Jodohku Duda Muda

Jodohku Duda Muda
Panggilan Sayang


__ADS_3

"HELEN!"


First time benar-benar Andra menggunakan nada tingginya, di depan wanita setelah sekian lama dia menahan diri untuk tidak mengulangi kesalahannya pada Lisa yang sangat dia benci.


Bersikap kasar pada wanita adalah kebencian utamanya meskipun wanita itu bersalah, kalau bisa dia mau lemah lembut terus dan manja, tapi malam ini di depan wanita yang sudah pernah tidur dengannya, dia cumbu setiap kali rindu, Andra melafalkan nada tingginya, tak lupa kedua tangan terkepal yang semakin membuat Gadis mati kutu, dia takut bukan main.


Gadis masih meringkuk, dia tak berani mengangkat wajahnya, memilih bersembunyi atau mungkin lebih baik dia menjadi kura-kura yang bisa sembunyi di dalam cangkang saja.


Namun, dua tangan besar menyelimuti tubuhnya, perlahan nan pasti dia dibuat berbaring dengan mata tertutup, terlalu takut melawan Andra, dia kalah dan mengaku salah karena memancing emosi suaminya, padahal bisa dia bicarakan baik-baik esok hari.


Ah, Gadis terlalu terbawa suasana. Tapi, balasan Andra tadi juga membuat hatinya teriris sebagai wanita yang kini menjadi istri sah Andra.


Andra membawanya ke dalam pelukan, masih bisa Gadis dengar nafas tak beraturan Andra, mungkin karena emosi yang tadi, berangsur-angsur kembali normal seperti Andra yang selalu manja padanya.


Satu kecupan di pipi dia dapatkan meskipun matanya terus terpejam, dia yakin Andra pun merasa bersalah, dengan ini pertikaian malam ini dinyatakan selesai, tapi Gadis masih menyimpan banyak tanya, sayangnya malam ini dia harus terima karena Andra memperlakukannya dengan baik setelah membentaknya baru saja.


"I love you, I choose you, Helen." bisikan Andra tak mampu masuk ke telinga Gadis, disisa isakannya, Gadis terlelap dan mendengar itu semua.


Keesokan harinya,


Bapak berulang kali mengintip rumah menantunya itu, semalam sempat mendengar perdebatan Andra dan Gadis, tapi bapak memilih menjauh dan tak ikut campur, takut semakin runyam bila dia masuk ke ranah rumah tangga anaknya.


Dalam hatinya yakin, tak akan ada pertengkaran serius di dalam, hal lumrah yang terjadi pada semua pasangan, mau baru menikah atau sudah lama.


Sedangkan di dalam kamar, Gadis sudah direpotkan Andra dengan permintaan pagi buta, mencuci rambut Andra dengan pijatan pundak spesial.


"Sudah bersih rambutnya, Tuan muda." Gadis melupakan bentakan malam itu, dia kembali memasang senyum, dia juga salah, jadi canggung untuk jual mahal. "Sekarang mau dikeringkan pakai handuk atau hair dryer saja?"


Andra tersenyum miring, lihatlah apa yang sedang istrinya lakukan itu, dengan tubuh yang berbalut handuk, melenggang ke sana-sini menawarkan banyak hal padanya.


Oh, jangan lupakan bekas gigitan Andra di leher itu semalam, bisa Andra lihat dengan jelas dan yakin Gadis tidak akan bisa menutupinya.


"Aku mau dibasahi terus, Nona."


Ah, mereka sedang bermain tuan dan nona besar, baiklah.

__ADS_1


"Dibasahi bagaimana, kan Tuan muda mau kerja, masa iya kerja dengan rambut basah, ayo pilih yang mana?"


Andra lantas bangkit, ke luar dari bath up dan melangkah polos ke belakang Gadis, mendorong Gadis masuk ke sisi kaca yang tinggal sekali putar kran, mereka akan terguyur bersama.


"Hei, katanya mau dikeringkan rambutnya, sudah cuci rambut sampai wangi, Tuan muda mau apa lagi?" Gadis masih malu melihat mata Andra.


Manik coklat bening yang selalu menawarkan kehangatan, belum lagi bibir Andra yang tampak segar, seperti tak pernah terjamah.


