
Dengan tidak tahu malunya, di depan banyak tamu dan keluarga, duda muda yang sudah sah menjadi suami Gadis ini ******* habis bibir pengantin wanita.
Andra sapu bekas basah di bibir Gadis dengan ibu jarinya, lalu dia tersenyum setengah meledek Gadis, tak lupa lidah kurang ajarnya itu.
Ciuman pertama, hari ini Gadis kehilangan ciuman pertamanya.
"Sepertinya pengantin kita sudah tidak sabar untuk malam pertama mereka, tepuk tangan untuk Tuan Andra dan Nona Gadis!" seru MC dengan gemuruh yang meriah.
Gadis mendesis pelan, pasti riasan di bibirnya hancur karena ulah pemuda di sebelahnya ini, bibir bawahnya juga sedikit perih, Andra menggigitnya agar lidah sialan itu bisa masuk, hampir saja Gadis muntah dibuatnya.
Mata Andra melirik lagi, wajah sebal Gadis begitu menggoda untuknya, dia suka kejujuran, daripada berlaga tidak sebal, tapi nyatanya menggerutu dan memakinya.
"Mau apa lagi?" Gadis tersingkap, menahan wajah Andra.
"Aku hanya ingin menyentuh rambutmu, mau aku cium lagi ya, ngaku!"
Gadis melotot sebelum akhirnya kembali tersenyum karena kedua mertua dan kakak iparnya maju endak berfoto, ingin sekali dia jitak pemuda di sebelahnya ini, maksud Gadis itu suaminya.
"Ma, Pa, Kak Gana, Kak Hikam, terima kasih hadiahnya ya ..." Gadis mendapatkan hadiah yang banyak dan pelukan hangat.
"Sama-sama, kamu besok jangan lupa mampir ke rumah utama, Mama masak apapun yang kamu mau!" ujar mama mertua.
"Iya, Gadis bakal-"
"Tidak, dia akan di rumah seharian bersamaku, ini pernikahan kami dan aku mau di rumah saja!" potong Andra, satu tangannya melingkar di pinggang Gadis.
Mama tampak kecewa, tapi dia tetap mengulas senyum dan mengalihkan ke hal lainnya, mengajak Gadis dan Andra membuat foto keluarga.
Tak lupa Andra minta pada kedua kakaknya menjaga jarak pada Gadis, sedikit saja tersentuh, dia pastikan tidak akan membiarkan mereka selamat pulang ke rumah.
"Kamu jangan berlebihan, mereka itu keluargamu, keluarga kita, Ndra!"
"Cih, keluarga tidak akan menyakiti keluarganya." Andra palingkan wajahnya, melepas tautan jemari sisa foto tadi.
Gadis tautkan lagi, ini hari pernikahan mereka, masalah apapun, dia tidak mau kalau nanti di rumah, bertemu Andra dengan wajah kesal seperti ini.
Dia ulas senyum, membuat Andra menoleh padanya, lalu senyum itu menular, satu usakan dia terima, barulah kembali mereka fokus pada acara ini.
Ada apa sebenarnya?
Selesai rangkaian acara, perhatian Andra turun pada kedua orang tua Gadis dan adiknya.
Mereka memang berencana menginap, tapi entah karena apa, Andra ingin di rumah barunya saja bersama Gadis, kebetulan juga orang tua Gadis ada di sana meskipun beda bangunan.
Pak Nuh tak bisa mengelaknya, keputusan Andra adalah hal yang pasti, tidak akan diusik, terlebih lagi soal Gadis.
Dua mobil sedan melesat kembali lebih dulu, pak Nuh hanya bisa menahan keluarga Andra yang tertinggal di sini, menghalau emosi dan kecewa mereka.
"Sudahlah, dia hanya ingin Gadis fokus padanya!" pak Nuh menyimpulkan.
"Anakku itu masih trauma soal pernikahannya yang gagal bersama Lisa," ujar mama, dia rasakan ketakutan yang Andra simpan. "Seandainya saja, dia mau berbagi padaku, entah apa yang dia sembunyikan dariku sampai menjauh seperti itu," imbuhnya pedih.
