
Waktu hampir menunjukan jam 11 malam. Orang-orang masih ramai mencari kuliner. Begitupun dengan Sarah dan Reicard, mereka melihat-lihat kuliner yang berjejer disana. Hampir semua kuliner penuh dengan pelanggan. Ada satu kuliner yang sepi pelangganya, kemudian Sarah mengajak Rei untuk makan disana. "Permisi pak, sate nya masih ada gak?" tanya Sarah. Penjual sate yang sudah paruh baya dan sedang menghadap ke gerobaknya tidak menjawab. Sarah lalu mendekat, dia pikir mungkin si bapa penjual tidak mendengarnya, lalu Sarah menepuk pundak penjual tersebut.
"Pak saya mau waaaaaw waaaaaaa waaaa" belum selesai berbicara, Sarah menjerit karena Si Penjual itu sangat terlihat pucat dan menyeramkan. Rei yang sedang menggendong Sarah kaget, saat digendong Sarah memeluk erat dari belakang.
"Heyy heyy kamu kenapa?"
Sarah yang nafasnya naik turun bercucuran keringat, ternyata dia hanya mimpi. Dia digendong Rei, karena dia ngantuk saat jalan pulang habis makan, ditambah juga kaki nya yang sangat pegal. Saat itu malam sudah sangat sepi, hampir jam 12 malam. Sarah yang baru saja bermimpi turun dari gendongan Rei. Karena pusing, dia langsung duduk dengan kaki selonjoran. Rei hanya berjongkok, sambil mengelap keringat dengan slampe nya.
"Apa kamu mimpi buruk?" tanya Rei.
"Hemm tadi kita gak jadi makan sate karena ngantri. Terus ada tukang sate yang sepi pelangganya. Aku manggil bapak penjualnya, pas nengok wajahnya menyeramkan"ucap Sarah sambil menunduk.
"Hmm. Apa sudah kuat berjalan?"
"Belum sih. Tapi akan akau paksain, ini sudah hampir dekat ke Hotel. Kalau kamu gendong aku, ntr banyak yang lihat malu"
"Hmm. Tapi kalau gak ada orang gak malu. Apa semua wanita seperti itu?"
"Ya nggak juga sih. Wanita kan beda-beda"
"Wanita beda-beda? Ya. Itu salahsatu alasan kenapa saya memilih kamu. Kamu membuat saya bahagia lewat cara yang orang lain belum tentu bisa dan kamu berbeda. Apa yang kamu punya wanita lain belum tentu punya."
"Memang nya apa yang aku punya?"
"Cantik, Wanita yang kuat."
"Yaaaahh. Kalau cantik mah yang lebih dari aku pasti ada. Apalagi kamu Dosen, pasti banyak mahasiswi yang cantik-cantik kan?"
"Iya. Tapi belum tentu mereka sekuat kamu"
"Pasti ada yang lebih kuat daripada aku"
"Tapi Saya lebih dulu menemukan kamu"
"Kita bahas apa ya? Aku jadi pusing" Menyenderkan tubuhnya ke Rei yang masih berjongkok.
"Saya juga pusing. Kamu nanya terus. Intinya saya sedang nyaman sama kamu" Pandangan Rei melihat kedepan.
"Kok sedang nyaman? Terus kedepanya gimana?"
"Apa saya cinta pertama kamu?" tanya Rei.
"Tentu saja, banyak laki-laki yang meminta agar aku jadi pacarnya. Tapi aku tolak upss. Hihi maaf. Kamu selalu mancing sih"
"Kalau begitu, kamu nyaman sama saya karena kamu dekat sama saya. Diluar sana kalau kamu dekat sama yang lain, kamu pasti nyaman juga"
"Sepertinya tidak akan" Sarah menatap Rei dengan tajam.
"Saya tunggu buktinya"
"Hmmm. Jam berpa ini? Hp ku lowbat. Terburu-buru juga tadi, jadi gak pake jam nya"
Rei melihat jam di tanganya.
"Hampir jam 12 malam"
"Apa mereka masih karaokean?"
__ADS_1
"Pasti. Bisa sampe jam 3 an"
"Waaah. Malam sekali"
"Sarah ya?" tanya Risa yang tiba-tiba datang dari belakang.
Mereka kaget dan langsung berdiri.
"Risa? Darimana?" tanya Sarah yang masih kaget.
"Baru saja aku berpisah sama dia, abis belanja hihi"
Risa melihat ke Pak Rei.
"Pak? Maafya saya jadi ganggu."
"Tidak apa-apa"
"Ris? Kunci di kamu kan?" tanya Sarah.
"Iya nih. Mau ke hotel?" tanya Risa.
"Iya yuk. Aku lelah"
"Pak Rei?"
"Duluan saja. Saya masih ada keperluan"
"Saya duluan pak" ucap Risa.
Sarah yang melihat Rei hanya menatapnya sambil tersenyum. Rei pergi belok ke arah kanan, sedangkan Sarah dan Risa lurus.
