
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga, Andra bersiap duduk di dekat bangkar istrinya, melihat Gadis yang menggeliat kesakitan akibat kontraksi yang sudah dipastikan semakin bertambah hari ini.
Hampir seharian dia menunggu, saat ini sudah masuk pada pembukaan menjelang akhir di mana Gadis terus mengerang dan mencengkram tangannya hingga memerah.
"Helen, mau minum?" tawarnya, begitu Gadis mengangguk, dia berdiri dan memberikan minum. "Pelan-pelan, sebentar lagi si cantik ke luar, kuat ya!"
Gadis hanya meresponnya dengan anggukan, dia tidak punya tenaga cadangan untuk berbicara dengan Andra, sebab dia ingin menyimpannya saat melahirkan nanti.
Semakin ke sini, semakin kencang denyutan yang dia rasakan, Gadis menitihkan air matanya, dia rasa sudah diambang batas kemampuan diri menahan sakit, tapi doa dan ucapan baik suaminya membuat darah Gadis mengalirkan semangat besar.
Tubuhnya menggigil, dokter dan timnya telah siap di bawah sana, denting perlengkapan medis membuat Gadis semakin yakin waktu lahirnya sang buah hati semakin cepat.
"Ikuti arahan saya!" titah dokter itu.
Andra bersiap menjadi tumpuhan istrinya, dia pun terus membacakan doa agar setiap dorongan yang istrinya antarkan, masih menyimpan banyak tenaga sampai bayi cantik itu terlahir ke dunia, bukti dan ikatan cintanya bersama Gadis.
Bayi itu yang dia harapkan, bayi yang dia tunggu, dan bayi yang menjadi titik mula dia mengatakan cintanya pada Gadis.
__ADS_1
Gadis mengejan kuat, tubuhnya menegang bersamaan dengan suara robek di bawah sana, lalu tangisan melengking memenuhi ruangan.
Andra menganga melihat bayi merah diangkat tinggi-tinggi, lalu dibawa pergi setelah tali pusarnya digunting.
Ingin dia terjatuh, tapi Gadis membutuhkannya, Gadis masih harus menyelesaikan perawatannya.
"Sayang, Helen, anak kita!" katanya terbata-bata.
"Iy-iya." Gadis mengangguk, air matanya mengucur deras, dia pun pasrah begitu Andra memeluknya.
***
Bayi cantik yang kini menjadi pusat perhatian Andra sejak dipindahkan ke ruangan ibunya, Gadis bahkan tidak punya ruang untuk menikmati wajah anak mereka, Andra terlalu mendominasi akan anak cantik itu.
Berulang kali Andra usap pipi merahnya, dia kecup, lalu melihatnya lagi, memainkan jemarinya di mulut mungil anaknya, kembali dia cium, tidak ada bosannya.
"Sayang, kasih aku sini anaknya, dia mau nyusu!" pinta Gadis, dia kan juga mau memeluk anaknya.
__ADS_1
Andra menggelengkan kepalanya kuat. "Biar aku bantu, aku yang pegangi dia!"
"Astaga, begitunya sama Tika, duda ini!" geram Gadis, tapi Andra terkekeh mendengarnya.
Walau sempat membuat kesal, tapi Andra berikan bayi cantik itu ke dekapan Gadis, bersandar pada dada Gadis saja langsung membuat bayi itu menjulurkan lidah kecilnya.
"Dia baru susu, jadi pasti suka dekatan gini, iya?" Gadis kecupi wajah cantik mungil itu, mirip sekali dengan si dudanya itu, padahal dia yang mengandung sembilan bulan, ke luar mirip duda. "Papamu cemburu, mau susu juga kayaknya, boleh? Eh, jangan, ini punya Tika, Papa!" Gadis bersuara seperti anak kecil.
Andra cium pipi Gadis sebagai gantinya, dia peluk dari belakang sambil mencuri pandang pada wajah cantik anaknya, apalagi bibir mungilnya yang merah.
"Dia punya wajah yang sama denganku, aku sering menjenguknya, heheheh," aku Andra.
"Iya, sampai mau lahiran saja masih sempat minta jatah, mulai hari ini puasa 40 hari!" balas Gadis menyeringai tipis.
Andra raup wajahnya, bisa tidak bisa dia harus menahan diri, empat puluh hari tidak akan lama kalau tidak dibahas.
Ya, dia harus diam, atau berendam. Sialan!
__ADS_1
Tapi, Papa sayang kamu, Tika. Papa bakal tahan demi kamu, cuman kalau kamu tidur, Papa bisa kerjain Mamamu, pakai tangan, hahahahahh!