
Hari Minggu di waktu subuh
Terlihat Alvin yang baru bangun tidur, dia masih mengenakan kemeja dan celana yang masih rapat dengan gespernya. Dia hampir kesiangan untuk melaksanakan sholat subuh. Karena waktu sudah menunjukan jam 5 kurang 15 menit. Tidak biasanya, itu karena dia dari Bandara jam 2 pagi, usai terbang dari Kalimantan. Sampai rumahnya sekitar jam 3 kurang.
Walaupun dia masih merasa pusing, tapi dia memaksakan untuk bangun karena kewajiban yang satu ini tidak boleh dilewatkan. Dia menyender ditepi kasur, dan meminum segelas air putih. Setelah itu dia mandi dan melaksanakan kewajibanya. Kurang lebih dia menghabiskan waktu sekitar 20 menit. Kebiasaan dia setelah subuh ialah tidak tidur kembali sampai terbitnya fajar. Dengan pakaian koko berwarna biru muda, jam tangan yang biasa dipakainya, dan rambut yang masih basah. Dia keluar kamar dengan niat akan turun dan mengambil makanan dimeja makan. Karena saat dia pulang, tidak keburu makan dan langsung tidur. Saat dia membuka pintu kamar, persis disebrang kamarnya pintu kamar terbuka. Dia ingat kalau itu kamar Sarah. Namun disana, tidak ada suara Sarah sedikitpun dan sangat hening. Ntah kenapa, rasa ingin tahu dan melihat Sarah tiba-tiba menggebu-gebu. Namun, karena masuk ke dalam kamar orang lain tanpa izin baginya adalah hal yang sangat mustahil. Dia pun berinisiatif untuk pura-pura akan pergi ke Balkon luar kamarnya. Saat dia lewat, masih tidak ada suara. Pasti dikamar itu tidak ada orang. Tapi karena sudah tanggung berjalan ke arah Balkon, diapun meneruskanya. Dan apa yang dia lihat sangat membuat jantungnya berdebar-debar.
Terlihat Sarah yang sedang menikmati angin diwaktu subuh. Karena angin itu sangat menyejukan dan menyegarkan badan. Angin itu menghempaskan rambutnya. Dan mengibarakan rok dari baju daster biru muda yang dipakainya.
"Rei? Aku rindu kamu. Jum'at dan sabtu kita tidak bertemu. Padahal kamu sudah bilang disana hanya sehari saja. Aku tahu kita sering chat, vc juga. Tapi perasaanya sangatlah berbeda. Kamu yang selalu membuat hari-hari ku berwarna akhir-akhir ini. Rei? Gimana hubungan kita kedepanya? Apa kamu akan menikah denganku? Sebulan lagi aku ulang tahun yang ke 19 Rei. Apa aku terlalu muda untuk menikah denganmu? Tapi itu semua tidak mungkin. Sekarang aku hanya menikmati kenyamanan aku saat bersama kamu. Aku selalu sedih saat mengingat kita yang berbeda keyakinan Rei" ucap Sarah dalam hatinya.
Alvin yang hanya memperhatikanya dan menatapnya dari belakang. Memberanikan diri untuk menghampirinya.
"Hem. Saya gak tahu nih jantung kenapa. Lagi-lagi seperti ini. Tapi saya harus gentle. " ucap Alvin dalam hatinya sambil melangkahkan kaki. Dia berdiri disamping Sarah dengan posisi tangan diatas pagar. Sarah yang menyadari kedatangan Alvin hanya kaget, karena Alvin tidak berbicara sedikitpun. Namun, karena Sarah penasaran dengan kedatanganya. Diapun memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
"Maaf pak. Apa ada yang harus dibantu?" tanya Sarah sambil melirik ke arah Alvin.
"Tidak ada." jawab Alvin singkat.
"Terus kenapa kesini pak?" tanya Sarah.
"Kan biasanya saya disini. Kadang dibalkon kamar juga." ucap Alvin jutek.
"Hem. Anginnya enak ya pak, kalau jam segini. Saya jadi ingat suasana dikampung. Sedih jadinya hem." ucap Sarah.
