Jodohku Sang Pewaris

Jodohku Sang Pewaris
Richard Kesal


__ADS_3

Hari minggu yang cerah dengan hangatnya sinar matahari. Menyebabkan Kevin yang masih tidur di kamar Alvin semakain terlelap. Wajahnya yang tampan, bibir nya yang merah muda, benar-benar membuktikan perkataan Bi Ana dan Indah, bahwa dirinya bagaikan adik kakak dengan Alvin. Hanya saja Alvin yang cool menyebabkan dirinya terlihat berbeda dan disegani. Sedangkan Kevin yang ramah mudah disukai banyak orang.


Trut Truuut Ttruut


Suara Telpon rumah berbunyi dimeja Alvin, malah membangunkanya.Matanya yang masih sepet, dengan kepalanya yang masih pusing menyebabkan badanya terasa berat.


Truut Truuut Truuut


Suara telpon masih berbunyi.


"Duh lagi enak-enak tidur huuhh. Siapa sih?" ucap Kevin dan memaksakan diri untuk mengangkat telpon yang berada 3 meter dari kasurnya. Dia berjalan sempoyongan. Lalu menjawab telponya.


"Ya hallo?" sapa Kevin.


Tidak ada jawaban


"Hallo?" sapa kevin kedua kali, sambil melihat telponnya.


"Apa semalam gak pasang alarm?" tanya Alvin kesal.


Di RS Alvin baru saja cuci muka, dengan gaya rambut yang diarahkan kebelakang membuat wajah tampanya semakin bersinar.


"Jadi lho yang ganggu tidur gue?"


"Bangun! Hari minggu bukan waktu untuk santay, kalau lho banyak kerjaan."


"Hmmm. Kapan balik?"


"Jam 10."


"Tante gimana?"


"Belum bisa pulang."


"Gue kerja dulu. Nanti kalu lho udah mau berangkat ke Bandara, gue ke RS"


"kabarin nyokap lho!"


"Dia gak peduli sama gue"


"Bilang nyokap gue di RS" titah Alvin.


"Oh. Oke oke "


Telpon dimatikan.


Kevin duduk dikursi Alvin sambil menunduk, menghilangkan rasa pusing dikepalanya sambil minum segelas air putih.


Setelah itu, dia kembali menelpon. Kali ini dia nelpon Bi Ana.


Truut Truut Truut


Telpon berdering.


Bi Ana yang lagi bikin sarapan untuk Kevin, buru-buru mengangkatnya.


"Iya dhen?"


"Selamat pagi bi!"


"Iya dhen. Selamat pagi. Tumben udah bangun dhen?"


"Hmm Dibangunin Alvin bi, saya lagi banyak kerjaan"


"Oh gitu"


"Iya bi. Bi, tolong bikinin saya susu madu hangat ya!"


"Oh iya dhen, ini sekalian bibi bikinin roti nya ya"


"Terimakasih bi! Bentar lagi saya turun"

__ADS_1


"Iya dhen."


Telpon dimatikan.


Kevin langsung ke arah sofa untuk mengecek laptopnya. Sambil dia menunggu laptopnya hidup, dia mengecek handphone nya.


Dia iseng-iseng lihat status wa. Dan terlihat status dari "My Mother".


Dia mengupload suasana makan malam dengan seorang gadis yang akan dijodohkan denganya. Bukan penasaran, tapi membuat dirinya malah berdecih.


"Gak ada bosannya" ucap Kevin yang sangat kesal. Namun, dia ingat amanah sahabatnya Alvin. Kalau dia harus memberitahukan kabar ke mama nya. Tidak ditelpon, karena Kevin tahu kalau jam segini mama nya sibuk bersiap-siap ketemu klien nya.


"Mama. Kevin minta maaf ya. Ma, tante Indah lagi dirawat di RS. Tolong nanti mama kesana. Sempetin ya ma! Alamat RSnya nanti kevin sharlok. Terimakasih ma."


Walaupun kevin selalu kesal sama mama nya, tapi kasih sayang kepada mama dan papa nya tidak pernah berkurang.


Di apartemen Alvin


Andreas, ya dialah asistan dari Alvin. Umurnya yang hanya terpaut 1 tahun denganya membuat dia merasa Alvin adalah sahabatnya. Ali Wijaya, papa nya Alvin yang memilih dia dan percaya kepadanya untuk selalu menemani Anak tunggalnya. Tadinya Andreas adalah seorang karyawan biasa, yang diposisikan setara dengan Alvin. Tapi, karena giatnya dan prestasinya dia dalam bekerja membuat papa nya Alvin percaya kepadanya. Parasnya hampir sama dengan Alvin tetapi dia berkacamata. Sedangkan Alvin hanya sesekali saja memakai kacamata nya.


Dirumah Sakit


Alvin yang baru selesai minum teh, langsung masuk ke dalam. Dia bentar lagi dijemput Andreas.


"Mah?" Alvin membangunkan Mamanya yang tertidur dengan mengelus lembut pipi mamanya.


"Sayang?" ucap mamanya sambil memegang tangan Alvin yang tadi mengelusnya.


