aneh!"


Andra tarik hingga tubuh Gadis limbung di dekapannya.


"Ini hukumannya karena kamu mau membawa orang tuamu kabur tadi, aku mendengar semuanya, masuk!"

__ADS_1


"Ndra, plis...!"


Searching, nari apa?!


__ADS_2