Jodohku Duda Muda

Jodohku Duda Muda
Jangan Lemah


__ADS_3

Gadis sedikit menyentak tubuhnya, dikungkung seperti katak selama dua jam sungguh tak mengenakkan, dia masih harus mengerjakan banyak hal di kantor ini, dia bukan pengangguran lebih tepatnya.


Sekali lagi tangan Andra menahannya, kedua kakinya melingkari betis Gadis, menggesekkan kakinya yang terbalut kain dengan betis terbuka Gadis, tak lupa seringai si duda mematikan ini.


"Kamu mau apa lagi? Ndra, aku kan di sini kerja, lepaskan aku!" katanya harus cuek, dilarang banyak tingkah, nanti dikira merusak citra perusahaan sekaligus Andra. "Ndraaa ... duda!"


Andra tergelak kencang, ini sebutan Gadis sejak marah semalam, menyebutnya duda dengan wajah yang menggemaskan, Andra ingin terus mendengarkan dan melihat ekspresi Gadis di sini.


Kedua tangannya disatukan di depan dada, dia masih menahan Gadis dengan kedua kaki yang melingkar kokoh, memandang lekat dan dalam, ingin dia tenggelam dalam lautan cinta Gadis.


"Aku tidak melakukan apapun, hanya merindukan istriku saat aku bekerja," ujar Andra polos.


"Tapi, ini bukan waktu yang tepat, kamu juga membahas masalah penting bersama kakek dan dia-" Gadis memalingkan wajahnya, menyebut nama Lisa seakan membuat tenggorokannya terluka, bisa Gadis lihat bagaimana ekspresi Lisa saat dia ada di ruangan ini.


Jujur, Gadis kurang suka dilihat begitu, dia tidak mau juga kalau Lisa terus memandang Andra.


"Kenapa berhenti, siapa yang kamu maksud, dia siapa?" Andra dudukan Gadis ke pangkuannya, bisa Gadis rasakan desakan benda keras di sana, suka sekali bangun, pasti sudah terangsang, Gadis menyipitkan matanya. "Katakan, siapa yang kamu maksud?"


Gadis tak menjawab, dia memutar tubuhnya sedikit, mengalungkan kedua tangannya ke leher Andra, cara ampuh agar dia bisa bebas, ujung hidungnya sengaja dia gesekkan ke leher Andra, sialnya membuat terlena, aroma khas Andra mampu membuat wanita rela buka baju.


Dan sebelum terjadi apa-apa, Gadis menciptakan jarak keduanya, menatap mata Andra lekat, dia paham setelah mencium aroma khas duda itu.


Apa yang Andra lakukan baru saja, dua jam lalu adalah menunjukkan pada Gadis bahwa Lisa tak ada harganya meskipun tidak Andra katakan secara langsung, cukup hal itu bisa membuat pipi Gadis merona.


"Paham?"


"Apa?"


Andra gemas lama-lama, susah memang membuat wanita percaya, dia satukan bibir mereka tanpa aba-aba, pintu kaca ruangan Andra berubah buram, ciuman panas itu seakan tak ada yang mau usai.


***


"Kamu dari mana?" Sifa melipat kedua tangannya ke depan dada. "Ngapain kok tanda di leher kamu tambah satu?" kabar dari Rena sampai ke telinga Sifa.


Gadis menggerang, dia hempaskan bokongnya kasar, melipat kedua tangan ke atas meja dan menunduk, menyembunyikan wajahnya.

__ADS_1


Dia sudah melarang Andra membuat bekas itu, tapi duda itu tidak mendengarkannya, tetap membuat bekas di tempat yang mudah dilihat meskipun rambut Gadis diburai.


"Aaaaarrrrghhhh, aku tadi itu mau marah, tapi dia-"


Sifa melebarkan telinganya, penasaran meskipun dia sudah menikah, ingin tahu juga bagaimana aksi duda muda, menerkam yang seperti apa, apa mungkin lebih panas dari perjaka.


"Dia kenapa?"


Gadis mendongak, wajahnya memerah, dia menggerang sekali lagi.


"Tadi, dia mau ngajak 'itu' di sini, aku menolaknya, jadi digigit!" dia menjerit tertahan, menunduk dan mendongak lagi. "Dia bilang aku dosa besar, terus bagaimana?"


Sifa menjawab gagap. "Iy-iya, do-dosa, udah balik sana!"


Heuh? Gadis menganga, wajahnya memerah.


