
Hari minggu di Jakarta
Terlihat Alex dan Amanda yang masih dikamarnya. Mereka masih siap-siap untuk joging.
"Mah, Rei kemana?" tanya Alex.
"Dia belum pulang. Nginep dirumah temanya kali. Tumben kamu nanyain dia?" tanya Amanda yang sedang mengikat rambutnya depan kaca.
"Papa mau ngajakin dia ke makam teman papa." ucap Alex.
"Loh? Siapa yang meninggal pah?" tanya Amanda.
"Mama ingat kan Ali Wijaya? Direksi Pertambangan mah." ucap Alex.
"Kalau gak salah. Yang istrinya punya RS itu kan pah? Kita waktu itu diundang pas pembukaan gedung barunya." ucap Amanda.
"Ya. Itu sahabat papa mah. Sering olahraga bareng sama dia. Tapi, semenjak papa ngajar di Jerman. Udah gak bertemu lagi mah." ucap Alex yang nada bicaranya sedikit menurun.
"Loh? Papa kenapa? Kok kaya sedih gitu." tanya Amanda.
"Awal bulan kemarin dia meninggal mah. Kena serangan Jantung." ucap Alex sambil menatap ke arah luar jendela.
"Hah? Papa serius pah? Terus gimana sama istri dan anaknya? Papa tahu darimana dia meninggal pah?" tanya Amanda serius dan menghampiri Alex.
"Semalam teman papa yang bilang mah. Papa kan nanyain dia. Tumben dia gak datang. Biasanya gak pernah ketinggalan. Yaudah dijelasinlah sama teman papa kalau dia sudah pergi. Papa shok mah. Papa belum cerita juga sama mama. Kalau dia sahabat papa yang paling ngerti keadaan papa. Papa sering banget curhat sama dia. Kalau papa lagi ada problem sama mama. Dan satu lagi mah. Dia yang ngajarin papa bagaimana cara mendidik anak laki-laki satu-satunya." ucap Alex menarik napas panjang.
"Kenapa papa baru bilang? Mama ikut sedih mendengarnya. Apa dia punya anak laki-laki pah?" tanya Amanda.
"Tentu. Dia seusia sama Rei. Papa pernah lihat foto anaknya. Tampan banget. Sayangnya, kalau papa mendidik Rei dengan perantara Hendra. Dia mendidik anaknya secara langsung. Makanya anaknya lebih dekat sama dia dibanding sama istrinya." ucap Alex.
"Kalau Rei lebih dekat sama aku kan pah?" tanya Amanda sedikit menggoda. Dan mencubit sedikt pinggang Alex.
"Itu pun karena nenenya sudah pergi. Kalau belum, mana ada Rei jutek mau dekat-dekat kamu." ucap Alex sambil berlalu. Tidak mau kalah berucap.
Amanda hanya berkaca pinggang dan menyunggingkan bibirnya melihat Alex yang sudah berlalu keluar kamar.
Dirumah Alvin.
Alvin yang baru saja turun dari kamarnya. Menghampiri Indah yang sedang duduk disofa dan menatap layar hpnya.
"Mah? Abis joging apa mama mau ikut Aku ke makam papah?" tanya Alvin sebari duduk.
Indah yang mendengarnya sedikit kaget dan sempat tidak mengedipkan matanya.
"Mah?" panggil Alvin.
"Vin? Bukanya mama gak mau ikut. Untuk kali ini mama cuma bisa mendo'akanya vin. Kalau mama ikut. Pasti kenangan mama sama papa teringat kembali. Mama pasti drop lagi vin." ucap Indah sambil melihat kayar hpnya.
"Yaudah Aku sendiri aja mah. Andreas gak bisa ikut. Hari ini jadwalnya ke Gereja dia." ucap Alvin.
"Jangan! Kenapa sendiri? Ajak Sarah aja! Papah kan calon mertuanya." ucap Indah menatap Alvin.
__ADS_1
"Bicara apa sih mah?" ucap Alvin kesal.
"Vin. Ayolah! Mama mau cepat-cepat punya cucu. Sarah cantik kan? Baik lagi. Masa iya kamu gak tergoda melihatnya?." goda Indah sambil menaikan alisnya.
Alvi tidak menjawabnya dan berlalu ke dapur untuk mengambil air di kulkas.
Didapur terlihat Sarah yang baru saja keluar dari pintu kolam renang. Sedangkan bi Ana masih menyuci pakaian ditempat lain.
