Jodohku Sang Pewaris

Jodohku Sang Pewaris
Susu panas dan Roti Bakar


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 16:15. Terlihat Alvin yang tertidur dimeja kerjanya.


Trut trut truuut


Terdengar suara telpon rumah, dimeja kerja membangunkan dirinya.


"Hallo" Alvin menjawab sambil mencoba membuka matanya, kepalanya yang merasa pusing dipegang oleh tangan kirinya.


"Tuan maaf mengganggu."


"Hmm ya kenapa bi"


"Tadi nyonya nelpon tuan, katanya Dhen Kevin ditanyain sama mamahnya. Disuruh pulang, katanya mau ada acara makan malam diluar"


"Ya bi" Alvin kaget, dia baru ingat kalau Kevin masih dirumahnya. Dia mencari Kevin, yang ternyata lagi di menghadap ke laptopnya dengan sangat fokus.


"Vin?" Sapa Alvin.


Tidak ada jawaban


"Vin? Vin?."


Masih tidak ada jawaban


Alvin kesal, lalu menggebrak mejanya.


Spontan Kevin menjawab.


"Apasih lho. Gue udah denger lho manggil"


"Terus kenapa gak jawab?"


"Lagi sibuk. Ada PT yang mau gabung di Perusahaan gue."


"Hmmm. Bangun jam berapa lho?" tanya Alvin sambil meminum air putih dimeja nya.


"Usai makan siang tadi kita barengan kerja, lho tidur sekitar jam 2. Gue jam setengah 3. Pas gue bangun lho masih tidur, gue bangun duluan sekitar 15 menit yang lalu."


"Detail banget" Sambil mengecek laptop nya.


"Gue bukan lho"


"Emang lho bukan gue."


"Berisik lho, cuci muka sono" titah kevin yang masih menghadap ke laptopnya.


"Hmm. Lho ditanyain nyokap lho tuh. Handphone lho gak aktif"


"Sengaja. Gue gak mau ikut makan malam"


"Biasanya lho ikut gak ketinggalan"


"Gue mau dijodohin. Tapi gue gak mau, gue belum mau buka hati lagi. Fokus dulu ajalah ke Perusahaan"


"Nice."


"Ya lah"


"Gue mandi dulu lah"


"Lho malam minggu ini mau kemana?"


"Studio musik udah janjian sama si Reno."


"Bisa dong gue gabung?"


"Kapan sih lho tanpa gue" Sambil berlalu ke kamar mandi.


Kevin hanya berdecih.


Hujan dari jam 3 masih belum berhenti, bahkan sangat deras. Memuat Bi ana yang sedang rebahan dikamarnya, usai masak untuk makan malam, teringat pada Kevin dan Tuan nya tadi siang mengatakan mau kerja. Akhirnya Bi Ana berinisiatif membuatkan susu panas dan roti bakar untuk mereka. Saat Bi Ana keluar kamar, terlihat Mama nya Alvin yang sedang tertidur pulas di sofa sambil menggenggam handphone diperutnya sepertinya beberapa menit yang lalu baru tidur. Bi Ana membawakan selimut untuknya dan bergumam.


"Nyonya sangat cantik saat tidur, mirip banget sama tuan Alvin yang sangat tampan. Hanya saja tuan sikap nya tidak seperti nyonya yang sangat ramah. Tuan sama persis sperti Papah nya Tuan Ali. Benar-benar sangat dingin. Tapi Tuan Ali sangatlah sayang dan romantis banget pada nyonya."

__ADS_1


Bi Ana pun bergegas pergi ke dapur saat ingat apa yang akan dibuatnya.


Beralih ke Lantai dua


Avin yang baru saja keluar dari kamar mandi mencari Kevin yang tidak ada di sofa. Terlihat laptop yang sudah tertutup dan handphone yang sepertinya masih belum diaktifkan. Alvin mencoba membuka pintu kamar, siapa tahu kevin turun kebawah. Tapi saat dia akan membuka pintu kamarnya, pintu masih terkunci. Itu artinya, kevin masih ada didalam. Saat berbalik badan, kevin melihat ke arah gorden jendela yang terbuka. Benar saja dibalkon Kevin sedang menandahi air hujan dengan tangannya sampe air hujanya luber dan terbuang.


Kevin berbicara sendiri.


"Seandainya saya tahu dari awal kalau dia (mantan istrinya) hanya memanfaatkan keadaan. Pasti saya tidak akan menikah diusia muda. Hanya saja semua itu tidak bisa disesali ibarat hujan yang sudah jatuh, tidak mungkin kembali lagi ke awan."


Saat sedang berbicara sediri, Kevin merasa ada orang yang sedang memperhatikanya. Kevin pun berbicara lagi.


"Tapi saya sangat bersyukur, karena keadaan lagi seperti ini ada sahabat yang mau memahami disaat yang lain tidak. Ya walaupun dia seperti,"


"Apa?" Alvin yang berada disamping belakang nya spontan menyambung pembicaraan. Kevin dengan enaknya tertawa sambil mecipratkan air hujan kepada Alvin.


