
Cukup lama, baru Gadis mendapatkan kesempatan bertemu kedua orang tuanya yang jelas syok akan Lisa, mendadak datang di tengah mood Andra yang sudah membaik.
Tidak tahu kah dia kalau menidurkan Andra itu susah dan merepotkan?
"Dia di mana?" ibu mengintip ke belakang punggung Gadis, tidak ada menantunya.
"Jujur, Ibu takut tadi sama lirikannya Andra, tidak biasanya dia seperti itu di rumah, dia baik-baik saja kan?"
Gadis ajak ibunya duduk, Andra sudah baik-baik saja, lebih baik karena sudah berhasil membuat Gadis naik darah dengan jawaban hem ham nya.
"Lisa bilang apa saja ke Ibu?"
Ibu bergeleng. "Sebenarnya Ibu bersyukur kamu sama Andra cepat pulang, dia baru saja, belum banyak yang dibicarakan, Ibu buatin dia minuman, terus dia cuman tanya soal kehamilan kamu ke bapak, berapa bulan terus Gadis minum vitamin apa saja, gitu!"
"Bapak jawab apa?"
"Dibilang tidak minum vitamin yang aneh-aneh, hanya dari dokter saja, terus lainnya justru ke Andra yang lemas, Dis, ada yang salah?"
Tidak, semuanya benar, dari sini bahkan Gadis bisa menyimpulkan kegelisahan suaminya di atas sana, Andra mencium rencana busuk dan tak berkelas dari mantan istrinya itu, Lisa yang tidak akan pernah berubah karena kelicikannya dan serakah.
Ini yang Andra sesalkan kalau dia lupa memperingati orang rumah, bisa saja Lisa memanfaatkan momen untuk mencelakai anggota rumah ini, yang seharusnya bisa Andra jamin keamanannya.
"Bu, jangan lupa bilang ke Sandro masalah ini, dia juga harus waspada, bisa saja Lisa masuk ke sini lewat Sandro!"
Ibu mengangguk, kebetulan Sandro baru saja pulang, dia membawa makanan yang tadinya ada di depan pagar.
Sejenak ibu lihat dan dengar obrolan sengit Sandro bersama putri sulungnya, makanan itu tak ada yang pesan karena di rumah ini sering masak dibandingkan beli.
__ADS_1
"Kamu harus waspada, takutnya bapak dan Ibu celaka karena dia manfaatin kamu!"
"Iya, Mbak ... aku juga tidak mau keponakan aku ini kenapa-napa, nanti tidak ada jatah uang saku dari kak Andra."
"Hush, kamu ini, dengar dia nanti dia marah loh!"
"Memangnya kak Andra bisa marah kalau ada Mbak, kan tidak bisa, yang ada dia justru manja sama Mbak, kita seperti penghuni kontrakan di sini, semua punya kalian, wlek!"
Dasar!
Gadis kembali ke bangunan utama, masuk ke kamar sembari melepas kardigannya, harus tertutup, bila masuk ke kamar barulah dilepaskan semuanya, bebas dan lepas.
Duda itu asik melihat video di ponsel, hanya melirik Gadis yang merangkak naik ke ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut, kedua tangan Gadis melingkar di perut Andra, ini siasat agar tak kena omel duda.
Ya, dia tadi diberi izin hanya dua puluh menit untuk membahas Lisa, tapi karena bertemu Sandro di depan, mau tak mau Gadis harus molor sepuluh menit.
"Sayang, mau tidur jam berapa?"
"Ahahahahah," Gadis tergelak, sia-sia dia merayu sampai lepas baju sekalipun, Andra akan sulit dia tahlukkan. "Kalau sebal begitu namanya jadi bukan Andra ganteng loh, tapi Andra wek-wek!"
Andra memicing, dia sejajarkan tubuhnya dengan Gadis, merangkum wajah wanita itu dengan kedua tangannya, pipi Gadis dikumpulkan jadi satu sampai bibir Gadis manyun membentuk pola kecil.
Tak lama duda itu tergelak, dia kecupi wajah Gadis, lalu dia rangkum lagi sampai Gadis memberontak, barulah selesai dan tetap hukuman akan Gadis terima.
"Anaknya lagi malas, Sayang. Dia memang mau bertemu papanya, tapi tidak sering-sering!"
"Kalau jarang, dia nanti lupa!"
__ADS_1
"Kata siapa begitu, tidak ada!" sanggah Gadis. "Dokter cuman bilang lebih bagus sering menjelang melahirkan, bukan diawal, itu lebih-"
Andra bungkam dengan bibirnya. "Dokter itu tidak tahu kalau anak kita kuat, seharusnya dia bisa berbicara di dalam sana, mungkin dokternya tidak dengar, besok aku akan protes padanya!"
"Ndra!"
***
Memang kehangatan itu Andra sudah ciptakan di dalam anggota keluarganya, dia sudah menyatakan melupakan masa lalu yang membuat dia kesal setengah mati dan trauma, sayangnya yang diajak kerja sama tak bisa lagi dipercaya.
"Istriku sedang hamil, ada keluarganya di sana, selagi aku berbicara baik, katakan padanya agar tak melewati batas!" Andra benar-benar murka dengan Lisa.
Hikam pejamkan matanya, dia sudah mempertingati wanita itu dengan banyak hal, tapi tetap saja tak mau mengontrol diri.
"Kenapa tidak Kakak nikahi saja, toh semua sudah berlalu?"
"Aku ragu itu anakku atau bukan-"
"Dan aku benci menjadi jalan bagi dia mendapatkan ambisinya, bisa kau selesaikan?"
Hikam menelan ludahnya kasar, tatapan Andra sangat dingin, tak mungkin dia perang dingin kembali di keluarga ini bersama Andra, sedang kesalahannya yang fatal saja bisa Andra maafkan kemarin.
Hikam endak menjawab, tapi ponsel Andra lebih dulu bergetar, ada nama Gadis di sana, Andra tentu meminta Hikam diam lebih dulu.
[Say-]
"Jangan mandi duluan, kita mandi busa-busa bersama, Helen!"
__ADS_1
Ekhem!
Hikam salah tingkah mendengarnya, adiknya ini astaga.