
Ilustrasi Rumah Alvin. Di Jakarta Selatan
Hari minggu yang cerah dengan hangatnya matahari yang baru naik. Menyebabkan Kevin yang masih tidur di kamar Alvin semakin terlelap. Wajahnya yang tampan, bibir nya yang merah muda, benar-benar membuktikan perkataan Bi Ana dan Mama Indah. Bahwa dirinya bagaikan adik kakak dengan Alvin. Hanya saja, Alvin yang cool menyebabkan dirinya terlihat berbeda dan disegani. Sedangkan Kevin yang ramah, mudah disukai banyak orang.
Trut Truuut Ttruut
Suara Telpon rumah berbunyi dimeja Alvin, malah membangunkanya.
Matanya yang masih sepet, dengan kepalanya yang masih pusing menyebabkan badanya terasa berat.
Truut Truuut Truuut
Suara telpon masih berbunyi.
"Duh. Lagi enak-enak tidur huuhh. Siapa sih?" Kevin memaksakan diri untuk mengangkat telpon yang berada 3 meter dari kasur. Dia berjalan masih sempoyongan, lalu menjawab telponya.
"Ya hallo?" sapa Kevin.
Tidak ada jawaban
"Hallo? " sapa kevin kedua kali, sambil melihat telponnya.
"Apa semalam gak pasang alarm?" tanya Alvin kesal.
Di RS Alvin baru saja cuci muka, dengan gaya rambut yang diarahkan kebelakang membuat wajah tampanya semakin bersinar.
"Jadi lho yang ganggu tidur gue?"
"Bangun! Hari minggu bukan waktu untuk santay, kalau lho banyak kerjaan"
"Hmmm. Kapan pulang? "
"Jam 10"
"Tante gimana?
"Belum bisa pulang"
"Gue kerja dulu. Nanti kalau lho udah mau berangkat ke Bandara, gue ke RS."
"kabarin nyokap lho."
"Dia gak peduli sama gue"
"Bilang nyokap gue di RS" titah Alvin.
"Ohh Oke oke."
Telpon dimatikan.
Kevin duduk dikursi Alvin sambil menunduk, menghilangkan rasa pusing dikepalanya sambil minum segelas air putih. Setelah itu, dia kembali menelpon. Kali ini dia nelpon Bi Ana.
Truut Truut Truut
Telpon berdering
Bi Ana yang lagi bikin sarapan untuk Kevin, buru-buru mengangkatnya.
"Iya dhen? "
"Selamat pagi bi! "
"Iya dhen. Selamat pagi. Tumben udah bangun dhen? "
"Hmm Dibangunin Alvin bi, saya lagi banyak kerjaan."
"Oh gitu"
"Iya bi. Bi, tolong bikinin saya susu madu hangat ya!"
"Oh iya dhen, ini sekalian bibi bikinin roti nya ya! "
"Terimakasih bi! Bentar lagi saya turun"
"Iya dhen"
Telpon dimatikan.
Alvin langsung, ke arah sofa untuk mengecek laptopnya. Sambil dia menunggu laptopnya hidup, dia mengecek handphone nya. Dia iseng-iseng lihat status wa. Dan terlihat status dari "My Mother"
Dia mengupload suasana makan malam, dengan seorang gadis yang akan dijodohkan denganya. Bukan penasaran, tapi membuat dirinya malah berdecih.
__ADS_1
"Gak ada bosannya" ucap Kevin yang sangat kesal.
Namun, dia ingt amanah sahabatnya Alvin. Kalau dia harus memberitahukan kabar tante Indah. Tidak ditelpon, karena Kevin tahu kalau jam segini mama nya sibuk bersiap-siap ketemu klien nya.
"Mama. Kevin minta maaf ya.
Mama. Tante Indah lagi dirawat di RS. Tolong nanti mama kesana. Sempetin ya ma! Alamat rs nya nanti kevin sharlok. Terimakasih ma."
Walaupun kevin selalu kesal sama mama nya, tapi kasih sayang kepada mama dan papa nya tidak pernah berkurang.
Di apartemen Alvin
Andreas, ya dialah asistan dari Alvin. Umurnya yang hanya terpaut 1 tahun denganya membuat dia merasa Alvin adalah sahabatnya. Ali Wijaya, papa nya Alvin yang memilih dia dan percaya kepadanya untuk selalu menemani Anak tunggalnya. Tadinya Andreas adalah seorang karyawan biasa, yang diposisikan setara dengan Alvin. Tapi, karena giatnya dan prestasinya dia dalam bekerja membuat papa nya Alvin percaya kepadanya.
Parasnya hampir sama dengan Alvin. Hanya saja dia berkacamata. Sedangkan Alvin hanya sesekali saja memakai kacamata nya.
Celana, dasi, rompi berwarna abu yang disertakan dengan kemeja biru muda membuat dirinya terlihat sangat gagah, dan terlihat sekali bahwa dirinya orang Bali. Andreas saat itu langsung bergegas pergi dari Apartement nya untuk mengambil mobil ke rumah Alvin. Dan langsung ke kantor mengambil berkas, sebelum dirinya harus menjemput Alvin ke rumah sakit.
Dirumah sakit
Alvin yang baru saja keluar usai nelpon Kevin, masuk ke dalam. Saat pintu dibuka, mama nya yang sudah bangun bertanya.
