
Waktu sudah menujukan pukul 22:15 acara tersebut sudah selesai. Alvin, Kevin, dan Andreas masih mengobrol dengan teman-temanya yang juga hadir ke acara tersebut. Sedangkan Sarah. Dia masih mengobrol dengan Radika dan teman-temanya. Alvin yang sesekali melirik Sarah. Hatinya semakin tidak tenang. Kevin melihat prilaku sahabatnya itu. Lalu dia pura-pura mengajak Andreas berbicara berdua. Dan meninggalkan teman-temanya yang masih mengobrol dimeja. Alvin yang saat itu merasa ada kesempatan untuk menemui Sarah pun. Buru-buru langsung menghampirinya.
Saat Alvin menghampiri meja Sarah. Tiga orang temanya. Salahsatunya yaitu Radika. Karena tahu kehadiran Alvin mereka pun pergi. Radika meminta izin ke Sarah. Untuk mengantarkan pacarnya.
"Pak Alvin?" sapa Sarah dan berdiri.
"Enak berpakaian seperti itu lalu dilihatin orang?" tanya Alvin kesal.
"Tentu saja tidak enak. Tapi gak punya lagi dres seperti ini. Ini juga dipinjemin." ucap Sarah.
"Besok-besok pergi belanja sama Mama." ucap Alvin dan membuka jas nya. Lalu dikasih ke Sarah untuk dipakainya.
"Terimakasih!" ucap Sarah.
"Ayo pulang! Ini udah malam" ajak Alvin.
"Tunggu!" ucap Sarah. Lalu Alvin memberhentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Alvin dan berbalik badan melihat ke arah Sarah.
"Dimana Ricard?" tanya Sarah yang penuh tanda tanya.
Alvin tidak menjawabnya. Namun langsung menghampiri Sarah.
"Bukanya sudah putus ya?" tanya Alvin kencang dan kesal. Kevin dan Andreas yang saat itu sedang mengambil minuman tiba-tiba kaget dengan suara Alvin yang keras. Mereka pun mendekat.
"Kenapa?" Sarah menunduk.
"Apa sikap saya selama ini belum cukup menyadarkan kamu?" tanya Alvin dengan amarah didada nya yang semakin membara.
"Kenapa? Kenapa marah? pak Alvin?" tanya Sarah yang sempat menatap Alvin dsn kembali menunduk.
Alvin memegang bahu Sarah yang sudah memakai jasnya.
"Memangnya saya tidak tahu kamu mencintai saya. Begitupun saya yang mencintai kamu. Tapi sikap dan penampilan kamu yang terus seperti ini. Membuat saya semakin murka." ucap Alvin.
"Kenapa baru sekarang cinta itu dikatakan? Setelah kejadian pria jahat tadi. Apa baru menyadari bahwa tidak ada yang melindungi saya seorangpun? Apa senang kalau saya dilecehkan depan banyak orang? Kenapa tadi hanya diam?" tanya Sarah menatapa Alvin.
"Karena saya harus menjaga perasaan dia. Dan asal kamu tahu. Dia tidak pernah berselingkuh. Tapi dia mundur karena dia tahu isi diary kamu. Dibuku itu tertulis cinta kamu lebih besar kepada saya dibanding kepadanya." ucap Alvin dan memecahkan gelas yang diambil dari meja Sarah. Andreas dan Kevin sangat terkejut. Karena baru kali ini Alvin marah sebesar itu.
"Alviiiiin. Jangan kasar-kasar. Maafkan aku. Aku tidak tahu." ucap Sarah dan memeluk Alvin karena ketakutan dan meneteskan air mata.
"Mungkin diary itu bohong. Maaf karena saya telah mengatakan cinta itu. Saya pikir akan ada waktu yang tepat setelah kalian putus. Nyatanya saya salah. Karena kamu masih mencintainya. Pergilah!" ucap Alvin melepaskan pelukan Sarah dan meninggalkannya.
"Alviin. Tidak. Aku aku sudah tidak mencintainya." ucap Sarah sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Namun ucapan itu tidak didengar Alvin. Karena dia langsung keluar.
__ADS_1
Andreas langsung menghampiri Sarah. Sedangkan Kevin mengejar Alvin.
Diluar.
"Ayo duduk!" ajak Andreas.
"Kenapa tidak mengejar Pak Alvin? Bagaimana kalau dia marah karena Pak Andreas masih disini?" tanya Sarah yang masih sesegukan.
"Jangan pikirkan itu! Anggap saja. Saya ini kakak kamu. Saya seperti kamu kok. Sudah tidak ada orang tua dari kecil. Hanya saja saya masih ada saudara." ucap Andreas menatap Sarah lenuh iba.
"Terimakasih. Tapi bagaimana pak Alvin tahu diary itu?" tanya Sarah sambil menyeka air matanya.
