Jodohku Sang Pewaris

Jodohku Sang Pewaris
Alvin Bertemu Sarah


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 12: 15 WIB. Terlihat Alvin yang sedang fokus melihat handphonenya, diteras Mesjid besar daerah Jakarta. Rambunya yang basah dan wajahnya yang terlihat segar, menandakan bahwa dia telah mengambil wudhu dan selesai melaksanakan sholat dzuhur. Alvin duduk menyender ke tiang mesjid, tangan kirinya memegang jas berwarna navy. Sedangkan ditangan kanannya, terlihat jam tangan mewah yang tidak tertutupi oleh kemeja panjangnya yang berwarna biru muda.


Truuut truuut truuut


Alvin menelpon Andreas.


"Hallo pak?" Jawab Andreas.


"Udah jalan belum? Saya diluar udah selesai." tanya Alvin.


"Belum pak. Ini saya masih dikantor. 15 menit lagi sampe kesana kayanya. Soalnya tadi macet pak." ucap Andreas.


"Tiket keberangkatan jam berapa?." tanya Alvin.


"Jam tiga sore pak." jawab Andreas.


"Yaudah." Alvin mematikan telponnya.


Beralih ke Sarah dan Rei.


Rei menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Lalu, dia membangunkan Sarah yang ketiduran dengan menepuk pelan pundaknya. Sarah terbangun dan merasa pusing. Rei memberikanya air minum, lalu Sarah meminumnya sambil melihat ke arah depan jalanan.


"Apa kita sudah sampe?" tanya Sarah.


"Ya ini Jakarta." jawab Rei yang sedang melihat handphonenya.


"Terus mana kampus kamu?" tanya Sarah.


"Masih 10 menit dari sini. Kita makan dulu di restoran ya." ajak Rei.


"Gak usah. Kamu aja yang makan, aku belum lapar." Sambil melihat alamat yang diberikan Bi Ana.


"Makan dulu aja ayo. Jam satu saya ada meeting." ucap Rei sambil melajukan mobilnya kembali.


"Bukanya kalau makan di Restoran itu mahal ya? Apalagi ini Jakarta." tanya Sarah. Rei hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Sarah.


"Kenapa kamu gak jawab?" tanya Sarah dengan kesal.


"Memangnya kalau mahal kenapa?" Rei tersenyum.


"Aku cuma bawa uang 500 ribu, ini juga sisa kemarin." ucap Sarah.


"Saya gak minta kamu yang bayarin." Sambil menatap Sarah.


"Hmm. Kok mobilnya berhenti?" tanya Sarah.


"Sarah bawel juga ya." ucap Rei sambil keluar dan membuka pintu mobil Sarah.


"Ayo keluar. Ini udah sampe Restoran." ajak Rei. Sarah tidak membalasnya, dia langsung keluar.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Rei.


"Mau ke Restoran kan?" tanya Sarah.


"Buka sweeter kamu. Cuacanya panas." titah Rei. Sarah pun membuka sweeternya dan meletakanya di mobil.


Saat mereka masuk, orang-orang yang sedang makan, spontan melihat mereka berdua. Mereka pun duduk dan memesan makanan.


Di Mesjid, Alvin mulai pegal menunggu Andreas yang tak kunjung datang. Karena dia merasa haus dan perutnya lapar, akhirnya dia jalan kaki sambil memakai kacamata hitamnya. Karena cuaca panas, jas yang tadi dibuka hanya ditaro dilengan kirinya. Dia pergi ke Restoran yang ada disebrang.