"Pak Alvin? Ada yang bisa dibantu?" tanya Sarah yang sambil mengelap keringatnya.
"Saya hanya mengambil air putih." ucap Alvin.
"Oh iya pak. Pak, itu kolam nya udah saya bersihin kalau nanti mau berenang." ucap Sarah.
"Terimakasih. Tapi hari ini saya mau pergi ke makam papah." ucap Alvin jutek.
"Makamnya jauh ya pak?" tanya Sarah.
"Apa mau ikut?" tanya Alvin.
"Boleh pak, kalau berangkatnya jam 10an mah. Kalau sekarang saya mau siram tanaman dulu. Mandi juga belum pak." ucap Sarah tersipu malu.
"Ya. Sekalian ajak bibi. Biar kita gak berdua." titah Alvin.
"Siiiap pak. Yaudah saya mau siram tanaman dulu." ucap Sarah.
"Kamu gak ngajak saya?" tanya Alvin menaikan alisnya.
Sarah yang mendengarnya terkejut dan tersenyum manis.
Alvin mendekatinya. Lalu menaruh gelas dimeja. Kemudian menatap Sarah tanpa senyuman. Sarah yang ditatapnya dek-dekan.
"Pak?" panggil Sarah.
Alvin hanya berbisik.
"Sayangnya saya tidak mau." ucap Alvin dan berlalu meninggalkan Sarah.
"Huh. Dasar Reicard ke-2. Bikin merinding." batin Sarah sambil berlalu ke Taman.
Saat Alvin akan naik ke atas. Tiba-tiba Indah bertepuk tangan sambil tersenyum.
"Kenapa mah?" tanya Alvin.
"Memangnya kamu pikir. Mama tidak memperhatikan kamu saat didapur tadi?" ucap Indah menggoda Alvin.
"Apasih mah?" Alvin kesal.
"Kirain, tadi kamu akan menciumnya. Padahal mama udah senang loh." ucap Indah.
"Hem. Mustahil mah. Kalau ada papa, Alvin bisa disiksa dan dikurung gara-gara itu." ucap Alvin dan berlalu naik ke kamarnya.
__ADS_1
"Iya juga sih. Papa agamanya memang kuat. Maafin aku belum pakai hijab pah. Aku memang nakal." ucap Indah.
Waktu menunjukan pukul 09:30 wib.
Truut truut truut
Alex menelpon Reicard
Trut trut trut
Telpon tidak diangkat
"Anak ini. Kemana dia? Jam segini belum bangun." ucap Alex kesal.
Dreet dreet dreet
Panggilan masuk dari Reicard
"Hallo? Maaf pah. Lagi pakai baju tadi." ucap Rei yang baru selesai memasangkan dasi.
"Dimana kamu?" tanya Alex.
"Di Hotel pah. Ini mau mau ke Gereja" ucap Rei.
"Nanti sore aja ke Gerjanya. Papa mau ngajakin kamu ke makam sahabat papa. Kita janjian ya. Nanti papa kasih alamatnya." ucap Alex.
"Iya pah." ucap Rei.
"Udah ya. Jangan ngebut bawa mobilnya!" ucap Alex dan mematikan telponnya.
Reicard pun buru-buru menyisir rambut dan memakai jam tangan. Lalu pergi mengambil jas dan kunci mobilnya.
---
Dikamar, sarah terlihat sudah memakai gamis hitam polos. Lalu mengoleskan sedikit lipblam ke bibirnya. Tidak lupa dia juga memakai sedikit bedak. Setelah itu, dia membawa krudung pashmina panjang berwarna hitam.
Saat dia membuka pintu. Dia juga berpapasan dengan Alvin yang baru saja menutup pintu. Mereka sama-sama saling terkejut.
"Ya ampun. Kemeja hitam? Jam tangan? Gesper H? Ya Allah, tambah ganteng aja orang ini." batin Sarah yang melihat penamlilan Alvin dari atas ke bawah.
"Kenapa?" tanya Alvin.
Sarah hanya memalingkan pandangan.
"Nggak. Ayo pak!" ajak Sarah untuk turun kebawah.
"Tunggu! Apa yang sedang kamu pegang." tanya Alvin.
"Ini hp, kacamata, sama krudung pashmina untuk menutupi kepala." ucap Sarah.
Alvin tidak menjawabnya.
__ADS_1
"Ikuti saya!" ajak Alvin.
Dilantai bawah, Alvin bergegas ke kamar Indah yang tidak dikunci. Lalu dia ke meja rias untuk mencari jarum.