Jodohku Sang Pewaris

Jodohku Sang Pewaris
Bunga Mawar jadi rebutan


__ADS_3

Hari sabtu dengan siang yang panas di kota Jakarta. Panasnya memantulkan silauan kepada Alvin yang sedang tertidur pulas dikamarnya. Dia terbangun dan mengedip-ngedipkan matanya. Dua menit kemudian dia meminum segelas air putih, lalu menelpon bi Ana.


Telpon rumah berdering


Trut trut trut


Bi Ana yang sedang menyiapkan sarapan, tergesa-gesa mengangatnya.


"Iya Hallo Tuan?"


"Ya hallo. Bi, tolong bikinin saya jus jeruk dan siapkan handuk ya. Anterin ke kolam renang, setengah jam lagi saya mau kesana."


"Oh iya iya baik tuan."


Telpon dimatikan.


Ketika Bi ana mau membuat jus jeruk, tiba-tiba Telpon berbunyi dari handphone nya yang disimpan disaku depan celemeknya.


Bi Ana pun langsung mengangkatnya.


"Hallo?" Suara dari sebrang menyapa duluan.


"Iya hallo, ini siapa ya?"


"Ini Sarah bu."


"Ya ampun Sarah. Gimana kabarmu sayang?"


"Aku baik bu. Ibu sendiri gimana?


"Ibu baik disini."


"Syukurlah bu. Ini aku lagi perpisahan sekolah di Laut bu. Nyempetin dulu untuk aku nelpon ibu. Sebelum aku berangkat kesini aku ngobrol dulu sama ayah dan ibu aku akan cari kerja ke Jakarta. Dan semalam ibu sempat nelpon aku, katanya aku dibolehin dulu sama majikan ibu untuk aku tinggal disana sementara. Apa itu benar bu?"


Sarah yang lagi serius nelpon, tanpa disadarinya dilihatin oleh Rei dari kejauhan, kemudian Rei mengambil foto Sarah yang lagi nelpon sambil berdiri ditepi pantai.


"Iya benar rah. Ibu udah izin sama majikan ibu. Kalau kamu kesini jangan lupa bawa saja surat kelulusan untuk kamu mencari kerja, jangan lupa dilegalisir dulu. Kan kamu belum ada ijazah."


"Ya ampun aku senang banget bu. Pertama kali nya aku akan pergi ke Jakarta."


"Iya rah. Kira-kira kapan kamu mau berangkat kesini?"


"Kayanya hari Rabu bu, besok senin pagi aku baru pulang dari perpisahan ini. Senin aku biar istirahat dulu, selasa nya baru ke sekolah sekalian ke kantor Poliso bikin skck bu, jadi rabu aku bisa berangkatnya dari sini bu."


"Terus kesini sendiri?


Mau naik apa? "


"Aku kayanya sendiri bu, mau naik bus aja. Ibu nanti kirim alamatnya ya."


Beberapa menit kemudian, suara telpon rumah berbunyi kembali. Bi Ana yang kaget langsung memutuskan telponya. Dia Buru-buru menjawab telponnya. Ternyata Alvin kembali menelponya.


"Bi, tolong jus nya bikin 2 ya. Kevin mau kesini."


"Oh iya baik tuan."


Alvin kembali mematikan telponnya. Bergegas bi ana membuat jus jeruk. Beberapa menit kemudian, suara mobil yang akan parkir tiba. Bi Ana buru-buru mengantarkan handuk dan jus jeruk ke meja dipinggir kolam renang. Setelah bi ana mengantarkannya, tidak sengaja bi ana berpapasan dengan kevin.


"Eh. Dhen Kevin. Makin tampan aja hihi. Sudah lama tidak kesini dhen"


"Iya. Saya lagi membangun kantor baru bi, mau rekrut karyawan baru juga, jadinya saya sibuk. Baru dua hari ini saya maksain buat nyantai dulu bi."


"Oh gitu, pantesan gak pernah ketemu. Ayo masuk dhen"


Mereka berjalan masuk, bi ana kembali bertanya.


"Kalau boleh tahu, dhen Kevin ini kerja nya apa?" Dengan sedikit canggung.


"Saya di Bandara bi, punya perusahaan di bidang logistik bi."

__ADS_1


"Yang ngejual barang-barang dhen? "


"Bukan bi, Cargo." Sambil tersenyum.


"Oh, yang pesawat ngambil barang ya?"


"Nah, itu bibi tahu."


"Kan tetangga bibi dikampung kerja nya di cargo, sudah punya rumah besar dhen. Kalau pulang bagiin uang ke tetangga"


"Syukurlah bi. Kalau kita punya rizki lebih, itu kan gak semua milik kita, ada hak orang lain juga bi."


"Aduh, dhen. Pantes akrab banget sama tuan alvin. Ada kesamaanya juga ternyata"


"Apa kesamaanya bi? "


"Sama-sama dermawan hihi. Eh dhen tapi perbedaanya juga ada"


"Waduh. Apa itu bi?"


"Kalau ibarat air mah. Dhen Kevin air hangat, tuan Alvin air dingin" Mereka tertawa bersama.


"Oh iya dhen satu lagi."


"kenapa bi?"