Dijalan ke Hotel
"Seromantis itu kah kamu sama pak Reicard?" tanya Risa tanpa Ekspresi.
"Ya."
"Baiknya batasi rah! Perjalanan masih panjang, jangan sampe ada yang terluka diantara kalian nanti!"
"Apa ini yang dinamankan saat jatuh cinta, dunia terasa milik berdua?"
"Pasti iya. Aku melihat kalian berdua seperti tadi, bukanya gak suka. Hanya saja aku tidak bisa membayangkan kedepanya"
"Hmm. Aku sangat nyaman denganya" ucap Sarah dengan nada haru.
"Karena kamu lagi dekat denganya"
"Tunggu. Kok kata-kata kamu persis banget kata-kata pak Rei tadi?
"Karena aku pernah dekat sama sseorang saat itu aku nyaman. Tapi, saat aku temukan orang baru aku juga nyaman sih"
"Ya ampun" Sarah menepuk jidatnya.
"Kamu kenapa?" tanya Risa dengan tatapan sayu.
"Aku tidak mau sampai menyakitinya" Menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Jangan difikirkan! Aku tahu kamu orang cerdas, sikap kamu bisa dewasa menghadapinya" Risa meyakinkan.
Tak terasa mereka sudah sampai pintu loby, mereka langsung naik ke atas dan masuk ke kamarnya. Saras dan Emeli belum pada pulang, sehingga mereka tidak mengunci pintunya. Risa yang sudah mengantuk terburu-buru ke kamar mandi habis itu dia akan langsung beristirahat. Sedangkan Sarah, langsung mencharger hp nya yang lowbat.
Sambil nunggu Risa dikamar mandi, Sarah mengambil air minum dan pergi ke Balkon. Karena waktu sudah lewat jam 12 malam, dibawah Sarah hanya melihat beberapa orang saja. Waktu yang sangat sepi, sesekali angin denga udara yang sangat dingin menghembusnya. Saat itu lamunan pun muncul pada pikiranya.
"Apa yang mereka katakan itu benar. Setelah perpisahan ini, diluar sana pasti akan banyak sesuatu yang terjadi, termasuk mengenal orang baru. Itu semua mustahil tidak akan aku hadapi. Tentang aku yang ingin berkarir, kuliah, membantu ayah ibu, dan tentang kisah cintaku sekarang. Belum lagi ujian pasti datang. Oh ya ampun" ucap Sarah dalam hatinya. Saras dan Emeli baru saja pulang, mereka membuka pintu tidak terkunci. Emeli ngetuk pintu kamar mandi.
Tuk tuk tuk
"Maaf siapa didalam?" tanya Emeli
"Risa. Tunggu lagi ganti baju nih"
"Oh ya. Sarah kemana?"
"Ada didalam kan tadi"
Emeli tidak menjawab, dia keluar mencari Sarah. Sedangkan Saras siap-siap akan mengganti baju. Emeli ke arah balkon, terlihat Sarah yang masih berdiri dan melamun sambil melihat ke arah bawah.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Emeli. Sarah yang terkejut melihatnya belum menjawab. Kemudian Emeli menghampirinya.
"Mel? Baru dateng?"
"Baru banget.
"Mel?" panggil Sarah lagi dengan mata yang berkaca-kaca.
"kamu kenapa?" tanya Emeli sambil memeluk Sarah.
"Setelah perpisahan ini mau kemana?"
"Daftar kuliah rah, ayah ku nyuruh aku ikut tes pendidikan bahasa asing"
"kamu sendiri?"
"Cari kerja dulu. Kalau udah ada uang baru aku daftar kuliah"
"Apa jadi ke Jakarta?"
"Iya mel. Hari rabu aku berangkat"
"Rah, kenapa jadi sedih seperti ini ya?ucap Emeli yang mulai meneteskan ai mata begitupun dengan Sarah. Mereka pun menangis.
"Mel? Orang tua ku hanya angkat, aku sedih sebenarnya. Aku selalu memendam kesedihan aku ini dari dulu. Setiap aku ingat orang tua ku yang sudah pergi, ingin rasanya aku pun ikut pergi. Terlebih lagi ketika aku mendengar percakapan Ayah Riki dan Ibu Rena yang merasa terbebani karena aku. Aku merasa tidak punya siapa-siapa. Apa karena mereka sudah lelah mengurusi aku dari kecil dan aku bukanlah anak kandungnya" Sarah yang berkata sambil sesegukan.
"Jangan kaya gitu. Disini ada aku, ada Saras, ada Risa! Jangan nangis rah. Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan dari dulu. Tolong!"
Tidak ada jawaban.
"Rah? Rah?" Emeli melepaskan pelukan.
"Saraaaaahhhhh. Banguuuunn" teriak Emeli.
Botol minum yang telah tumpah, membuat Emeli kesulitan untuk berdiri mengangkat Sarah karena air yang membuat licin.
"Tolooooooong!"
__ADS_1