"Sayangnya saya belum pernah ke kampung." ucap Alvin.
"Memangnya bapa asli mana?" tanya Sarah.
"Kalau udah kenal sama mama. Dia pasti banyak cerita." ucap Alvin.
"Tapi mama nya Pak Alvin mirip orang Turki hihi." ucap Sarah.
"Hem. Lupakan! Apa kamu bisa masak?" tanya Alvin.
"Insya Allah bisa. Saya kan udah ditinggal lama sama orang tua. Apa-apa harus mandiri termasuk masak juga pak." jawab Sarah.
"Eh. Hehe maaf ya pak. Kadang mulut saya lemes." Sambil menunduk dan menepuk jidatnya.
Alvin tidak menjawabnya.
"Umurnya masih 18, mendengar ceritanya dia mandiri, tapi dewasa gak yah. Eh kok pikiran gue kesana lagi aja. Kacau-kacau." ucap Alvin dalam hatinya.
__ADS_1
"Ayo turun. Masakin saya nasi goreng yah! Saya lapar banget." Sambil berjalan diikuti Sarah.
"Pak, nasi goreng apa? Mau nasi goreng pete, ayam, telor bakso, atau yang mana." tanya Sarah.
"Yang mana aja. Saya gak ribet kok." ucap Alvin.
"Tunggu pak." (Sarah menutup pintu kamarnya)
"Yaudah. Saya masakin nasigoreng gak pake bumbu yah hihi." ucap Sarah.
"Gak usah bercanda. Saya bukan Kevin." ucap Alvin.
"Hem maaf pak." ucap Sarah.
"Waduh. Kenapa ya? persis banget kaya Rei sikapnya dingin. Tapi kenapa ya, disaat Rei tidak disini aku malah merasa terobati? Oh ya ampun apa ini." ucap Sarah dalam hatinya.
"Kalau jalan jangan ngelamun nanti jatoh. Saya tunggu di Sofa." ucap Alvin.
"Oh iya pak. Maafya!" ucap Sarah sambil berlalu ke dapur. Alvin tidak menjawab, dia hanya menyalakan tv dan nonton berita.
Ceklek
Suara pintu kamar bi Ana terbuka. Dia sepertinya baru saja melaksanakan sholat. Lalu keluar dengan penampilanya yang selalu memakai celemek. Dari kamarnya dia langsung beranjak ke dapur. Untungnya sebelum dia tidur, dia selalu menyapu dan mengepel rumah terlebih dahulu. Dan enaknya sekarang ada Sarah, kerjaan rumah yang sangat banyak dan melelahkan menjadi ringan.
"Eh. Neng Sarah. Lagi ngapain?" tanya bi Ana sambil tersenyum dan menghampiri Sarah.
"Ini bu. Aku mau bikin nasi goreng buat Pak Alvin." ucap Sarah.
"Loh? Tuan emangnya udah turun neng?" tanya bi Ana. Dalam hatinya dia merasa bahagia, dan tidak menyangka kalau Alvin akan cepat seakrab itu sama Sarah. Karena sama seorang wanita dia sangat-sangat jutek.
"Udah bu. Lagi nonton kayanya bu." jawab Sarah.
"Oh yaudah. Neng, jangan panggil ibu. Kan saya bukan bu Rena hihi. Panggil bibi aja, biar lebih enak dengarnya gak kaku lagi hehe. Lagi kita tetanggan Atau panggil nenek juga ga apa-apa hehe." ucap bi Ama sambil mengelus pundak Sarah.
"Oh iya bi hihi. Waduh kalau dipanggil nene mah bibi masih jauh banget." ucap Sarah.
"Hehe. Yaudah ditinggal dulu ya. Mau nyuci nih. Oh iya neng nanti, minta tolong bersihin meja kolam renang ya. Sama daun-daunya yang diair. Biasanya tuan sama dhen Kevin, kalau hari minggu pada berenang. Bibi cucianya banyak soalnya. Takut gak keburu." titah bi Ana.
"Oh siap-siap bi. Nanti aku bersihin." ucap Sarah.
"Yaudah. Makasih ya neng." ucap Bi Ana sambil berlalu ke kamar mandi.