Pak Nuh minta Gana membawa kedua orang tuanya kembali ke dalam, sedangkan Hikam mengambil kunci mobil, dia ada urusan malam ini dan terpaksa harus undur diri seperti pengantin baru itu.
***
Di kamar utama,
Andra melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Gadis, sorot matanya berkabut, tapi tetap tajam dan menjengkelkan.
Belum ada yang mandi, tapi pemuda satu ini tidak mau melepaskan Gadis sama sekali.
"Ndra, ini sudah malam, kita harus segera mandi dan istirahat, ayo!" ajaknya.
"Kenapa terburu-buru, tidak suka aku peluk seperti ini?"
__ADS_1
Astaga,
"Bukan begitu, tapi ini sudah malam, mandi terlalu malam bisa sakit nanti, lepaskan aku!" pintanya memohon, tapi Andra tak bergeming, dia justru semakin mengeratkan dekapannya. "Ndra, aku mau mengingatkan obat bapak dulu, ponselku di ranjang, lepaskan aku sebentar!"
Lepas, alasan itu tak akan Andra tolak, tapi matanya mengintai Gadis, tidak terputus sama sekali. Tanpa menunggu lama, dia ikut duduk di tepi ranjang, menjatuhkan kepalanya di bahu kecil Gadis yang wangi.
Mau marah itu takut, tidak enak dan semuanya campur aduk, tapi kalau tidak marah itu duda satu ini sangat aneh, Gadis telan saja rasa penasaran dan kesalnya.
Andra bisa berubah sewaktu-waktu, tapi yang jelas dia seenaknya, mau melarang dan menyetujui terserah isi kepalanya.
"Lama sekali, ayo mandi!" Andra rebut ponsel Gadis, dia lempar ke dekat bantal, lalu menarik tangan Gadis untuk masuk ke kamar mandir bersama. "Ayo, mandi!"
Eh, iya, tapi kan tidak berdua begini!
Andra buka kemejanya, menampilkan pahatan indah sampai Gadis menganga dibuatnya, sengaja dia membuka baju di depan Gadis.
Sret,
Gadis terperangkap, hidungnya hampir menempel pada kulit bersih itu, dia bisa mencium aroma maskulin khas Andra di sini.
"Kita mandi bersama, lepas bajumu!"
"Ndra, tapi kan kit-"
"Aku tidak memintamu making love, Helen. Mandi, itu berbeda dari yang aku sebutkan tadi, aku dan kamu akan mandi bersama tanpa mengenakan apapun!"
Glek,
Gadis telan salivanya, tanpa memakai apapun, itu artinya dia akan melihat bagian tegak yang sering teman-temannya bahas.
Oh, no!
"Ndra-mmmmptt!"
Pukulan Gadis tak terasa baginya, tangan itu terlalu kecil untuk menyaingi tenaganya hingga tanpa Gadis hitung berapa waktu yang terlewati, tubuhnya sudah dibuat polos oleh Andra.
Andra putar tubuh Gadis membelakanginya, dia peluk, memutar kran shower dan membiarkan air jatuh membasahi tubuh polos keduanya dengan rintik yang ikut sendu.
"Sstttt, Ndraaaa ...."
"Hem."
Andra cium bahu dan leher Gadis, dia tak menerima penolakan malam ini, dia tahu batasannya.
Kedua tangannya merayap dan berhenti pada dua bagian menyembul milik Gadis, sentuhannya membuat Gadis mendesis berulang kali, memberontak kecil, tapi Gadis tetap kalah dari Andra.
Beberapa detik kemudian, Andra putar Gadis menghadapnya, kening mereka saling menempel, Gadis pejamkan matanya, tidak sanggup melihat bagian di bawah sana, baik miliknya atau milik Andra.
Tapi, sungguh, Andra tahu batasannya.
"Hei, lihat aku, buka matamu, Helen!" bisiknya memerintah.