Di Restorant, terlihat Sarah dan Rei yang sedang makan. Saat Alvin masuk kesana, dia pun menjadi pusat perhatian. Karena tahu Alvin seorang Putra CEO dan terkenal. Pelayan langsung buru-buru mempersilahkannya duduk dimeja paling depan, dan memberikan menu yang disediakanya. Sarah diam-diam mencuri pandang, lalu memutarkan bola matanya. "Huh. Apa dia seistimewa itu disini? Jangan karena kaya dan tampan, seharusnya pelayan disini memberikan perhatian sama seperti itu ke Pelanggan." ucap Sarah dalam hatinya. Rei yang sedang makan, sambil melihat handphone ngasih tahu ke Sarah. Kalau dia akan pergi ke kampus dulu untuk meeting. Dia ngajak Sarah untuk ikut ke kampus nya. Karena alamat yang Sarah kasih, udah dicek oleh Rei. Kira-kira hampir setengah jam dari Restoran tersebut.


"Maaf Rei, aku gak mau ikut. Nunggu aja di Mesjid yang tadi aku lihat itu, yang gede itu loh yang disebrang?" pinta Sarah.


"Yaudah saya tidak bisa memaksa. Asal kamu jangan kemana-mana, soalnya takut kesasar."


Sarah yang mendengarnya hanya mengangguk.


"Kamu makan jangan sambil ngelihatin saya, jadinya lama. Saya udah ditunggu nih." ucap Rei kesel.


"Lagi kamu dari tadi fokus mulu ke hpnya." Sarah cemberut.


"Saya udah ditelponin terus. Mereka takut saya telat datang. Kamu mau saya anterin ke mesjid apa nggak?" ucap Rei.


"Nggak. Aku mau kelarin dulu makan. Abis itu mau ke Mesjid ya." ucap Sarah.


"Yaudah. Nih atm, pin nya udah saya kirim lewat chat ya. Makanan biar saya yang bayar. Udah ya." ucap Rei sambil memakai jas nya yang tadi dibuka.


"Untuk pegangan kamu." ucap Rei sambil bergegas pergi buru-buru.


"Kamu hati-hati ya!" ucap Sarah sambil tersenyum manis.


Rei yang buru-buru pergi tidak menjawabnya, karena dia harus ke kasir dulu membayar makanan.


"Hmm. Tampan, tajir lagi. Aduh, aku jadi malu. Nasib-nasib." Sambil menepuk jidatnya dan menunduk. Lalu melanjutkan makanan.


Dreeet dreeet


"Hallo?" sapa Alvin


"Vin, kamu dimana?" tanya Aira yang nelpon.


"Di Restorant favorit, kenapa?" tanya Alvin.


"Loh. Kenapa ada disana? Tante ngajakin aku kesana tahu vin. Tapi ini masih dirumah." ucap Aira.


Alvin kaget dan langsung mematikan telponnya. Dia buru-buru akan pergi, karena Indah tahunya, Alvin masih di Kalimantan. Dia buru-buru menghabiskan makanan yang baru dipesannya. Sedangkan Sarah, dia udah selesai makan dan akan pergi ke Mesjid yang ada disebrang. Untuk bisa ke Mesjid itu, tidak ada jalur lain kecuali jalan diatas khusus untuk nyebrang. Sarah celingak celinguk, "Ya ampun. Mana bisa aku lewatin jalan itu, ngeri sekali. Aku kan takut sekali ketinggian. Bagaimana ini? Apa aku bisa menyebranginya? Kenapa kalau di Kota, untuk nyebrang jalannya harus diatas?" ucap Sarah dalam hatinya, sambil melihat ke jalan penyebrangan. Setelah beberapa menit, dia memutuskan untuk mencoba melewati jalan tersebut. Pertama dia lancar berjalan, tapi saat ditengah-tengah dia tidak sengaja melihat kebawah. Alangkah kagetnya dia, diapun menjerit dan langsung berjongkok dengan jantungnya yang berdetak sangat kencang. "Tolong! Tolong! Aku takut". Sayang sekali, saat itu dijalan atas tidak ada orang yang akan menyebrang. Namun saat sudah beberapa menit Sarah sedang menangis karena takut, ada suara laki-laki dari belakang.


