
Sinar matahari pagi menyilaukan seorang pria yang sedang tidur nyenyak dikamarnya. Karena merasa silau, pria itupun terbangun. Lalu beranjak ke kulkas untuk meminum sedikit air putih, dan jus jeruk karena sangat kehausan.
Ceklek
Pintu kamar dibuka oleh seorang wanita cantik. Rambutnya terurai rapi, bibirnya memakai lipblam merah, serta pakaian singlet panjang berwarna merah muda. Wanita itu menyapa dirinya dan langsung memeluknya dari belakang.
"Rei, kamu udah bangun?" tanya wanita itu dari belakang sambil melingkarkan tangan diperut Rei.
Rei spontan melihatnya. Saat dilihat, alangkah bahagianya dia. Wanita itu adalah Sarah yang sedang menjalin kasih denganya. Rei tidak menjawab pertanyaan Sarah. Dia langsung berbalik badan dan memeluk balik Sarah. Sarah pun memeluknya. Mereka saling menatap dan melempar senyum.
-Senyumnya dilempar gak tuh haha-
Karena pegal berdiri. Rei menggendong Sarah ke kasur. Lalu membaringkanya.
"Rei? Apa yang kamu lakukan?" tanya Sarah saat Rei membuka bajunya. Dan tidur dikasur sebelah Sarah. Tangan kanannya memegang tangan Sarah. Sedangkan tangan kirinya berusaha memiringkan tubuh Sarah agar berhadapan denganya. Saat mereka sudah berhadapan. Sarah memegang pundaknya. Rei memegang pundak Sarah. Merekapun pelukan. Saat mereka saling menatap. Rei melihat bibi Sarah yang sangat sexsi. Kemudian dia mendekatkan bibirnya. Sarah memeluk dengan sangat erat. Rei menutup matanya begitupun dengan Sarah.
Saat Rei akan mengambil First kiss pertama Sarah.
Tuk tuk tuk
Suara pintu diketuk
Rei kaget dan langsung membuka matanya. Alangkah terkejutnya dia. Karena yang dia peluk adalah guling.
_Waduh Rei. Hanya mimpi tu hahhaa._
Dia yang kaget langsung memukul guling tersebut dan melemparkanya.
"Ya ampun. Hanya mimpi. Padahal sedikit lagi." ucap Rei dalam hatinya dia kesal.
Tuk tuk tuk
Suara pintu masih diketuk
"Ya. Siapa?" tanya Rei sambil mengambil segelas air putih dan membuka gorden jendela. Yang ternyata cahaya matahari sudah naik. Sekitar pukul 9an.
"Ini bibi dhen. Pak Hendra nyuruh bibi bangunin adhen. Katanya hari ini mau ke Gereja dhen." ucap bi Ani ART nya pak Hendra.
"Ya. Saya udah bangun bi. Makasih." ucap Rei sambil mencari Hpnya.
Di Jakarta
Terlihat Sarah yang sedang berada dimeja riasnya. Dia baru selesai menyisir rambut, sedikit memakai bedak dan lifblam.
"Uh. Luamayan juga bersihin tu kolam renang. Badan pada pegel. Mungkin karena sudah lama tidak berolahraga." ucapnya.
Dret dreet dreet
Panggil masuk dari Reicard
__ADS_1
"Oh Rei. Rindu sekali aku" ucapnya sambil mengangkat telponya.
"Hallo Rei. Apa kamu baru bangun?" tanya Sarah.
"Hemm. Ya." jawab Rei singkat.
"Kenapa?" tanya Sarah.
"Nggak. Hanya rindu." ucap Rei.
"Terus?" tanya Sarah. Padahal, sendirinya juga rindu. Tapi tidak mah jujur karena gengsi.
"Pulang dari Gereja saya langsung kesana." ucap Rei.
Sarah yang mendengar kata Gereja merasa sedih. Karena selalu teringat akan dirinya dengan Rei yang berbeda agama.
"Apa urusan di SMA udah selesai?" tanya Sarah.
"Udah semua. Dua hari kemarin diurusin." ucap Rei.
"Yasudah. Mandilah! Aku mau ke pasar dulu." ucap Sarah.
"Sama siapa?" tanya Sarah.
"Ya sama bibi Ana lah. Hayo. Apa mau su'uzan?" Sambil tersenyum melihat dirinya dikaca.
"Pasti. Ini kan Jakarta." ucap Sarah.
Rei hanya menaikan alis dan mematikan telponnya.
Truut truut truut
Suara telpon rumah berbunyi
"Hallo?" Angkat bi Ana yang sedang bersiap-siap untuk berbelanja ke Pasar.
"Bi. Semalam katanya mau ke Pasar, jadi gak?" tanya Indah yang baru saja selesai joging bersama teman-temanya.