"Vin? Mama udah baikan. Udah gak pusing lagi. Apa kata Dokter mama bisa pulang hari ini?"
"Besok ma" jawab Alvin yang baru saja menutup pintu.
"Apa kamu jadi berangkat?"
"Jadi ma. Andreas mau jemput."
"Bukanya mobil kamu dirumah?"
"Ya dia kerumah dulu ma"
"Hmm. Apa mama disini sendiri?"
"Nanti Kevin kesini."
"Vin, dia kan sibuk kerja. Kalau dia cape gimana?"
"Kak Aira juga udah aku telpon ma."
"Hmm. Yaudah. Kamu udah sarapan?"
"Belum. Nanti aja dirumah mah"
"Yaudah. Mama telpon aku nanti ya!" Alvin berlalu keluar.
"Hemm"
Saat Alvin keluar, mama nya bergumam.
"Pah? Aku tidak bisa berandai-andai untuk kamu ada disini sekarang. Aku sangat kasihan melihat anak tunggal kita. Dia mulai sibuk sekarang. Dia juga urusin aku pah disini. Mulai hari ini aku akan sangat berjuang, agar aku bangun untuk ceria lagi. Bangun tanpa beban pah. Aku gak mau membuat pusing Alvin lagi" Senyuman yang indah terlukis diwajahnya. Saat laptop sudah nyala, Kevin langsung menyimpan handphone nya dan langsung memeriksa kerjaanya. Benar saja sangat bankyak sekali gmail yang masuk, terutama pesan dari PT yang baru bergabung. Baru sebentar dia melihatnya, kepalanya sudah terasa pusing. Dia pun mengambil kembali handphone nya dan menghubungi hrd.
Trut truut truut
"Hallo. Selamat siang pak?"
"Apa sudah dapat orang baru?"
"Udah ada pak. Mau saya interview dulu."
"Ada berapa?"
"Lebih dari 10 pak yang ngelamar"
"Kapan interview nya?"
"Hari kamis spertinya pak, ini saya lagi ngerjain tugas yang urgent dulu selesai itu, saya juga harus melihat cv yang akan diinterview juga."
"Kerja yang bagus. Kalau karyawan yang baru nanti kerjanya oke, gaji kamu saya potong"
"Maaf pak, kenapa dipotong?"
"Bercanda. Gaji kamu saya naikan"
"Serius nih pak?"
"Saya tidak pernah bercanda dalam hal ini"
"Terimakasih banyak pak"
"Ya."
__ADS_1
Telpon dimatikan.
Didapur
Bi Ana baru akan menyiapkan susu madu, karena baru selesai membuat roti bakar. Saat dia akan mengambil madu dikulkas, tiba-tiba telpon rumah berbunyi. Bi ana bergegas mengangkatnya.
"Hallo. Selamat pagi!"
"Ini saya bi" ucap Alvin.
"Oh iya tuan. Kenapa?"
"Masakin saya ikan pepes bakar sama sambal matah. Bikinya yang banyak ya!"
"Iya siap tuan"
"Bibi bisa gak masaknya?"
"Bisa atuh, bibi dikampung sering bikin tuan"
"Kalau sambal matah ?"
"Oh yang matah kiri matah kanan matah-matah ya tuan?"
"Hemm. Saya bukan Kevin bi. Jangan bercanda bi!" baru kali ini Alvin tertawa.
"Eh hehe Bi ana malu maaf tuan. Bibi bisa kok bikinya"
"Andreas udah kesana belum bi?"
"Belum tuan."
"Suruh kabarin saya kalau udah dirumah!" titah Alvin yang sedang minum susu hangat di kantin RS.
"Bi? Bi?" panggil Kevin yang masih menuruni tangga.
"Mana susu madu nya?"
"Iya iya tunggu dhen."
"Kevin baru turun bi?" tanya Alvin
"Iya tuan"
"Haduuuhhh. Suruh mandi bi!"
Telpon dimatikan.
"Bii mana susu nya?" minta kevin.
"Oh iya dhen. Ini tadi bibi mau bikinin dhen, tuan keburu nelpon"
"Lagi ngapaim dia?"
"Kurang tahu dhen, cuma nyuruh bibi masak ikan sama sambal matah yang banyak katanya."
"Hmmm doyan banget ikan"
"Apa dhen kevin gak suka ikan?" tanya Bi Ana sambil membuat susu madu dan menyuguhkan Roti bakar di meja makan.
"Ikan mentah yang saya gak suka"
"Ah dhen kevin, bercanda mulu"
"Iya bi, apalagi ikan muzair yang montok. Enak banget itu bi" Sambil memakan rotinya.
"Banyak di kampung bibi tuan"
"Kampung nya bagus gak bi?"
"Ya sebagus-bagus kampung seperti itu lah dhen. Enak, sejuk juga."
"Banyak kebun teh gak?"
"Gak ada dhen. Matapencaharian dikampung bibi petani padi, cabai, sayuran lah dhen" Sambil menyuguhkan susu madu yang sudah jadi.
"Hmm enak juga kyanya. Kalau bangunan baru udah jadi, pengenlah bi main kesana."
"Iya dhen boleh banget dhen. Oh iya dhen, tadi tuan Alvin nyuruh dhen kevin mandi"
"Dia nyuruh saya mandi? Kapan bi?"
"Waktu nelpon tadi dhen"
__ADS_1
"Hmmm."
Saat mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba bel berbunyi.