Gadis bergeleng, dia takut hanyut begitu memandang netra Andra, ciuman memabukkan itu pasti membuatnya lupa, lalu yang mereka akan melampaui batas.
"Helen!"
"Helen!!"
Baru mata Gadia terbuka, nada tinggi Andra berhasil membuatnya gemetaran, bahkan matanya berkaca-kaca, dia sangat takut ini hanya pernikahan yang dimainkan.
Andra tersenyum di bawah guyuran air, dia kikis jarak yang ada, mempertemukan bibir mereka kembali, menyecap lembut, lalu memandang wajah Gadis lagi, perlahan kelopak mata itu terbuka, tampak sangat sayu.
"Bantu aku mandi, Helen!" pintanya.
"Ban-tu bagaimana?" bingung, mereka bukan anak bayi lagi yang harus dimandikan.
__ADS_1
Mata Andra melirik botol sabun, lalu kembali pada Gadis. Dalam sekejap Gadis paham, ide gila suaminya itu berhasil membuatnya kembali kesal, dia tahu tak bisa percaya pada tatapan dalam Andra, sebab Andra pasti hanya mengerjainya saja.
"Helen, yang depan belum sabunnya!"
"Iya, iya, tunggu, sabar kenapa sih?!"
Aku habiskan saja sabunnya, biar dia mandinya lama, ahahahahah.
"Helen, sini belum!" Andra berputar.
Glek,
"Aaaarrrghhhhhhhh!" Gadis melotot sempurna.
***
Sialan,
Gadis remat bantal di dekatnya, kalau boleh, dia akan menumpuk bantal di wajah Andra yang tengah terlelap, lalu dia tahan sampai Andra kehabisan nafas.
Semalam karena ulah isengnya, Gadis harus melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat.
Besar sekali, Dis!
Hush, Gadis tutup wajahnya, dia hampir mati melihat benda tegak itu semalam di kamar mandi. Sementara, Andra justru tertawa dan meminta tangan Gadis yang suci untuk membalurnya dengan sabun.
Pas sekali di tangan, Dis.
Aarrrrrghhh, tangan dan matanya sudah ternoda karena pemuda, duda sekaligus suaminya ini.
"Helen," panggil Andra dengan suara parau khas bangun tidur.
Gadis menoleh, dia turunkan kembali bantal yang endak terbang ke wajah Andra.
Andra beringsut duduk, dia tarik tangan Gadis hingga bersandar sempurna padanya, menepuk kecil kepala Gadis dan dia kecupi.
"Masih marah?" tanyanya.
"Masih marah, Helen?" lagi.
"Helen, kenapa tidak menjawab, masih marah?" lagi.
Gadis angkat wajahnya, "Hayo, mau ngerjain aku apa lagi?" tidak menjawab, justru membalas dengan pertanyaan dan tuduhan.
Andra terkekeh, dia sambar singkat bibir Gadis sampai empunya melebarkan mata, terkejut.
Perlahan Andra tautkan jemarinya pada jemari Gadis, mengunci tatapan Gadis dengan mata yang dalam dan mematikan.
Keras, apa ini?
Gadis endak menarik tangannya, tapi Andra tahan, bahu Andra naik-turun menahan tawa, bibirnya terlipat sebelum akhirnya bersuara.
"Dia bangun kalau pagi, masih sama seperti semalam tidak?"
Apa yang bangun dan apa ini?
Gadis putar bola matanya, turun searah pada tangan yang digerakkan di balik selimut. Bibirnya gemetar, dia tahu apa itu, tapi sulit untuk dia katakan.
"Ukurannya sama tidak, Helen?" Andra goda sekali lagi, dia gosok-gosokkan telapak tangan Gadis di sana, bisa dia lihat mata Gadis mau lepas dari rongganya. "Mau melihatnya lagi, Helen?"
Gadis angkat wajahnya, mata mereka saling bertemu, satu yang ke luar dari bibir merahnya.
"Aaaaaaaaarrrrrgghhhhhhhhhh!!"
Ular, ular, ular ....
__ADS_1