Ilustrasi Foto Alvin dan sarah di tangga tempat penyebrangan

__ADS_1



"Maaf. Apa yang kamu lakukan disana? Saya mau lewat." ucap Alvin yang baru saja naik kesana.


"Tidaaaak. Tolong, saya takut ketinggian." ucap Sarah sambil menangis sesegukan.


"Kalau takut kenapa ada disini?" tanya Alvin.


"Tadi saya mencobanya, tidak ada jalan lain untuk nyebrang. Saya mau pergi ke Mesjid besar itu." kata Sarah.


Alvin yang masih berdiri disana hanya tersenyum. "Baru kali ini, ada wanita yang bisa bikin saya hampir tertawa lepas" ucap Alvin dalam hatinya. Saat itu Alvin memakai jas nya, dan mendekati Sarah. "Apa boleh saya membantu kamu? Tenang saja, saya tidak akan menjahati kamu." tanya Alvin.


"Boleh deh untuk kali ini. Ini sangat darurat." jawab Sarah yang masih sesegukan.


"Ayo berdiri." ajak Alvin.


"Tidak bisa. Saya takut melihat ke bawah. Jantung saya berdetak kencang, saya sangat takut." ucap Sarah.


Tanpa pikir panjang, Alvin pun langsung menggendong Sarah. Ketika Sarah merasa tenang, dia mencoba membuka matanya. Dan dia sangat kaget, mulutnya tidak bisa berkata apa-apa. Ternyata, yang membantunya adalah laki-laki yang diperhatikanya tadi di Restorant.


"Ya Allah. Maafkan aku, kenapa aku tadi bisa-bisanya bersikap seperti itu? Ternyata dia laki-laki penolong, parasnya pun sangat berkharisma sama persis seperti Rei." ucap Sarah dalam hatinya sambil menatap Alvin.


"Jangan tatap Saya seperti itu. Saya gak suka." ucap Alvin sambil menurunkan Sarah, karena mereka sudah sampai bawah.


"Maafkan saya. Saya hanya mengingat kamu, sepertinya tadi saya lihat kamu di Restorant. Kamu makan dimeja paling depan kan? Saya tadi makan dimeja tengah" ucap Sarah.


"Ya. Kamu darimana? Kenapa bisa seperti tadi?" tanya Alvin. Mereka jalan bareng berdua menuju Mesjid.


"Saya dari kampung, mau nyari kerja disini. Ini saya lagi cari alamat." ucap Sarah.


"Boleh saya lihat." pinta Alvin.


Sarah memperlihatkan alamatnya di handphone. Saat Alvin melihatnya, spontan dia kaget, karena itu alamat rumahnya.


"Itu alamat rumah saya." ucap Alvin.


Sarah yang mendengarnya sangat kaget.


"Memangnya kamu siapa?" tanya Sarah.


"Alvin Wijaya." jawab Alvin.


Sarah yang mendengarnya semakin kaget.


"Massya Allah. Nama saya Sarah, pak." Sambil menghentikan kaki nya.


"Ya. Maaf, saya tidak bisa nganterin kamu. Kalau mau ke rumah pakai taksi saja." ucap Alvin.


"Saya tidak ada aplikasinya pak."

__ADS_1


Alvin pun memesankan taksi untuk Sarah. Tidak lupa, dia melarang Sarah menceritakan kepada Mama nya jika Sarah bertemu sama Alvin. Karena, mama nya tidak tahu kalau Alvin ada di Jakarta. Sarah pun pergi ke rumah Alvin, menggunakan taksi. Tidak lupa dia sangat bersyukur.


"Ya Allah. Terimakasih untuk semuanya, ini seperti mimpi. Engkau memudahkan semuanya. Alvin? Hmm. Nama yang bagus. Sedikit jutek sih, tapi dia laki-laki berhati baik." ucap Sarah sambil menatap kaca mobil.


__ADS_2