Jodohku Duda Muda

Jodohku Duda Muda
Cukup Percaya!


__ADS_3

Mereka terlelap dalam pelukan yang sangat rapat, tubuh Gadis bergelung di dalam pelukan Andra, sampai mereka tak sadar, sejak pulang tadi, belum ada yang menyentuh makanan dan air.


Gadis menggeliat kecil, dia memekik saat memindahkan kakinya, bagian itu masih perih, efek percintaan yang kasar dari Andra.


"Ssshhh, Ndra ... sanaan kakinya!"


Andra membuka matanya yang gelap, mensejajarkan retina dengan cahaya yang ada, mereka tidur dalam kondisi terang benderang.


"Mau ke mana?" kedua tangannya menahan pinggang Gadis kuat, hampir menyakiti Gadis lagi.


"Laper, kita belum makan dan minum dari tadi, bangun ya..." Gadis merengek, hebatnya setelah mereka bertengkar dan salah paham ialah keduanya bisa semakin dekat, semua itu Andra sadari tak luput dari kelembutan dan pemahaman Gadis padanya. "Ssshhh, sakitnya!"


Andra raba paha Gadis, pelan dengan telapak tangannya yang besar dan halus, dia tempatkan pada bagian inti Gadis yang sakit karena perbuatan kasarnya.


"Sangat sakit?" tanya Andra dengan wajah bersalah.


Gadis tersenyum, ia mengangguk dan membenarkan. "Kamu harus sadar, punyamu itu oversize!"


"Ahahahahahah, oversize?" Andra tergelak sambil memeluk Gadis, dia tak akan melepaskan wanita secanggih ini, hebat dalam segala hal, terutama pengendalian hati, Gadis memenangkannya yang rumit. "Apa sebesar itu? Aku rasa milikmu saja yang kurang diasah, sepertinya harus sering-sering aku-"


Gadis bekap mulut Andra dengan satu tangannya, walau mereka hanya berdua di sini, tapi obrolan seperti ini juga memalukan.


"Mau aku gendong?" Andra sudah mengambil ancang-ancang, tapi Gadis bergeleng, dia masih bisa menahannya, sebelum Gadis beranjak, Andra sempatkan memeluk Gadis lebih dulu seraya meminta maaf. "Maaf kan aku, Helen, maafkan aku. Tadi, aku benar-benar takut!"


Gadis balas pelukan itu, dia tak mau menunda lagi, dia mau Andra mengatakan semuanya, soal masa lalu yang membuat dia bertanya-tanya, hal itu kunci agar Gadis tak terpengaruh dari ocehan orang di luar sana.


"Aku belum minum, jangan dicium!" Gadis memalingkan wajahnya. "Andra!"


Andra melepas pelukannya itu dan berlari ke luar lebih dulu, sementara Gadis gosok bekas sesapan di lehernya, duda itu benar-benar menguras kesabarannya.


"Lihat, awas kalau tidak mau menjawab pertanyaanku, tidak akan aku berikan jatah sebulan!" ancam Gadis menggerutu.


Makanan instan menjadi solusi mereka di malam hari, daripada perut lapar dan sakit, lebih baik membuat yang cepat saji, Andra pun tak menolak, dia justru mau memakan dari suapan Gadis dengan manjanya.


Inilah saatnya, setelah mereka makan, Gadis ingin mengintrogasi si dudanya ini, dia mau tahu dan Andra sudah berjanji menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Katakan!"


"Helen, kau dulu!" Andra memutar jari telunjuk Gadis. "Ceritakan semua yang terjadi antara kau dan Gintang, mantanmu itu!" sumpah, Andra ingin mematahkan sendok saja menyebut nama Gintang. "Aku mau mendengarnya, nanti akan aku jawab!"


"Janji?"


"Ya."


"Tidak akan ingkar?"


Andra meraih tangan Gadis, dia kecup tangan itu sembari memandang Gadis lekat dan dalam. "Tidak akan ingkar."


"Baiklah, kalau ingkar, aku tidak akan memberimu jatah sebulan!"


Andra memukul meja makan yang telah kosong, dia raup wajahnya, siapa yang bisa terima kalau tidak mendapatkan jatah selama satu bulan.


"Aku baru terima itu kalau kau hamil, itu aturannya!"