"Gak usah bercanda lho! Gue baru mandi"


"Lagian lho kebiasaan kalau datang gak ngomong, kalau orang lain udah kaget tuh"


"Hmm. Gue tadi nyariin lho. Kirain lho mau balik." ucap Alvin.


"Nggak lah. Puyeng aja sih gue. Di apartement gue kalau sendiri kaya kesepian banget. Kalau kerja juga malah gak fokus, papa masih di Luar Negri. Mama kaya gitu lah malah mau jodohin gue."


"Lho tahu semua orang pasti punya problem. Jadi, lho gak bisa andelin orang lain untuk punya kekuatan. Lho harus punya kekuatan sendiri. Karena kalau orang lain lho andelin, diisaat mereka tidak ada untuk lho. Mau bagaimana?"


"Lho benar sih. Gue lagi belajar untuk itu, tapi susah bro gak mudah. Ini salahsatu sifat gue dari lahir. Seperti sifat lho yang dingin itu, susah diubah kan"


"Emang gue gak niat ubah, lumayan buat narik cewek" Sambil menaikan satu alisnya.


"Tuh bisa lho bercanda" balas Kevin sambil tertawa.


Saat mereka asyik ngobrol sambil lihatin air hujan, tiba-tiba telpon berdering.


Tru trut truut


"Masuk bro!" ajak alvin


"Yuk"


"Ya bi?"


"Tuan maaf, ini bibi udah bikinin Roti bakar sama susu panas"


"Makasih bi. Bentar lagi turun."


Telpon dimatikan.


"Bro turun yuk!" ajak Alvin


"Mau berangkat?"


"Berangkat kemana?"


"Studio musik kan?"


"Hujan vin."


"Cancel dong?"


"Main catur sama gue, lho nginep disini."


"Main catur. Emang lho udah jago? Lho kalah terus sama gue" Kevin ngeledek.


"Hmm" Kevin membuka kunci pintu mereka pun turun. Bi Ana yang sudah menunggu di sofa, sangat sumeringah melihat Alvin dan Kevin yang turun dari tangga.


"Emang ya, hanya hangat dan dingin saja. Masalah tampan sangat susah dibedakan" Sambil tersenyum dan menggelengkan kepala. Saat mereka sudah sampe bawah, bi ana menyuguhkan roti dan susu panasnya.


"Tuan ? Dhen Kevin? Ayo diminum dulu, enak lagi ujan kaya gini"


"Iya bi."


"Kok cuma 2 bi?"

__ADS_1


"Maaf tuan harus bikin berapa?"


"5 lah bi. Buat bibi, mama sama Pak Andi"


"Terimakasih tuan. Bibi masih kenyang baru makan tadi. Kalau nyonya baru saja tidur, susu nya takut keburu dingin. Pak Andi waktu bjbi lagi bikin susu, dia nelpon suruh dibkinin kopi sudah bibi anterin"


"Yaudah. Mama tidur dimana?"


"Itu di sofa tuan, nyonya baru pulang tadi jam 6. Katanya mau mandi dingin, eeh malah ketiduran."


"Hmmm."


"Bersyukur tante indah tiap hari ada dirumah, kalau mama saya kadang gak pulang bi"ucap kevin sambil memakan roti


"Yang sabarya dhen. Yang penting mamanya sehat terus, pasti banyak urusan juga"


"Binis nya dimana-mana bi" ucap Alvin


"Kalu bisnis mah tante Indah juga banyak." ucap kevin.


Dreet dreeet dreet


Handphone Indah bergetar.


Mama Alvin kaget dan bangun dari tidurnya.


Pas dilihat "Sonia"


"Hallo? Jeng?"


"Iya?" jawab Indah yang masih merasa pusing.


"Anak saya kevin mana ya? Kok belum pulang juga"


"Tunggu sebentar jeng."


"Biii? Biiii??"


Saat bi ana mau nyamperin mama Indah. Tiba-tiba Alvin melarangnya dan menyuruh Kevin untuk nyamperin mamahnya.


"Gak usah bi. Duduk aja!"


"Iya tuan" Bi ana kembali duduk.


"Vin, your mother"


Kevin melirik, dan beranjak nyamperin Tante Indah.


"Mohon maaf tan. Apa itu mama?"


"Eh kevin. Iya vin mama mu nih"Sambil memberikan ponsel nya.


"Hallo ma?"


"Kevin? Kamu kenapa belum pulang?"


"Masih betah disini"


"Makan malam nya gimana?"


"Sebelumnya aku udah nolak mah. Maaf aku gak mau."


Kevin mematikan handphone nya dan memberikanya ke Tante Indah.


"Tante ini hp nya. Makasih ya tan"


"Sama-sama vin. Vin udan pada makan belum?"


"Belum tan. Lagi minum susu panas sama roti dulu."


"Oh yaudah. Tante tidur lagi deh, bilang Alvin ya!"


"Oke tan."

__ADS_1


Kevin pun kembali ke meja makan.


__ADS_2