__ADS_1
10 menit kemudian.
Wangi dari harumnya nasi goreng, membuat Alvin yang sempat ketiduran depan tv sambil duduk terbangun. Lalu dia mematikan tv nya dan pindah ke meja makan. Disana ada Sarah yang lagi menyiapkan makanan.
"Pak, ini udah jadi. Ada teh hangat tawar juga pak." ucap Sarah.
"Masak nya bikin banyak gak?" tanya Alvin.
"Iya pak. Sekalian buat tante, bibi sama Pak Andi juga." ucap Sarah.
"Yaudah. Kita makan bareng!" ajak Alvin sambil meminum teh tawarnya dan sudah siap dengan piringnya.
_Jleb. Hati Sarah seakan mendapatkan voucer belanja geratis ongkir saat belanjaanya banyak. Atau lebih dari itu deh hehe._
"Tapi pak saya gak enak." ucap Sarah sambil menunduk.
"Yasudah. Saya gak jadi makan." Alvin berdiri dari duduknya.
"Oh yaudah yaudah. Bareng ya pak." Sarah buru-buru menyendokan nasi goreng ke piring Alvin. Alvin kembali duduk. Sarah yang duduk disebrangnya, menyendokan nasi untuk dirinya. Saat mereka akan makan. Alvin hanya melirik Sarah terus bergantian melirik nasi yang ada dipiring Sarah.
"Kenapa pak?" tanya Sarah.
"Saya gak suka makan berhadapan seperti ini. Kamu duduk nya disini aja. Tapi kasih jarak ya." titah Alvin sambil mempersiapkan kursi disebelahnya.
_Tidak biasanya Alvin seperti itu. Mungkin dia sendiri gerogi. Uh padahal Sarah lebih gerogi_
Sarah pun duduk disebelahnya.
"Ya ampun, sikap dia seperti ini. Kenapa bikin aku dek-dekan ya? Apa karena aku sudah terbiasa sama Rei yang usianya 9 tahun diatas aku. Jadi aku gak merasa kalau umur dia ada diatas aku. Uh lagi-lagi perasaan ini kembali. Apa ini yang dinamakan baper kata orang-orang. Oh ya ampun. Rei, tolong aku." batin Sarah sambil memakan nasi dan sesekali melirik Alvin yang makan nya sangat lahap.
"Setelah makan ini. Akan saya uji perasaan saya yang gak jelas ini. Sekalian uji nih cewek, kira-kira baper gak ya sama saya?" batin Alvin.
Setelah selesai makan Alvin langsung minum sambil melirik ke makanann Sarah yang tinggal beberpa sendok lagi, lalu menatapnya. Sarah tidak sadar apa yang sedang dilakukan Alvin. Karena dia makan sambil ngelamunin Reicard yang belum bertemu denganya.
"Kenapa saya sampai ngelihatin dia seperti ini? Apa saya penasaran denganya? Ada rasa bahagia sih ngelihatnya." batin Alvin.
Sarah yang sudah selesai makannya. Akan mengambil minum yang ada disebrang meja. Karena tadi buru-buru minumnya lupa dipindahin. Namun, Alvin yang melihatnya langsung melarangnya. Dia membawakan minum Sarah dan memberikanya. Sarah yang kaget, tidak langsung menerimanya. Tapi malah menatap Alvin.
"Ya ampun kenapa ini? Kenapa jantung saya berdetak kencang? Oh ya ampun. Hilangkanlah ke GR an ini. Buanglah jauh-jauh." batin Sarah.
"Udah saya bilang. Jangan tatap saya seperti itu. Saya gak suka." ucapan Alvin membuyarkan lamunanya. Dan Sarah menerima air minumnya.
__ADS_1
"Kalau kita makan barenga kaya ini. Mau berdua apa banyakan. Jangan pernah mengambil makanan atau minuman yang jauh dari kita. Pernah dengar kan?" tanya Alvin sambil menyender dikursi.
Sarah hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Mereka pun beranjak pergi. Sarah ke dapur untuk mencuci piring. Sedangkan Alvin kembali ke Sofa.