"Aku, aku harus balik?"


"Iya, bal-balik saja!" Sifa tarik tangan Gadis, mendorong Gadis agar segera ke ruangan Andra.


***


Sudahlah, mungkin nanti mereka bisa melanjutkan di rumah, pikir Gadis simple, dia berbalik dan endak pulang, tasnya sudah ada di bahu kirinya, ponselnya sudah siap untuk memanggil driver ojek langganan.


Grep!


"Aaaah!" Gadis menjerit ketika tubuhnya terpental ke belakang, dia ditahan dengan kedua tangan lebar, berjalan mundur tanpa tahu di bawah ke mana, dia berusaha memberontak, tapi tarikan dan lilitan itu semakin kuat.


Gadis memanggil Andra dalam hatinya, dia sama sekali tak bisa menoleh, tapi dia kenal tangan siapa ini.


"Kamu?" Gadis bertanya dalam hati ketika matanya berhasil menangkap sorot di atasnya.


Gintang, salah satu mantannya yang ada di cabang kantor ini, tapi untuk apa?


Sementara itu, salah seorang sekretaris yang melihat kejadian di depan mata sontak berlarian menghampiri Andra, mengabarkan apa yang dia saksikan.

__ADS_1


"Ndra, itu cuman rencana licik Gadis saja membuat kamu perhatian sama dia, lagipula di kantor ini aman, semua tahu Gadis itu istrimu, jadi kemungkinan kecil ada hal buruk, sudahlah!" Lisa menahan lengan Andra. Tatapan tajam dia dapatkan, tapi Lisa yakin kalau pemuda di depannya ini, mantan suaminya akan mudah dia belokkan. "Kamu percaya deh, ini kantor besar, tidak mungkin semudah itu orang masuk, dia pasti buat drama biar kamu perhatian dan dia diakui, Ndra ... kamu paling benci drama kan?"


Benar, Andra mengangguk, tapi ini Gadis, istrinya, wanita yang memberikan semua yang pertama untuknya, tunduk karena kewajiban sebagai istri.


Ya, walaupun tadi Gadis menolaknya berhubungan di ruang kerja, tak masalah, dia harus menemui Gadis.


"Ndra!"


Andra melirik Lisa, tatapannya memang selalu dia buat santai dan cenderung terlihat seperti anak kecil yang manja.


"Aku butuh Helen," ujar Andra.


Butuh?


Gadis tercengang mendengar penuturan Andra dari rekaman yang diperlihatkan padanya, baru saja dia merona karena tadi saat meeting bersama kakek Nuh, Andra menunjukkan posisinya, tapi sekarang dia harus mendengar kalau itu sekadar butuh.


Gadis lirik pria di sampingnya itu, memang hubungannya dengan sang mantan pacar dulu kurang baik, tapi dia tahu Gintang itu tidak akan seberani ini, apalagi pria itu tahu Gadis adalah istri pimpinan muda kantor ini, termasuk pimpinannya juga.


Sebaliknya, Gadis akan bersikap sebaliknya, dia tidak mau ditertawakan karena takut, tak peduli tubuhnya gemetar dan keringatnya banyak, Gadis tetap terlihat santai.


"Dia mengkhianatimu, pasti dia kembali pada mantan istrinya," ujar Gintang.


Gadis bereaksi ringan, tangannya diikat, tapi dia bisa senyum.


"Hei, tak masalah, yang penting uangnya untuk aku, iya kan?" balas Gadis santai. "Ngomong-ngomong, ini untuk apa tanganku diikat, Gintang? Apa kamu mau menunjukkan ini saja?"


"Kamu tidak takut mereka balikan?"


Ya, Gadis takut, tapi tampil lemah itu bukan solusi saat ini, dia dulu putus dengan Gintang saja berkelas.


"Lisa kan harus menikah dulu, tidur bersama suaminya, lalu kalau cerai, baru bisa balikan, memangnya Lisa sudah menikah lagi?" balas Gadis membuat Gintang gagap.


Oke, Dis ... jangah lemah, lemah sama duda saja!


"Bisa lepaskan aku, Gintang? Aku lapar, mari makan bersama!" rayunya, dia mau pulang dan memuaskan Andra.

__ADS_1


Namun, tawaran Gadis bertepatan dengan kedatangan Andra, kedua tangan Andra sontak terkepal meskipun wajahnya tak berubah ekspresi.


__ADS_2