"Oh iya nyonya jadi. Ini saya mau berangkat sama Sarah." ucap Bi Ana.
"Oh yaudah bi. Bi, nanti tolong bilangin Sarah ya. Sore mau diajak jalan-jalan. Tapi jangan bilang Alvin ikut ya." ucap Indah.
"Oh iya siap-siap nyonya." ucap Bi Ana.
"Yaudah. Saya masih ngobrol nih. Ada Jeng Sonia juga mama nya Kevin. Udah ya bi." ucap Indah sambil mematikan telponnya.
Ditempat olahraga
Indah yang baru saja mematikan telpon sedang berkumpul bersama teman-temanya.
__ADS_1
"Jeng? Emang Sarah siapa? Apa calonnya Alvin?" tanya Sonia mamanya Kevin.
"Belum sih. Tapi semoga deh." ucap Indah sambil tersenyum penuh pengharapan.
"Kenal dimana jeng?" tanya Sonia penasaran.
Indah pun menceritakan semuanya. Indah dan Sonia sangat sahabatan. Sama-sama baik dan tajir. Hanya saja, Sonia terlalu fokus mengurusi bisnisnya. Sehingga, Kevin merasakan kurang kasih sayang dari mamanya.
"Oh gitu ceritanya. Gak apa-apa ya jeng ke gadis Desa juga, kalau Alvin nya mau. Terus Sarah nya juga mau. Asal sopan aja jeng anaknya. Jangan salah pilih pokoknya jeng. Harus belajar dari anak saya. Kasihan sebenarnya. Belum ada dua tahu menikah sudah pisah. Mau saya jodohkan lagi, dia nya gak mau. Beberapa kali saya coba tuh. Tetap gak mau. Yaudahlah sekarang terserah dia nya aja. Mungkin masih trauma apa gimana." ucap Sonia yang kelihatanya bersedih.
"Sut. Udah jeng. Yang udah-udah. Ini juga saya beum pasti jeng. Kan tahu sendiri jeng Alvin susah banget dekat sama perempuan." ucap Indah.
Merekapun melanjutkan mengobrol, bersama teman-teman yang lainya juga.
Di Pasar
Suara mobil angkot yang penuh dengan penumpang, membuat Sarah tersenyum bahagia dan sumeringah.
Tukang angkot langganan bi Ana tiba-tiba bertanya.
"Bu, tumben nih berdua?" tanya tukang angkot.
"Iya. Ini neng Sarah namanya bang, baru datang hari rabu kemarin." ucap bi Ana.
"Oooh. Emang kampungnya dimana neng? Sekampung sama bu Ana apa gimana? Kesini mau ngelamar kerja apa sekolah" tanya kembali tukang angkot sambil melihat kaca spion yang mengarah ke belakang.
"Yaelah bang. Itu nanya apa pegumuman panjang amat." ujar Ibu-ibu yang duduk didepan sebelahnya.
"Yah si ibu, namanya juga penasaran bu hihi." ucap tukang angkot.
"Iya saya sekampung pak sama bibi. Kesini saya kerja dulu. Kalau udah kumpul uangnya, insya allah mau kuliah." ucap Sarah sambil menebarkan senyumnya yang indah.
"Aduh neng. Suaranya lembut banget. Emang kalau orang sunda lembutnya tak ada obat ya." ucap Tukang angkot sambil memarkirkan mobilnya. Karna sudah sampai pasar.
"Yeh. Mulai-mulai nih." ucap si ibu yang tadi. Sarah hanya tersenyum. Sedangkan bi Ana sedikit tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian mereka pun turun dari angkot.
"Neng. Ini namanya Pasar Modern Blok M. Nanti kita belanja banyak disini." ucap Bi Ana sambil mereka berjalan menuju tempat sayuran.
"Oh ini ya bi. Besar ya bi. Tapi bi, kalau belanja banyak terus sebelum aku kesini apa bibi gak repot bawanya?" tanya Sarah sambil melirik ke kanan dan ke kiri.
"Nggaklah. Kan dijemput asistantnya tuan neng. Namanya Andreas. Tampan loh neng, cuma pake kacamata. Dia orang Bali." ucap Bi Ana yang tiba-tiba malah berhenti ditukang cendol nangka kuning.
"Massya Allah bi." ucap Sarah sambil tersenyum.
"Iya. Oh iya neng. Sini duduk dulu. Neng, belanja kaya gini tuh. Waktu yang bibi tunggu-tunggu loh. Soalnya bibi bisa ketemu banyak orang. Enak neng jalan-jalan hihi." ucap bi Ana yang sudah memesan es cendol nangkanya.
Mereka lanjut meminum es cendol yang sangat segar. Karena cuaca sangat panas.
__ADS_1