"Tuan-"


"Tuan muda mau mandi bersama Nona, dia tidak mau kalau Nona keberatan," bisiknya sembari menggigit kecil telinga Gadis.


Oh, astaga, ahahaa ...


"Jadi, mau mandi bersama ya, okay ... handuknya mau dilepas atau aku harus memakai handuk mandinya, Tuan muda?" Gadis mengerucutkan bibirnya, menggemaskan di mata Andra.


Wanita yang lebih tua empat tahun darinya itu memang menggemaskan, tak salah selama ini mata Andra terus memindai dan mengamati Gadis.


Dia ingat bagaimana Gadis menangis setelah tes pertama kerja, dia bahkan mengumpat pada semua jajaran petinggi karena membuat heelsnya patah, Andra ingin menertawai istrinya ini.


"Lepas handuknya, aku hanya ingin mandi bersama!"


"Sungguh, hanya mandi?"


Andra mengangguk, dia cium bibir itu tanpa aba-aba, membuat Gadis melenguh dan gelagapan dalam satu waktu, serangan mematikan yang yakin sekali tak bisa Gadis elak.


Mandi, hanya mandi? Khayalan, karena Andra selalu punya cara agar Gadis lumpuh padanya, dia tahu mau hati wanita satu ini, menjadi miliknya utuh yang sebenarnya sudah utuh, andai Gadis menyadarinya.


Andra sedikit mengelus perut rata Gadis, dia mau anak dari wanita ini, menjadikan Gadis sebagai ibu dari anak-anaknya, dan dia tentu menjadi suami sekaligus ayah yang bahagia di usia muda.


"Ndraa, sudah satu saja ya ...."


***


"Eh, busetttt dah ... Gadis, OMG!!" Rena memekik menunjuk leher Gadis. "Ganas banget dudamu, Dis!"

__ADS_1


Gadis memutar kedua bola matanya jengah, saking ganasnya sampai tidak tahu mereka berperang seperti apa, otot-otot dikerahkan semua.


Suara intercom mengejutkan Gadis dan Rena, belum juga selesai Rena merecoki Gadis, temannya itu harus berjalan gontai ke ruangan orang penting.


Ya, suaminya!


Rena hanya melambaikan tangan dan memberi semangat, siapa tahu nanti di ruangan Andra akan ada yang hot, pikiran Rena sudah mengarah pada sensasi bercinta di kantor, apalagi di ruangan petinggi, kalah semua drama.


Entah ada keperluan apa sampai Andra memanggilnya ke ruangan, yang lebih mengejutkan lagi ialah di ruangan itu ada pak Nuh dan Lisa, Gadis seperti diterjang ombak ganas saja.


"Helen, ke mari!" Andra menjentikan jemarinya.


Gadis tersenyum canggung, matanya sedikit menangkap senyum ramah pak Nuh, sudah biasa baginya karena pria tua itu baik, tapi yang satu lagi, menatap Gadis dengan tatapan malas, bahkan sudut bibirnya terangkat seperti mau memaki.


"Apa iya, istri pimpinan muda jadi pekerja biasa dengan gaji rendah di sini?" gumam Lisa tak berniat ada jawaban.


Pak Nuh memilih diam dan tersenyum, dia pasrahkan pada Andra, dia juga tidak tahu tujuan cucunya memanggil Gadis ke ruangan ini disaat mereka berunding.


"Sayang, jangan duduk di sana, di sini saja berdua sama aku!"


Glek!


Fix, Gadis yakin duda itu baru minum pil koplo, sampai memanggilnya 'sayang'.


"Aku di sini saja ya, lebih nyaman kalau kursinya-"


"Lebih nyaman kalau kita berdua duduk di sini, sambil pelukan." potong Andra, dia gerakkan kursinya hingga ke dekat Gadis, menarik tubuh itu berpindah ke pangkuannya, lalu kembali ke belakang meja besar.


Andra melebarkan kedua kakinya hingga Gadis duduk diantara kedua kakinya, beruntung kursi itu lebar.


"Tidak apa ya aku bekerja dengan posisi begini, aku lebih bersemangat bekerja begini, Kek. Setuju, kan?" rajuk Andra.


Pak Nuh memerah menahan tawa.


***

__ADS_1


Hari ini si duda ajuin kontrak, doain cepet acc ya, love semua Omaa...


__ADS_2