
"Helen, duduk di sini saja!"
"Tapi, nanti banyak keluargamu, masa aku di kasur?"
Andra tetap menarik pinggang itu ke sisinya, dia memang lemas setelah muntah bertemu Lisa, bukan sengaja, mual dengan sendirinya yang tak bisa dia prediksi sama sekali.
Niat hati bersikap sopan pada keluarga suami, yang ada Gadis harus duduk di samping Andra, bahkan duda itu menyingkap sedikit bajunya sebelum orang-orang datang agar dapat menciumi perut Gadis, menyapa anak mereka yang masih sebesar kacang.
"Ndra... jangan disesap gitu!"
"Eheheheh, gemas mau membuat bekas, biar orang tahu ini stempel kepemilikan anak!"
"Tidak ada yang akan merebut anakmu, dia masih di sini, ngomong-ngomong apa aku masih boleh kerja?"
Andra langsung menggelengkan kepalanya, dia mau Gadis fokus pada kehamilan, lagipula dia itu suami, dia akan bertanggung jawab sepenuhnya dan menjamin keluarganya tak kekurangan.
Bibir ibu hamil muda itu mencebik, jelas dia mau saja kalau menjadi ibu rumah tangga, tapi kan kalau bekerja kejenuhannya bisa hilang.
"Ndra... aku resign setelah hamil tujuh bulan bagaimana?"
"Tidak, Helen."
__ADS_1
"Tapi, kalau aku jenuh bagaimana?"
Andra kecup lagi perut rata itu, menghabiskan aroma khas dari kulit bercampur keringat Gadis.
"Aku bisa mengajakmu ke kantor, mau bertemu Rena dan Sifa, kan?"
"Iya, ehehehe... aku boleh jalan-jalan sama mereka?"
"Helen, kok sekarang jadi suka bantah ya?"
Gadis lantas memeluk kepala Andra, dia goyangkan dan kecupi, bahkan ibu hamil muda itu terkekeh karena saking gemasnya pada si duda yang super posesif, padahal dia sebagai ibu hamil dinyatakan baik-baik saja.
"Ma, Pa... Kakek dan semua silakan masuk!"
"Iya, duduk saja di sana, Gadis. Kita tidak masalah di sini, kamar Andra luas, jangan cemas!" mama meminta menantunya itu tenang.
Gadis menurut, dia kembali ke sisi Andra yang menjulurkan lidah ke arahnya, memeluk pinggang itu posesif di depan banyak orang.
Lisa pun ikut masuk ke kamar Andra yang pernah juga menjadi kamar mereka, rasanya dia semakin menyesal saja mengkhianati Andra dulu, buktinya Andra sangat bertanggung jawab pada Gadis sejak dinyatakan hamil, sial.
"Jadi, kapan Mama bisa buat syukuran ini, Ndra?" mama tampak paling antusias.
__ADS_1
"Mama mau buat di rumah ini?" Andra yang membuat Gadis terkejut karena mau berbicara halus pada mamanya. "Aku ingin semua yang melibatkan Helen itu di rumah sana saja, dengan begitu Helen tidak perlu menginap di sini. "
Ah, Gadis dan semua orang paham apa yang Andra maksud, banyak kenangan menyakitkan di rumah ini, moment bahagia tak mau dia bagi pada yang penuh derita, apalagi kalau sampai dibiarkan campur aduk dengan masalah Lisa dan Hikam.
"Baiklah, semua akan Mama bantu atur di rumah sana. Hari ini, kami semua sudah membahas masalah Lisa dan Hikam, mereka akan klarifikasi demi nama perusahaan besok sore, mungkin akan ada sedikit namamu yang terlibat, apa Gadis bisa memahami semua ini?" mama sedikit takut Gadis keberatan dan Andra marah.
Gadis memandang Andra yang sejenak menutupi wajah jeleknya, tapi duda itu kemudian mengusap perut Gadis.
"Katakan saja yang baik, jangan katakan yang buruk, aku ingin semua berjalan sesuai anggapan baik yang ada. Aku sudah melupakan semuanya, jadi... untuk masalah Kak Hikam dan Lisa yang mau menikah, katakan saja kalau mereka sudah berjodoh tanpa ada sangkut paut denganku!"
Gadis terkejut dengan ucapan suaminya, dia kira duda ini akan membuka semua keburukan yang ada demi membersihkan nama, ternyata tidak, Andra tak masalah dan bahkan tidak memikirkan namanya yang buruk, membiarkan yang sudah menjadi anggapan publik berlanjut begitu saja asalkan perusahaan terus berjalan.
"Mungkin dulu aku menyimpan rasa kesal dan dendam, ya aku sakit hati sampai trauma, tapi anak ini dan Helen adalah bentuk hadiah terindah, aku tak mau dendam lagi, anggap saja tak pernah ada, dan aku hanya menikah dengan Helen saja... kisah kelam itu tak pernah ada, istriku dan aku hanya pernah bersama Helen, lalu ada calon anak ini," tambah Andra menjelaskan.
Hikam sontak berlutut, dia memang saudara tertua, tapi entah kenapa dia tak bisa bertanggung jawab pada kedudukan itu dengan semestinya.
Maaf... itu yang bisa dia katakan setelah badai besar dia lemparkan pada adiknya sendiri, merebut istri dan membuat namanya buruk.
"Kakak, lupakan saja!" lama Andra menatap Hikam, mata ramah itu lama tak Hikam lihat, kini bisa dia lihat kembali. "Aku menemukan diriku di Helen, lupakan, lagipula aku sudah mau punya anak, aku tidak mau bertengkar seperti anak kecil!"
Sekali lagi, Maaf.
__ADS_1