"Maaf dibangunin mah"


"Gak apa-apa vin. Kamu kenapa? "


"Nggak mah. Bentar lagi Andreas jemput Alvin mah"


"Iya sayang"


"Kak Aira udah dijalan dari tadi mau nemanin mama dulu sebelum Kevin datang"


"sabtu atau minggu mah."


"Besok senin selesai jam makan siang mau ada meeting mah."


"Dimana?"


"Tadinya sih mau ketemuan ditempat pertambangan sekalian surpey. Tapi cuaca lagi gak bagus mah, takutnya tiba-tiba hujan kan repot. Jadi, meeting nya dikantor aja."


"Kamu meeting sama siapa vin? "


"Para Investor mah, rekan bisnis nya papa juga hadir mah"


"Terus kamu ditemanin siapa? "


"Ya Andreas sama Pak Cipta mah, Direksi kedua."


"Oh yaudah."


"Ma. Sehat-sehat ya, bahagia terus pokoknya ma. Aku bentar doang kok ma."


"Iya Sayang."


Dreet Dreet Dreet


"Tunggu ya ma. Andreas telpon."


"Hemm." Mama nya hanya mengangguk.


"Hallo tuan. Maaf tuan ini saya udah dibawah" ucap Andreas.


"Saya di lantai 2, kamar Mawar nomor 11 ya! "


"Iya tuan"

__ADS_1


"Kamu sudah ambil berkas nya? "


"Sudah tuan. Mampir sebentar tadi ke kantor"


"Dikantor ada siapa?"


"Yang masuk jadwal hari minggu doang tuan"


"Gak ada yang absen kan? "


"Gak ada tuan"


"kamu naik cepet! "


"Iya tuan"


Beralih ke Sarah yang berlari mengejar Rei. Karena arah ke kamarnya banyak orang. Rei pergi ke taman.


"Rei tunggu!"


"Siapa dia? " tanya Rei yang menghentikan langkahnya


"Tadi bu Ana nelpon. Jujur aku gak tahu itu siapa. Apa mungkin anak majikanya Bu Ana"


"Terus kamu udah kenal? "


"Belum. Bu Ana ngasih tahu doang. Kamu gak marah kan?" Sambil menghampiri Rei


"Bu Ana siapa?"


"Tetanggaku yang kerja di Jakarta"


"Saya tadi nelpon kamu 2 kali, tapi kamu sibuk terus"


"Apa daring nya sudah selesai? " tanya Sarah


"Sudah" Rei Jutek.


"Kenapa belum ganti baju? " Sarah menatap Rei.


"Buru-buru."


"Terus kenapa dasi nya berantakan?" Sambil membenarkan dasi nya Rei.


"Jangan dibetulkan! Buka saja sekalian kancing yang paling atas!" titah Rei yang masih jutek.


"Apa sudah biasa seperti ini?" Sarah basa-basi karena merasa jantungnya kembali berdebar apalgi minyak wangi Rei yang bikin mabuk saking wanginya


"Ya. Kalau selesai ngajar" Rei mendekat ke arah Sarah hampir melekat.


"Kalau habis selesai ngajar jangan ditarik kaya gini dasinya. Berantakan tahu." ucap Sarah yang semakin berdebar.


"Sudah biasa. Saya gerah" Sambil memegang kedua pundak Sarah.


"Kamu ngapain sih kya gini?"


Harumnya sampo dari rambut Sarah dan minyak wangi nya yang khas membuat Rei semakin mendekatkan tubuhnya ke Sarah. Tapi dia sangat menghargai Wanita. Dia mendekatkan bibirnya ke kuping kanan Sarah dan berbisik.


"Kamu mau berpaling dari saya?"


"Apasih nggak ih" Sarah memukul kecil Rei dan menjauh.


"Yakin?" Rei menarik tubuh Sarah, tangan kanan nya berada dibelakang tubuh Sarah. Lalu Rei menatap mata Sarah dengan bulu matanya yang sangat lentik, rambut panjang yang masih belum kering, hanya dipakaikan jepit dekat poni yang diarahkan ke kanan membuat dirinya seperti putri dan pangeran.


Saat Rei menatap Sarah tanpa bicara sedikitpun. Matanya yang sangat Indah Tiba-tiba memerah, bukan karena ingin menangis. Tapi karena menahan kesal dan amarah. Sarah yang melihatnya langsung menutup kedua mata Rei dan memeluknya. Rei tidak memeluk balik Sarah, dia tidak mengatakan apapun. Ntah apa yang sedang difikirkan nya.


"Maafin aku sayang, aku tadi benar-benar tidak sengaja" Sarah memeluknya semakin erat.


"Secepat itu kah? Kamu akan berpaling." Lagi-lagi Rei menanyakan hal itu.


"Kamu bicara apa? Gak lucu ih." Sarah melepaskan pelukanya dan kembali menatap Rei.

__ADS_1


"Jangan kaya gini. Ayo kamu ganti baju. Aku mau beresin barang-barang dulu" ajak Sarah sambil tersenyum.


__ADS_2