Gadis terdiam, duda ini membahas kehamilan di depannya, bisa dia lihat seberapa seriusnya Andra membahas soal hamil.


"Semua yang dia katakan salah," ujar Andra menyimpulkan dari semua cerita Gadis yang didengar dari Gintang.


Gadis memandang penuh tanya, dia masih belum puas dengan jawaban yang super singkat itu, dia mau dijelaskan salahnya di mana.


Kedua tangan Andra terlipat ke depan, wajah serius Andra yang selama ini hanya Gadis lihat di kantor, kini dia lihat secara langsung di rumah, aura rumah ini pun berbeda, Gadis sampai merinding dibuatnya, berulang kali Gadis menggosok lengannya.


"Kakek sedang berusaha membuka kasus ini dengan taktik yang rapi, aku memang tidak bisa menjelaskan sekarang soal masa lalu itu, tapi yang jelas aku katakan, apapun dugaan di luar sana yang berhubungan dengan sikapku adalah salah. Helen ... aku memilihmu menjadi istri, bukan untuk satu malam atau satu teguk kenikmatan, aku serius, kalau aku bermain-main, tentu aku tidak membawa orang tuamu, over all, i choose you tobe my wife forever!"


Gadis palingkan wajahnya, merah pasti mendengar ucapan Andra barusan itu, dia yakin dudanya kerasukan ribuan jin hingga bisa berkata yang demikian ghaib.


Satu tangan Gadis tampak mengusap dada berulang kali, sebelum Andra merebut tangan itu merasa tak tega bila buah kesukaannya harus ditekan-tekan.


"Bisa kau percaya padaku? Aku kesulitan dan terbebani dalam masalah ini, Helen. Kalau bukan padamu aku mencari keteduhan, aku ke mana lagi, hem?" Andra kecup kening Gadis, dia berdiri di depan Gadis, istrinya sampai mendongak menatapnya. "Aku tidak meminta kau bersikap atau berbuat apa, soal Lisa dan lainnya, ku mohon percayalah padaku, itu sudah cukup, you're last and first!"


Astaganaga, Gadis merasa semua tubuhnya tegang, demi apapun dudanya ini tengah mabuk, pasti tak sadarkan diri, atau mungkin mabuk perawan.

__ADS_1


Gadis tak berani menatap Andra lagi, resiko menikah dengab pemuda yang sudah menyandang status duda, dia bukan hanya mengalah, tapi juga kalah karena pesona dudanya.


Oke, duda nomor satu dibarisan para lelaki, Dis!


Andra menunduk. "Apa yang tadi sangat sakit? Benar karena milikku oversize atau aku kasar?"


"Jawab!"


"Iy-iya, sakit, kamu kasar!" mata Gadis mengisyaratkan luka sekali lagi, dia merasa bukan istri Andra tadi, bahkan dia mau mengutuk senjata Andra biar bengkong.


Andra tarik dagu Gadis, lagi-lagi pesona duda itu menelusup dalam jiwanya, dia menelan salivanya berat seperti banyak duri di tenggorokannya.


"Maafkan aku, Helen. Aku hampir mati dan tidak peduli padamu tadi, aku takut, maafkan aku!"


Gadis angkat wajahnya. "Apa bisa aku simpulkan kalau aku sedang dicintai saat ini?" deretan gigi Gadis tampil rapi dan menggemaskan di mata Andra.


"Nanti, kalau kau sudah hamil!" Andra sentil ringan kening Gadis.


Gadis berwajah jelek, dia mencibir Andra dalam hati, tapi begitu ketara dari kerutan di hidungnya.


Cup!


"Ayo, aku obati yang sakit tadi!" ajak Andra.


Modus duda!


Gadis menahan kedua kakinya, mencengkram lantai karena tahu arah pengobatan itu di mana, pasti dia nanti dibuat terlena dan pasrah di bawah Andra. Dia bergeleng, bukan mau menolak Andra untuk meraih nikmat, cuman inti tubuhnya masih sakit, pasti tidak nyaman.


"Hanya aku obati, ada salepnya di kamar, sungguh!"


Gadis masih menimang gamang, melirik bibir Andra yang pandai bernego.


"Aaah!" Gadis memekik, dia berada di gendongan Andra. "Ndra!"


"Sudah aku bilang tadi, percaya!"

__ADS_1


Percaya kepalamu!


__ADS_2