
"Ndra... kok di sini?" Gadis tahu temannya langsung membuang muka, daripada kena tegur atasan karena melihat kemesraan mereka.
Ngomong-ngomong Gadis bukan lagi rekan kerja, Gadis sudah menjadi istri sekaligus ibu dari calon penerus usaha ini, katakan Gadis itu nyonya besar.
"Kangen."
"Iya, kan ini di kantor sama kamu, boleh ya aku ngobrol sama temen bentar?"
Andra menjauhkan wajahnya. "Kamu tidak mau bertemu aku?"
Ah, Gadis salah lagi, mata dudanya berair, harus segera dia ambil hatinya, kalau tak mau semua orang di kantor ini menduga dia adalah istri durhaka.
Gadis beri kode pada temannya, dia harus pergi lebih dulu, pertemuan ini tak bisa lama karena dudanya lagi mode sensitif, mau tak mau Gadis harus seharian memperhatikan.
"Ke ruanganku!"
"Iya, jangan ditarik tangannya, nanti kalau tanganku merah bagaimana, hem?"
Andra seketika berbalik, dia angkat tangan Gadis, mengusap pergelangan tangan yang daritadi dia cengkram.
Bukan hanya itu, tangannya dikecup oleh duda satu ini, seperti anak emas yang tak akan dibiarkan lecet barang segaris pun.
"Sayaaang...."
"Sakit?"
"Sudah tidak, ayo ke ruangan kamu!" lebih baik Gadis hentikan, dia malu sendiri dengan perubahan Andra di sini.
Duda dingin yang suka seenaknya, sudah berubah menjadi peri manis, semua yang berhubungan dengan Gadis akan selalu lembut.
Bahkan, nada bicara Andra bisa berubah kala berhadapan dengan Gadis, memuja sekali sebagai suami.
"Dis, Kakek kira kamu tidak ikut." kakek Nuh menyapa ramah seperti biasa.
Gadis tersenyum, dia lepaskan tangan Andra, menyalami kakek Nuh yang mempersiapkan dirinya pensiun.
Satu yang tak Gadis sadari, ada mata yang langsung memerah di belakang sana, tidak rela tangannya dilepas oleh Gadis.
Ya, dia yang menggandeng Gadis, harusnya dia yang melepaskan, Gadis tak boleh egois seperti itu.
"Duduk, Ndra!"
Gadis menoleh ingin mengajak suaminya duduk bersama kakek Nuh, pekerjaan petinggi bisa sangat sibuk, bisa juga santai seperti ini.
Tidak ada pergerakan, Andra menatap tangannya yang tadi dilepas Gadis, pandangannya menunduk dengan batin yang berkecambuk.
__ADS_1
"Tunggu, Kek."
Ah, Gadis seharusnya merasuki duda satu ini agar tak merasa terus diabaikan, lebih mudah kalau mereka satu tubuh.
"Ahahaah, anak kami sepertinya perempuan, sampai gila seperti ini ayahnya...."
"Sayaaang, kenapa?" biar, di depan kakek Nuh memanggil Andra seperti ini. "Hei, ayo duduk!"
Aaah, sekalian saja malu di depan Kakek Nuh, Gadis dekatkan wajahnya, mengecup pipi dan bibir Andra singkat, benar-benar hanya kecupan, tapi bisa membuat mata Andra berbinar lagi.
"Jangan tinggalkan aku!"
Ya ampun, belum ada satu meter sudah seperti ditinggal pergi haji.
Kakek Nuh tercegang mendengarnya, selama ini dia lebih menilai Andra itu suka menyebalkan, namanya anak bungsu, tapi sekarang jauh lebih dan lebuh menyebalkan, untung istrinya sabar.
Ah, iya. Kakek Nuh tidak salah menikahkan Andra dengan yang lebih tua.
"Sini peluk dulu!"
Oke, Gadis turuti saja daripada mereka tidak jadi kerja.
Kembali pada sisi tegas dan dinginnya, Andra tetap meminta Gadis duduk di sampingnya, dia mulai mendengarkan dan berdiskusi dengan kakek Nuh, sesekali mengusap perut Gadis lalu dia kecup telapak tangannya sendiri.
"Aku tidak mau ke luar kota, Kek."
