
"Sayang, Tika tolong bawa sini!" pinta Gadis, bukannya manja, tapi bekas jahitannya masih nyut-nyutan bila dia banyak gerak. "Dia lapar, mau susu, tolong, Sayang!"
Andra gendong bayi cantiknya itu, dia ciumi sebentar sebelum menyerahkan pada Gadis, dia sampai rela terlambat bekerja hanya karena melihat wajah cantik sang putri.
Bayi ini, anak perempuan pertama dari keluarga Andra, bahkan anak Hikam saja laki-laki, jadi dia yang paling cantik.
"Pelan, Papa tidak memintanya, dia hanya melihat, Tika!" Gadis mengusap pipi putih anaknya. "Dia mirip banget sama kamu, Sayang. Coba kulitnya sepertiku, pasti tidak seputih ini, iya kan?"
"Tapi, kamu cantik, Helen. Hanya kamu dan Tika yang cantik!" tegas Andra.
Iya, oke, aku yang cantik, tapi hanya di matamu saja, puas!
Gadis timang sebentar sampai Tika terlelap, lalu dia baringkan di dekatnya, menjadi orang tua baru sangatlah menyenangkan, ada sedihnya juga kalau gerak terbatas sedangkan anak bayi ini butuh cepat.
Walau dia sebal Andra ada di rumah terus, sebab hal itu menyulitkan ibunya ke sini, tapi Andra bukan tipe yang terlalu menyusahkan, dia mau belajar mengganti popok Tika dan menimang bayi itu sampai terlelap, belum lagi kalau malam, Andra terjaga hanya demi Tika, memastikan anaknya tidak digigit nyamuk.
Ya, sereceh itu dudanya Gadis ini, banyak hal yang tidak Andra bisa, menjadi hal baru baginya, tapi tidak ada keluhan dari bibir Andra, justru berulang kali dia bersyukur hidupnya lengkap dengan hadirnya Tika.
"Helen, aku mau belajar memandikannya!" kata Andra antusias.
"Kamu yakin?" Gadis sebenarnya meragu, tapi tangan suaminya itu lebar, pasti tidak akan membuat anaknya terjatuh. "Sini aku ajari, Sayang!"
__ADS_1
Andra bergerak mendekat, dia berdiri di samping Gadis, lalu merentangkan kedua tangannya, pelan-pelan dia terima tubuh kecil polos Tika, menurunkan bayi itu ke air setinggi satu garis jari.
"Usap pakai kain kecilnya, Sayang!"
"Jangan cepat-cepat!"
"Sayang, kasih sabunnya sedikit!" Gadis berkacak pinggang, sudah mau mengajak suaminya adu panco. "Jangan diguyur gitu, pakai jari direnggangkan kasih airnya!"
"Sayang, kepala belakangnya belum, pelan-pelan!"
"Benar, telinganya digosok lembut saja sama jarimu!" Gadis berpindah ke sisi depan, dia amati kedua kaki anaknya. "Sini, jari kakinya belum bersih, sama pantatnya masih ada sabun!"
Sabar, Gadis usap dadanya berulang kali, dia bantu sedikit-sedikit sampai dirasa cukup dan segera menyelimuti bayi cantiknya.
"Helen, Tika kedinginan!" adu Andra.
Iya, kamu ajak mandi lama, duda!
Ingin rasanya Gadis marah, tapi suaminya ini sumber segala mood, dia harus tahan sambil merentangkan tangan agar Tika berpindah kepadanya.
"Mau diapakan, Helen?"
__ADS_1
"Dipeluk, Papa. Anaknya mau dipeluk biar hangat, kan kalau dipeluk bisa hangat," jawab Gadis sambil memandang bayinya yang langsung meringkuk, menjulurkan lidahnya mencari sumber asupan hangat. "Kayak Papanya suka curi kesempatan peluk kalau dingin, ya kan?"
Andra terkekeh, dia duduk tepat di samping Gadis, lalu memeluk wanita tercintanya itu, dia tidak mau kalah, mau dipeluk dan mencari kehangatan juga.
"Helen, dia tidak akan sakit, kan?"
Eh, Gadis menoleh, wajah dudanya penuh rasa bersalah.
"Sayang," sebutnya pelan.
"Dia kedinginan karena aku mandikan lama, dia tidak akan sakit, kan? Aku takut, kalau dia marah padaku bagaimana?"
Kesempatan.
"Kalau dia marah padamu, mungkin dia hanya meminta tidur beberapa malam bersama mamanya, tidak di box sendirian, Sayang," jawab Gadis, dia menyeringai tipis. "Bener kan, Tika?"
Andra berikan jarinya agar Tika genggam. "Tapi, anakku pasti sama denganku, bukan pendendam dan suka marah, Helen, dia tidak akan menghukum Papanya, heheheh."
Kata siapa? Kamu suka marah seenaknya, suka dendam, dasar duda!
Tarik nafas, tahan, buang pelan, Gadis harus sehat dan waras.
__ADS_1