
"Ibu memintaku mengganti panggilan untukmu, jangan berpikiran yang aneh-aneh!" Gadis sampai pusing suaminya badmood seminggu lebih.
Ya, tapi kalau malam Andra masih saja mendekatinya sampai dia bingung memilih penolakan.
Mungkin Andra ingin Tika segera mempunyai adik, Gadis pun sama, tapi dia belum juga mengandung meskipun setiap malam Andra menyerangnya.
Bukan tak mau mengandung anak Andra, tapi ini belum rejeki keduanya.
"Sayang, tidak mau mendengarkan aku?" Gadis duduk di pangkuan Andra.
Duda itu lantas menoleh dan mengamati wajah Gadis, dia garis dengan jari telunjuknya, lalu mendekatkan bibirnya hingga keduanya tak ada jarak lagi.
Kalau sudah seperti ini, Gadis harus mengurungkan niatnya berbaring di samping Tika yang sudah lebih dulu terlelap, dudanya tidak akan mau dilepaskan.
"Helen, aku mau anak." Andra memeluk pinggang Gadis rapat.
"Iya, nanti kalau sudah rejeki kita pasti akan dapat, Sayang. Apa kamu bosan dengan Tika?"
Andra bergeleng jelas, mana mungkin dia bosan pada anaknya sendiri, bahkan dia bisa memeluk Tika sepanjang hari tanpa peduli Gadis menari-nari.
"Lalu?"
__ADS_1
"Aku hanya takut kesepian kalau anak gadis dibawa prianya pergi, lalu kita merana di rumah, jadi aku menunggu," jelasnya.
"Hahahahah, astaga, Sayang. Anak kita masih kecil, mana mungkin dibawa prianya, pria yang mana?"
Dudanya ini memang kadang-kadang susah sekali Gadis tebak, tapi karena malam ini duda itu bersikap manis padanya, Gadis berikan pelukan hangat, mengusap kepalanya dan mengecup bibir tipisnya.
"Terima kasih sudah mau menjadi pasangan wanita sepertiku, Sayang."
"Terima kasih, Helen. Sudah mau menerima duda sepertiku yang nakalnya minta ampun dan membuat darah tinggimu kambuh, hahahah, tapi aku sayang padamu, tidak tahu sejak kalan, yang jelas saat aku melihatmu, aku tahu aku jatuh cinta, mungkin pertemuan kita saja yang sedikit terlambat."
Malam pun menjadikan keduanya menghangat bersama, entah secandu apa Gadis untuk Andra, bahkan luka dan trauma masa lalunya berumah tangga bisa hilang hanya karena tingkah Gadis dan ocehannya.
Tika? Bocah manis itu sudah terlelap sejak tadi, tidak tahu mama dan papanya berbuat apa, yang dia tahu papanya selalu bilang kalau dia akan punya adik, yang entah adik mana dan dalam proses apa sekarang.
Tepat ulang tahun Tika yang keempat tahun, bocah bermata bulat itu mendapatkan hadiah yang dia nantikan bersama sang papa.
Gadis dinyatakan hamil dan nanti saat Tika menuju lima tahun sudah punya adik di pangkuannya.
"Tika, ada Friska sama bang Kaffa itu, main sana!" kata Gadis sambil mengusap kepala Tika.
Bocah itu lantas tersenyum lebar, kepalanya mengangguk-angguk seiring dengan langkah kakinya menuju depan, ada Kaffa dan Friska yang baru saja tiba.
__ADS_1
Friska lebih dulu sadar akan keberadaan Tika, dia pun melambaikan tangannya dan berlari ke dekat Tika.
"Tika, angen ama amuh!"
"Sama, Tika juga!" Tika memeluk Friska yang sangat imut di matanya.
Berbeda dari Kaffa, dia hanya menatap Tika datar, tidak membalas senyuman Tika yang baginya hanya gadis manja menyusahkan.
Tika berusaha mendekatkan diri, sumpah demi apapun bocah itu tidak akan mau mendekati Tika kalau bukan karena dorongan kedua orang tuanya.
Tika bukan tipe teman Kaffa sama sekali, tapi dia hanya akan dikatakan baik bila dirinya bersama Tika.
"Abang, mau kue ini?" tawar Tika.
"Dak, kamu ajah, aku dak suka!" balas Kaffa ketus.
Tika hanya menunduk sekilas, lalu dia tersenyum lagi.
Kata mama, kita harus baik sama semua orang dan tidak bisa memaksa orang baik pada diri kita!
TAMAT!!
__ADS_1
Kisah Tika dan Kaffa bisa kalian baca dengan judul "BADBOY ITU SUAMIKU" Rien Rini, di sebelah ya, thank you semua.