"Tapi, ini sudah menjadi kewajibanmu, kau bisa menitipkan Gadis pada kami atau di rumahmu kan ada ibunya, Ndra."
Andra tetap menolak. "Kakek tidak tahu seberapa pentingnya Helen untukku, dia lebih dari oksigen yang ada ini!"
Sumpah, Gadis gatal ingin memukul mulut suaminya.
***
Apa dia kumat lagi?
Gadis terperangah melihat mobil terparkir di teras rumahnya, bahkan ada bapak dan ibu yang tengah berbincang di depan sembari menikmati camilan.
Itu, Lisa.
Andra yang tidak menyadari keberadaan Lisa, terus melajukan mobilnya, sampai Gadis menekan tangan kiri Andra agar pria itu sadar.
"Jangan khawatir, aku tidak akan selingkuh dengannya, Helen!"
"Iya, aku percaya kalau kamu tidak akan begitu tapi mana bisa aku percaya sama dia, Ndra."
__ADS_1
Andra suka mode cemburu seperti ini, ingin terus melihat Gadis cemburu padanya, rasa-rasanya kalau Gadis cemburu, semua bunga yang ada di kota ini tertinggal di rumah Andra.
Penuh, semua serba Gadis dan tak ada celah yang lain, sekalipun Lisa menari ular dan kesurupan di depannya.
"Pak, Bu..." sapa Gadis hangat, dia tetap bergandengan seperti gerbong kereta api bersama Andra.
Hal yang sama juga Andra lakukan, menyapa kedua mertuanya yang sontak berdiri dan endak menjelaskan kedatangan Lisa yang tak bisa mereka tolak.
Namun, Andra mengangguk kecil seolah memberi kode pada kedua mertuanya agar tenang, dia sudah terbiasa dengan gaya Lisa yang licik.
Licik singkatan dari Lisa liCik, mungkin begitu cocok.
"Ada apa ke sini?" tanya Andra dingin.
Lisa mengibarkan rambutnya elegan, dia pun tersenyum pada Gadis yang patuh digandeng Andra posesif.
"Hanya kebetulan saja lewat dan mampir, tidak ada kepentingan serius, Ndra ... lagipula, aku belum pernah berbincang lama dengan mertuamu, " jawab Lisa.
"Tidak penting kau berbincang dengan mertuaku, bukankah tidak ada urusan sama sekali? Kalau sudah, silahkan pergi, kalau mau membuat ulah di rumah sana saja, jangan di rumahku!"
"Ndra, tapi kan aku-"
Andra menatap tajam Lisa, sudah dia katakan tak ada masalalu, itu artinya bagi Andra semuanya yang terlewati bersama Lisa benar-benar terhapus, dia tidak mau Lisa membuka dan membahas itu lagi.
Gadis memilih diam, ini rumah Andra sepenuhnya, hanya saja mungkin nanti dia akan memberi penjelasan pada kedua orang tuanya akan sikap dingin Andra pada Lisa, masa lalu yang sangat tak layak dibahas lagi.
"Baiklah, sepertinya aku tidak bisa jadi tamu berharga di sini, aku pergi!"
Tak ada yang mencegah, wanita itu terus saja membuat cara agar bisa mendapatkan apa yang dia mau, pasti ada masalah dengan Hikam hingga datang ke sini dan sialnya bertemu orang tua Gadis, Andra tidak mau pengaruh Lisa membuat kedua mertuanya berpikiran yang tidak-tidak soal keluarga besarnya.
"Bapak dan Ibu, lain kali kalau dia mau mampir atau ketemu dia di mana saja, lebih baik hindari, Andra larang tegas khusus dia!"
"Iya, Nak."
Gadis mengikuti langkah Andra, tapi sebelum itu dia berkedip pada kedua orang tuanya agar tenang, dia akan berbicara nanti, saat ini emosi Andra sedang tak baik, bertemu Lisa membuat Andra malas bukan main meskipun nantinya Lisa akan menikah dengan Hikam, kalau jadi.
"Ndra... Bapak sama ibu mungkin kaget di bawah, boleh aku ketemu sama mereka?"
"Hem."
"Emm, kalau tidak boleh, aku tunggu nanti saja... eheheheh," ujarnya memilih aman.
"Hem."
Ham hem ham hem, apanya yang ham hem?
__ADS_1