"Sebenarnya dia gak pernah cerita sama saya. Karena kita gak terlalu dekat. Hanya saja Kevin percaya sama saya. Dan dia mengatakan bahwa Ricard menceritakan semuanya kepada Pak Alvin. Diary kamu terjatuh dimobil Ricard dan kamu juga sering mengigau nama Pak Alvin. Itulah kenapa Ricard mundur. Sayangnya dia mundur dengan cara yang salah." ucap Andreas.
"Aku harus minta maaf sama Rei pak. Jujur aku sangat bingung. Aku sebenarnya cinta banget sama Rei. Tapi kita berbeda agama. Makanya aku berusaha untuk tidak terlalu mencintainya. Dan berusaha mencintai orang lain. Karena aku gak mau mengalami trauma yang kedua kalinya. Terlalu terpuruk saat terluka karena berpisah dengan orang yang dicintai. Dan itu semua berhasil saat aku bertemu sama Pak Alvin. Walaupun dia dingin tapi benar-benar sangat perhatian dan secara tidak langsung dia mendidik aku pak." ucap Sarah.
Diluar.
Alvin yang sedang menatap layar hpnya dan akan memesan taksi. Tiba-tiba dihentikan oleh kedatangan Kevin.
"Gak usah marah! Dia gadis yang masih polos. Saya yakin. Bukan karena Rei lho marah vin. Tapi karena pakaian dia yang seperti itu." ucap Kevin.
"Ya memang. Gue biarin dulu lah. Sampai dia benar-benar berfikir." ucap Alvin.
"Hem. Oke oke. Lho mau pulang ke rumah gue?" tanya Kevin.
"Dia siapa?" tanya Kevin menggoda Alvin.
"Ya gadis itulah. Lagi males nyebutin namanya." ucap Alvin.
"Hem. Jangan lama-lama marahnya! Kasihan. Dia kerja dikantor gue. Nanti jadi pikiran." ucap Kevin.
"Mana kunci mobil? Pusing gue." ucap Alvin.
"Ada siapa?" tanya Alvin.
"Dirumah gak ada orang. Mama masih diluar negri." ucap Kevin.
Kevin pun memberikan kunci mobilnya. Dan Alvin duluan pulang.
Dirumah Ricard.
Rei baru saja datang. Dia membuka pintu. Sontak Alex dan semua tamu yang ada dirumahnya terkejut. Karena tidak seperti biasanya Rei diam. Dia kalau datang selalu bertegur sapa. Namun kali ini. Dia langsung naik ke kamarnya. Tanpa mengatakan apapun. Alex yang melihatnya langsung buru-buru menemuinya.
Tuk tuk tuk
__ADS_1
Pintu kamar Rei diketuk oleh Alex.
Rei tidak merespon dia hanya membuka jas nya dan melemparnya sembarangan.
Tuk tuk tuk
Rei masih tidak membukanya
Tuk tuk tuk
"Rei ? Ini papa. Bukalah pintunya!" titah Alex.
" Kenapa sih pah? Aku mau sendiri dulu pah." ucap Rei.
"Buka!" titah Alex tegas.
Rei tidak menjawabnya. Dia langsung membuka kuncinya. Alex pun masuk sedangkan Rei hanya menatap layar hpnya dan tidak berkata apapun.
"Pergi kemana tadi?" tanya Alex.
"Acara teman." ucap Rei.
"Gak jadi ke Gereja?" tanya Alex.
"Gak jadi. Cape." ucap Rei.
"Apa disana ada Sarah?" tanya Alex sambil mendekati Rei.
"Ada. Papa gak usah membahasnya. Papa tahu aku masih sangat mencintainya. Dan aku merelakan dia untuk Alvin pah. Aku udah nurutin saran papa. Walaupun akhirnya ya kaya gini pah. Aku sangat terluka pah." ucap Rei yang semakin menunduk.
"Rei? Bukan hanya karena papa berhutag budi sama om Ali. Tapi karena kamu sama dia berbeda agama Rei. Sudahlah! Jangan terlalu dipikirkan. Masih banyak wanita. Fokus saja ke profesi kamu sekarang Rei." ucap Alex.
"Sudahlah pah. Kalaulah papa berbicara sebanyak buih dilautan. Itu tidak akan mengurangi rasa sakit aku saat ini pah. Udahlah." ucap Rei.
"Bagimana dengan kuliah kamu?" tanya Alex.
"Ya. Aku mau lanjut S3. Tapi gak di Jerman."ucap Rei.
"Apa maksud kamu?" tanya Alex lantang
"Pah? Tolonglah jangan paksa aku lagi. Aku udah mumet ikut aturan papa. Aku mau lanjut S3 di KSA (Kerajaan Saudi Arabia) pah." ucap Rei.
"Rei?" Alex belum selesai berbicara
"Pahhh? Ini hidup aku pah. Gak bisa disamain sama papa." ucap Rei tegas.
__ADS_1
Namun, Alex tidak menjawabnya. Dan menatap Rei dwngan tajam. Lalu langsung pergi keluar.