Jodohku Duda Muda

Jodohku Duda Muda
Keinginan Orang Tua


__ADS_3

Sampai perjumpaan itu berakhir, Tika masih terus bergelung di dekapan Andra, bocah itu untuk pertama kalinya punya teman, kesannya sudah membuat dia takut, walaupun di sana ada Friska yang baik padanya.


Hanya saja, Tika ingin Kaffa mau berteman dengannya, baik sama seperti saat Kaffa bersama Friska, sayang sekali banyak kalimat Kaffa yang membuat hati mungilnya terluka.


"Sayang, anakmu syok ya, nanti dilatih lagi berteman ya, kan Mamanya banyak teman!" Gadis berceloteh riang, dia tahu anaknya kalau sudah takut dan merasa terintimidasi itu sama dengan duda, berbeda dengan dirinya yang jauh berani, dihina dia akan kembali menggertak. "Sama Mama sini, Tika. Papa biar ganti baju ya!"


Tika mengangguk, dia pun berjalan ke pangkuan Gadis, memeluk wanita itu dan mencari ketenangan di sana, sampai dia memeluk ibunya, sang ayah hanya terdiam.


Ya, duda dan anaknya ini sama-sama suka berbicara batin, Gadis anggap begitu, Tika tidak sama dengannya, dia anak duda itu seutuhnya.


Setelah Tika terlelap, Gadis berpindah ke sisi kosong di dekat suaminya, pertemuan antar teman itu berlangsung baik, Andra bisa banyak bercerita dengan Frans yang begitu antusias akan kisahnya, tapi kondisi Tika sepertinya membuat duda itu berpikir keras.


"Kau marah pada sesuatu?" tanya Gadis, dia menyandarkan kepalanya ke dada bidang Andra.


"Tidak, aku hanya memikirkan Tika dan Kaffa. Apa mereka akan bersitegang begitu sampai dewasa?"


"Sayang, mereka masih kecil dan baru saja ketemu, wajar kalau masih sensi. Nanti, mereka akan akrab sendiri, Kaffa itu sayang sekali pada Friska yang aktifnya minta ampun, pasti Kaffa bisa begitu pada Tika nantinya, mereka butuh waktu." Gadis mengusap rahang tegas duda ini, lalu dia kecup. "Jangan cemas, Tika akan punya teman dan tidak akan tersakiti, selain anakmu yang penuh trauma, dia anakku yang bar-bar, hahahahahah!"


Andra tersenyum akhirnya, dia usak kepala sang istri sebelum akhirnya berbaring sejajar.

__ADS_1


"Aku dan Frans ingin Kaffa bersatu dengan Tika, Helen."


Eh!


***


Tidak bisa memaksakan kehendak, bersama anak kak Hikam saja Tika masih diberi jarak oleh Andra, bukan apa-apa, Andra hanya tidak mau terlalu sering bertemu dengan Lisa, suasananya pasti berubah canggung, apalagi Tika menempel pada Andra terus.


Gadis menghela nafas panjang, dia sedang menunggu anaknya bermain di playground, banyak anak baru yang mengajaknya bermain, sesekali dia melirik Andra yang begitu posesif, meneriaki anak orang bila sampai menyenggol Tika.


Duda ini kalau sama anaknya bahaya!


Bila Gadis dan Andra saja melewati hubungan yang patah itu, Tika bisa jadi merasakannya, itu wajar pada anak muda hanya saja entah bagaimana kondisi mental dudanya itu.


"Sayang, duduk sini, biarkan anakmu main!" titah Gadis sambil menepuk bangku kosong sebelahnya.


Andra merengut, sama halnya dengan Gadis yang dia kurung di rumah, dia pun nantinya pada Tika akan begitu, terlihat sudah bakatnya posesif.


"Kalau tidak mau duduk, besok aku pergi sendiri loh sama Tika, tidak mengajakmu!" ancam Gadis dan itu berhasil.

__ADS_1


Ada pemikiran di kepala Andra dan Frans kemarin, nanti bila anak mereka sudah remaja, Kaffa akan menjaga Tika, jadi Andra tak perlu khawatir.


Dan itu, Andra masih memikirkannya antara mau percaya dan tidak.


"Helen, Tika-"


"Anak itu sedang main, aku dulu bebas mau main pasir sampai jungkir balik juga tidak masalah, kamu larang akan semakin membuat dia tertekan, anak kecil secara natural akan tahu batasnya, kita awasi tapi bukan menekan!" tegas Gadis. "Gitu kamu mau punya anak lagi!" cibirnya.


"Kalau itu lain hubungannya, Helen." Andra menyengir menatap Gadis.


"Mama!" teriak Tika, membuat kedua orang yang tengah saling cibir ini berhenti dan menoleh. "Bang Gana!" katanya.


Ah, maksudnya Manggala, anaknya Hikam.


"Hei!" sapa Gadis yang berdiri lebih dulu, ada Lisa dan Hikam tentunya, di sini dudanya bingung. Rasakan!


***


H-2 kisah Kaffa dan Tika meluncur, tunggu ya...

__ADS_1


__ADS_2