"Katanya tadi mau rekrut karyawan baru ya dhen? "


"Ya. Kenapa emang bi? "


"Anaknya tetangga bibi mau kesini cari kerja. Baru lulus SMA dhen, usianya 18 tahun. Dia anak angkatnya pa rt, pa rt sering banget bantu bibi. Kalau boleh, apa bisa dia ngelamar kerja ditempatnya dhen Kevin?."


"Emm. Masalah dia lulusan SMA atau Universitas gak masalah sih bi. Tapi, saya butuhnya yang sudah ada pengalaman bi."


"Eh. Tapi dhen, anaknya tuh cerdas banget. Diajarin sekali pasti bisa." ucap bi Ana meyakinkan.


"Emm. Yaudah kasih aja berkas lamaranya ke saya bi. Nanti saya coba interview dulu. Soalnya gak sembarangan bi, masalahnya posisi nya sebagai staf manifest bi. Kalau ada kesalahan yang fatal, Perusahaan saya bisa didenda dengan jumlah yang bukan sedikit."


"Boleh bi." Sambil tersenyum


"Ini dhen" Bi ana buru-buru mengeluarkan handphone dari celemeknya."


Kevin pun memberikan nomornya dan bi ana sangat berterimakasih kepada kevin.


Tak lama kemudian, Alvin turun dari tangga. Belum sempat duduk diruang tamu, Alvin mengajaknya langsung ke kolam renang.


"Bro? Dikolam renang."


Alvin pergi ke kolam renang, diikuti Kevin dari belakang. Dimeja kolam renang mereka duduk santay, belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.


"Minum lah vin, jangan malu-malu!." titah kevin sambil tertawa.


"Yang tuan rumah, siapa? " Dengan angkuhnya sambil tersenyum dan menaikan alisnya.


"Oh iya saya kan tamu. Minum ya pa?." Sambil meminum jus nya.


"Emm rasanya asem kaya wajah bapak hahahha" ledek Kevin.


"Baru dateng sudah bercanda" Sambil mengerucutkan alis dan matanya.


"Eheheee. Lagi lho kapan ya mau kaya gue?." Wajah lho gak usah datar terus, masam terus, biar cepat laku lho haha."


Alvin hanya berdecih.


"Gue besok mau ke Kalimantan,"


"Ngapain lho? sendiri?"


"Ya sendiri lah. Ada Investor mau lihat pertambangan yang disana"

__ADS_1


"waduh, lho mulai sibuk nih?"


" Gue seminggu doang di Kalimantan."


"Terus ke-4 Rumah Sakit lho gak kepegang dong? "


"Itu atas nama nyokap gue."


"Kapan disrahkan nya ke lho?."


"Katanya sih pas nyokap ulang tahun"


"Oh gtu. Bagus deh."


"Ya. Semua bisa gue pegang sih, asal posisi nya rapih aja."


"Ya. Gue aja megang Cargo udah berat. Apalagi lho pertambangan dan rumah sakit."


"Nikmatin aja lah." Sambil meminum jus jeruk nya.


"Lho harus buru-buru punya bini."


"Dieum lho. Belum kefikiran gue."


Alvin menceburkan diri ke kolam renang. Sedangkan kevin hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Lalu dia melepas pakaianya dan ikut menceburkan diri. Sebelumnya Kevin memetik bunga mawar, lalu menyimpanya diujung kolam renang. Lalu mendekatkan diri ke ujung sebrang kolam renang menunggu Alvin yang sedang menyelam. Saat Alvin selesai menyelam, kevin sudah berdiri diatas kolam.


"Naik lho!


"Ngapain lho? Males lah baru nyebur."


"Naik gue bilang" titah Kevin.


Alvin naik, Kevin nyebur.


"Iss. Ngeselin nih orang" ucap Alvin


"Tunggu! Diam dulu"


Kevin naik kembali.


"Lho lihat! Diujung sana ada bunga mawar. Kita lomba ambil. Kalau yang kalah harus nurutin kemauan yang menang selama sebulan. Gimana? Gue juga udah basah nih. Adil kan?" Sambil menaikan alis nya dan tersenyum.


"Siapa takut. Tapi, satu permintaan untuk sebulan ya. Deal?" Sambil minta salaman.


"Deal" Menerima Salaman Alvin. Oke langsung aja kita mulai 1... 2... 3....


Mereka berenang layaknya orang sedang berlomba merebutkan mendali.


Beberapa menit kemudia, mereka sudah berada diujung kolam. Saat Alvin akan mengambil bunga mawar, yang diambil ternyata tangan kevin. Alvin langsung memukulnya. Itu artinya kevin menang.


Kevin tak berhenti tertawa.


"Abis lho pulang dari Kalimantan,hubungin gue ya, hahhaa."


Lagi-lagi Kevin berdecih, dan bergumam


"Baru kali ini gue kalah, apa karena belum sarapan ya?"


Alvin pun menelpon mama nya. Mama nya yang sedang berhias untuk pergi belanja, tiba-tiba kaget. Karena Handphone nya disimpan dimeja rias dekat dirinya.


Dret Dret Dret


"Iya sayang"


"Mama dimana?"


"Mah? Suruh Bi Ana masakin Soto ya. Alvin sama Kevin mau makan."


"Ya. nanti mama bilang."

__ADS_1


"Makasih mah."


Alvin mematikan telponnya.


__ADS_2